Penulis: Wartawan Kehormatan Maulia Resta Mardaningtias dari Indonesia
Korean Cultural Center Indonesia (KCCI) menyelenggarakan gelar wicara bertajuk "K-Sports Talkshow: Sistem Pengembangan Sepak Bola Korea" pada Senin (18/05/2026). Acara ini menghadirkan Firzie Idris, Senior Multiplatform Sports Journalist di Indonesia, yang berbagi pengamatan mengenai sistem persepakbolaan Korea dan Indonesia.
Gelar wicara tentang sistem pengembangan sepak bola Korea diadakan di Aula Multifungsi KCCI pada Senin (18/05/2026). (Maulia Resta Mardaningtias)
Dalam kancah Piala Dunia, tim nasional Korea telah menorehkan prestasi sebagai negara Asia dengan partisipasi terbanyak di Piala Dunia FIFA. Korea pertama kali tampil pada 1954, lalu secara konsisten lolos ke putaran final sejak 1986 hingga 2026. Konsistensi ini menegaskan posisi Korea sebagai salah satu kekuatan sepak bola terbesar di Asia.
Tidak hanya tim senior, Korea juga menunjukkan keunggulan di level usia muda melalui tim U-23 dan U-20. Prestasi tim-tim tersebut terlihat dari kemenangan di berbagai turnamen, seperti Piala Dunia FIFA, Piala Asia AFC, Asian Games, Olimpiade, Piala Asia AFC U-23, Piala Dunia FIFA U-20, dan Piala Dunia AFC U-20.
Deretan pencapaian tersebut membuktikan bahwa sepak bola Korea berkembang menyeluruh di berbagai kategori usia.
Firzie Idris, Senior Multiplatform Sports Journalist, menjadi pemateri dalam gelar wicara bertajuk "K-Sports Talkshow: Sistem Pengembangan Sepak Bola Korea" pada Senin (18/05/2026). (Maulia Resta Mardaningtias)
Pembicara menekankan bahwa meski telah meraih banyak pencapaian, Korea tidak berhenti berinovasi. Mereka terus melakukan pengembangan sistem sepak bola agar mampu bersaing di level tertinggi.
Dalam dua tahun terakhir, Asosiasi Sepak Bola Korea (KFA) meluncurkan proyek MIK (Made in Korea), sebuah program pembinaan sepak bola khas Korea yang bertumpu pada tiga filosofi, yaitu cepat, berani, dan focus. Proyek MIK hadir sebagai jawaban atas tantangan untuk menjembatani kesenjangan dengan elite dunia.
Program tersebut tidak hanya menekankan identitas permainan khas Korea, tetapi juga mendorong pemain muda untuk berani mengambil risiko di lapangan. Melalui skenario permainan realistis, mereka dilatih menilai situasi pertandingan secara mandiri dan mengambil keputusan tepat di bawah tekanan.
Selain itu, standar sistem MIK mencakup pembinaan menyeluruh, bukan hanya pemain, tetapi juga akademi. Kolaborasi organik antara direktur pemuda, staf medis, analis kinerja, dan pencari bakat menjadi bagian penting dalam membangun fondasi sepak bola Korea.
Warga Korea menyaksikan pertandingan Korea melawan Uruguai pada Piala Dunia FIFA Qatar yang digelar pada tanggal 24 November 2022 di Alun-Alun Gwanghwamun, Seoul. (Flickr resmi Korea.net)
Dalam kompetisi profesional tertinggi, yakni Liga Korea, pembicara menyoroti sejumlah regulasi penting. Untuk pertandingan tim U-22, klub diwajibkan memasukkan minimal dua pemain U-22 dalam daftar skuad pertandingan sehingga pemain muda mendapat jaminan menit bermain.
Ada pula regulasi yang membatasi jumlah pemain asing di lapangan agar kesempatan bagi pemain lokal tetap terjaga.
Selain itu, kontrak semiprofesional memberi peluang bagi pemain muda untuk merasakan atmosfer liga profesional sambil tetap dalam tahap pembinaan. Aturan ini membantu mempersiapkan mereka sebelum berkarier di liga Asia maupun Eropa.
Potret pembicara saat menjawab pada sesi tanya jawab dalam gelar wicara bertajuk "K-Sports Talkshow: Sistem Pengembangan Sepak Bola Korea" pada Senin (18/05/2026). (Maulia Resta Mardaningtias)
Usai sesi materi, diskusi dan tanya jawab berlangsung antusias. Peserta berbagi pandangan sekaligus menanyakan hal-hal terkait perkembangan sepak bola di Korea dan Indonesia. Selain itu, dalam sesi diskusi juga berbincang mengenai perbedaan postur fisik pemain Korea yang berbeda dengan pemain Asia Barat, tetapi memiliki performa dan kemampuan fisik yang sangat baik.
Hal menarik lainnya adalah pembahasan mengenai budaya penggemar. Pembicara menekankan bahwa pengembangan sepak bola tidak hanya bergantung pada asosiasi atau pemain, tetapi juga dukungan orang tua dan penggemar.
Di Korea, salah satu bentuk budaya penggemar dapat dilihat dari dukungan materi, seperti membeli tiket pertandingan, seragam tim, hingga produk resmi klub lainnya. Dukungan ini menjadi faktor penting yang memperkuat ekosistem sepak bola.
Sebagai peserta, melalui acara ini penulis memperoleh wawasan baru mengenai sistem sepak bola di Korea dan Indonesia. Secara umum, kesuksesan tim nasional Korea tidak lepas dari peran seluruh pemangku kepentingan, seperti pemain, asosiasi, akademi, hingga penggemar. Sinergi inilah yang menjadikan sepak bola Korea mampu bertahan sebagai salah satu kekuatan utama di Asia.
margareth@korea.kr
*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Program Wartawan Kehormatan dijalankan oleh Korea.net di bawah Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata. Para anggotanya merupakan sukarelawan yang memperkenalkan berbagai hal tentang Korea kepada dunia dengan berperan sebagai jembatan budaya.