Penulis: Wartawan Kehormatan Fitri Amalia dari Indonesia
Foto: Fitri Amalia
Gwangju Hyanggyo merupakan lembaga pendidikan para cendekiawan Konfusianisme pada era Joseon (1392-1910) yang berada di Kota Gwangju. Gwangju Hyanggyo terletak di Taman Gwangju dan termasuk dalam Warisan Budaya Berwujud No. 39 Kota Gwangju.
Pengunjung dapat mempelajari berbagai hal tentang tradisi Joseon, seperti membuat kaligrafi, membuat kipas, membuat gulungan gambar, bermain janggu (gendang tradisional Korea), memakai hanbok, melakukan upacara minum teh, melakukan tradisi pernikahan Korea dengan dipandu para staf profesional.
Gwangju Hyanggyo merupakan sebuah tempat pendidikan para cendekiawan Konfusianisme pada era Joseon.
Penulis mengunjungi Gwangju Hyanggyo di Kota Gwangju pada tanggal 28 September 2025. Kunjungan ini dipandu oleh Kim Jin-hee dan menarik perhatian berbagai wisatawan asing dari Indonesia, Jepang, Taiwan, dan Polandia.
Saat menginjakkan kaki di Gwangju Hyanggyo, pengunjung diminta mengganti alas kaki dengan sandal rumah. Hal ini bertujuan untuk menjaga lantai kayu yang bernilai historis tinggi agar tidak cepat rapuh. Selanjutnya, pengunjung dapat menikmati teh tradisional Korea sambil mendengarkan penjelasan mengenai hanbok yang benar-benar digunakan pada era Joseon.
Kim menjelaskan bahwa hanbok anak-anak pada era Joseon didominasi warna merah. Merah dianggap melambangkan kehidupan dan harapan. Pada era Joseon, banyak anak-anak yang meninggal di usia dini sehingga merah menjadi simbol doa agar anak-anak tumbuh sehat dan bisa berumur panjang seperti halnya matahari yang selalu bersinar di langit.
Staf menjelaskan makna warna merah pada hanbok anak-anak yang melambangkan kehidupan dan harapan.
Selain itu, Kim juga menjelaskan tata cara salam dan membungkukkan badan di Korea. Saat bertemu dengan orang yang jauh lebih tua, kita perlu membungkukkan badan lebih dari 45 derajat. Sementara saat bertemu dengan orang yang tidak terlalu jauh berbeda usianya, cukup membungkukkan badan hingga 30 derajat.
Selanjutnya, pengunjung juga diperkenalkan dengan prosesi pernikahan tradisional Korea pada era Joseon. Prosesi ini diawali dengan datangnya pengantin pria ke rumah wanita untuk menentukan tanggal. Sebelum prosesi, ada penentuan tanggal baik terlebih dahulu. Pada era Joseon, penentuan tanggal untuk menikah dilakukan oleh peramal dengan menggunakan tanggal lahir pengantin.
Simbol lain yang menarik dari prosesi ini adalah pengantin pria membawa patung angsa sebagai lambang kesetiaan. Angsa sendiri dikenal sebagai hewan yang hanya memiliki satu pasangan seumur hidup. Selain itu, ada pula tradisi memukul telapak kaki pengantin pria dengan tongkat. Hal ini untuk menguji kecerdasan dan kesiapannya dalam menghadapi tantangan pernikahan.
Pengunjung mencoba langsung prosesi pernikahan tradisional Korea pada era Joseon.
Melalui kunjungan ini, penulis menyadari bahwa Gwangju Hyanggyo tidak hanya sebuah situs sejarah, tetapi juga tempat mempelajari berbagai budaya Korea terutama pada era Joseon.
margareth@korea.kr
*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Wartawan Kehormatan merupakan komunitas masyarakat dunia yang menyukai Korea dan membagikan minat mereka terhadap Korea dalam bentuk tulisan.