Wartawan Kehormatan

2026.05.20

Membaca artikel ini dalam bahasa yang lain
  • 한국어
  • English
  • 日本語
  • 中文
  • العربية
  • Español
  • Français
  • Deutsch
  • Pусский
  • Tiếng Việt
  • Indonesian

Penulis: Wartawan Kehormatan Hurum Maqshuro dari Indonesia
Foto: Hurum Maqshuro

Festival Pasir Haeundae merupakan festival tahunan yang kali ini diselenggarakan pada tanggal 15-18 Mei 206 di Pantai Haeundae, Haeundae-gu, Kota Busan.

Festival Pasir Haeundae merupakan festival tahunan yang kali ini diselenggarakan pada tanggal 15-18 Mei 206 di Pantai Haeundae, Haeundae-gu, Kota Busan.


Pemerintah Kota Busan kembali menyelenggarakan Festival Pasir Haeundae pada tanggal 15-18 Mei 2026 di Pantai Haeundae, Haeundae-gu, Kota Busan. Festival tahunan yang diselenggarakan tahunan tersebut kali ini mengusung tema "Perjalanan Waktu Busan melalui Pasir."

Sebanyak 11 orang pematung pasir dari Korea, Tiongkok, Rusia, Kanada, Prancis, dan Taiwan menampilkan karya mereka di Festival Pasir Haeundae. Penulis mengunjungi festival tepat di hari pembukaan, yaitu di tanggal 15 Mei 2026.

Setiap patung pasir menghadirkan berbagai sisi khas Busan, mulai dari sejarah hingga budaya kotanya. Melalui karya-karya berikut, pengunjung dapat melihat berbagai ikon dan cerita khas Busan yang diwujudkan dalam bentuk patung pasir.

Patung-patung pasir yang dibuat dan dipamerkan saat festival, dapat dinikmati oleh pengunjung hingga tanggal 14 Juni 2026.

Patung pasir yang menggambarkan tim bisbol kebanggaan Busan, Lotte Giants.

Patung pasir yang menggambarkan tim bisbol kebanggaan Busan, Lotte Giants.


Dada Fang asal Taiwan menghadirkan budaya sorak khas bisbol Busan yang begitu meriah dan identik dengan Stadion Bisbol Sajik. Patung pasir itu menampilkan para pemain legendaris yang menjadi simbol bisbol Busan, seperti Choi Dong-won yang dijuluki "Lengan Besi" dan Lee Dae-ho yang dikenal sebagai "Pencetak Hit Pembersih Joseon."

Patung pasir tersebut memperlihatkan besarnya kecintaan warga Busan terhadap bisbol dan kuatnya rasa kebersamaan di antara para penggemarnya. Patung tersebut bahkan dilengkapi dengan sorakan khas "Ma! Ajura~" yang begitu identik dengan budaya bisbol Busan dan menunjukkan kedekatan warga dengan tim kebanggaan mereka.

Ungkapan "Ma! Ajura~" berasal dari dialek khas Busan dan Gyeongsang. Kata "Ma!" digunakan sebagai panggilan akrab dengan nuansa tegas, mirip seperti "He!" sementara "Ajura" bermakna, "Berikan ke anak-anak."

Para penggemar bisbol di Busan memiliki kebiasaan untuk memberikan bola kepada anak-anak apabila ada bola bisbol yang jatuh di ke bagian penonton saat pertandingan.

Train to Busan adalah film zombie Korea tahun 2016 yang mendapat pengakuan internasional.

Train to Busan adalah film zombie Korea tahun 2016 yang mendapat pengakuan internasional.


Patung pasir bertema "Menuju Festival Film Internasional Busan" menampilkan salah satu film Korea paling popular, yaitu Train to Busan.

Wang Jie dari Tiongkok melalui karyanya menyampaikan bahwa pada tahun 2009 Busan menjadi kota pertama di Asia yang dinobatkan sebagai Kota Film Kreatif UNESCO.

Setiap musim gugur, tak terhitung banyaknya pembuat film dan pencinta film berkumpul di Busan untuk menghadiri Festival Film Internasional Busan sehingga membuat Busan bersinar sebagai pusat sinema global.

Karya yang menggambarkan kawasan Sanbokdoro dan sosok Pangeran Kecil.

Karya yang menggambarkan kawasan Sanbokdoro dan sosok Pangeran Kecil.


Karya dari seniman Kanada bernama Abram Waterman menggambarkan kawasan Sanbokdoro di Busan yang dipenuhi gang-gang sempit dan rumah-rumah kecil, tetapi menjadi tempat kehidupan dan harapan para penduduk perlahan tumbuh dari generasi ke generasi.

Kini Sanbokdoro dikenal dengan pemandangannya yang unik serta cerita-cerita hangat yang membuat banyak wisatawan datang berkunjung.

Melalui sosok Pangeran Kecil yang duduk memandang kota, karya tersebut menghadirkan simbol harapan dan kehangatan yang terus hidup di tengah sudut-sudut sederhana Busan.

War Time Capital menggambarkan Busan sebagai kota yang pernah menjadi ibu kota sementara Korea saat Perang Korea (1950-1953).

"War Time Capital" menggambarkan Busan sebagai kota yang pernah menjadi ibu kota sementara Korea saat Perang Korea (1950-1953).


Karya bertema "War Time Capital" oleh seniman Melineige Beauregard yang berasal dari Kanada menggambarkan Busan sebagai kota yang pernah menjadi ibu kota sementara Korea saat Perang Korea (1950-1953) berlangsung.

Karya tersebut menggambarkan kesedihan dan ketangguhan Busan yang berfungsi sebagai ibu kota sementara Republik Korea selama 1.023 hari selama Perang Korea dan merangkul pengungsi yang tak terhitung jumlahnya.

Karya itu secara nyata menggambarkan pemandangan gerakan pengungsi yang putus asa dan tekad orang-orang yang berjuang untuk bertahan hidup meskipun dalam kondisi yang keras.

Tongsinsa adalah misi persahabatan resmi yang dikirim oleh Dinasti Joseon ke pemerintahan Keshogunan Tokugawa di Jepang.

Tongsinsa adalah misi persahabatan resmi yang dikirim oleh Dinasti Joseon ke pemerintahan Keshogunan Tokugawa di Jepang.


"Busan Tongsinsa Envoys" karya Kim Gil-man menggambarkan Busan sebagai titik keberangkatan bagi misi diplomatik Joseon Tongsinsa ke Jepang selama Dinasti Joseon.

Sebagai kota pelabuhan yang menjadi gerbang hubungan diplomatik dan pertukaran budaya, Busan memiliki peran penting dalam mempererat hubungan antara Korea dan Jepang.

Pada tahun 2017, Joseon Tongsinsa terdaftar dalam Memori Dunia UNESCO sebagai bentuk pengakuan atas nilainya sebagai simbol perdamaian dan pertukaran budaya.

Kim menyampaikan bahwa melalui patung ini, para pengunjung dapat merenungkan peran bersejarah Busan sebagai gerbang diplomatik internasional Korea berabad-abad yang lalu.

260520_Busan_7

Patung pasir yang menggambarkan budaya jjimjilbang atau pemandian air panas yang trerkenal di Busan.


Yang terakhir menarik perhatian penulis adalah patung betema “Hari Pergi ke Pemandian” karya Melineige Beauregard dari Kanada.

Karya tersebut menggambarkan budaya khas Haeundae, tempat warga bisa menikmati pantai dan pemandian air panas sekaligus. Sosok keluarga dengan handuk berbentuk kepala domba yang sedang menikmati berendam bersama menghadirkan suasana hangat dan menenangkan.

Melalui karya itu, pengunjung diajak merasakan pesona pemandian air panas Busan yang telah dicintai sejak masa Dinasti Silla (57 SM s/d 935 M) hingga sekarang sebagai tempat untuk melepas penat dan beristirahat sejenak dari hiruk pikuk sehari-hari.

Setelah melihat berbagai karya patung pasir di festival ini, penulis merasa bahwa Busan memang memiliki banyak sisi yang menarik untuk dikenali lebih jauh. Tidak hanya dikenal sebagai kota pantai, Busan juga memiliki sejarah, budaya, dan kehidupan sehari-hari yang kuat dan dekat dengan masyarakatnya.

Melalui Festival Pasir Busan, pengunjung bisa melihat bagaimana berbagai cerita tentang Busan dihadirkan dengan cara yang lebih santai dan mudah dinikmati, sehingga membuat kota ini terasa semakin menarik untuk terus dikunjungi.


margareth@korea.kr

*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Program Wartawan Kehormatan dijalankan oleh Korea.net di bawah Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata. Para anggotanya merupakan sukarelawan yang memperkenalkan berbagai hal tentang Korea kepada dunia dengan berperan sebagai jembatan budaya.

konten yang terkait