Makanan/Pariwisata

2026.10.02

Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata bersama Organisasi Pariwisata Korea telah mengumumkan hasil pemungutan suara warga Korea untuk proyek 100X100: Jelajah Pesona Korea melalui laman resmi (https://spot100x100.kr/) yang terhubung dengan portal pariwisata Visit Korea.

Korea.net akan mengawali seri ini dengan artikel pengantar, kemudian memperkenalkan berbagai destinasi yang layak direkomendasikan kepada wisatawan mancanegara berdasarkan 100 tema perjalanan yang dikelompokkan ke dalam delapan kategori.


Seorang wisatawan mancanegara memotret suasana gang pada tanggal 10 Desember 2025 di Jalan Eulji-ro, Jung-gu, Kota Seoul. (Korea.net DB)

Seorang wisatawan mancanegara memotret suasana gang pada tanggal 10 Desember 2025 di Jalan Eulji-ro, Jung-gu, Kota Seoul. (Korea.net DB)



Penulis: Lee Ji Yae

Destinasi dalam 100X100: Jelajah Pesona Korea yang dipilih langsung oleh 40 ribu warga Korea memperlihatkan selera berwisata mereka. Alih-alih mengunjungi destinasi yang gemerlap, mereka cenderung mencari pengalaman istimewa di tempat-tempat yang menyimpan cerita serta menikmati waktu santai di tengah keseharian.

Tren wisata terkini, yakni bepergian untuk menemukan hal-hal yang hanya bisa dijumpai di destinasi tertentu, tampak jelas dalam kategori gaya hidup. Dari berbagai pilihan tersebut, Korea.net akan memperkenalkan tiga destinasi terpilih dalam subtema "Suasana Analog" yang memikat wisatawan domestik maupun mancanegara dengan nuansa retro.

Tempat-tempat yang masih menyimpan jejak waktu ini mengingatkan masyarakat Korea pada pemandangan yang akrab sekaligus membangkitkan nostalgia. Tempat-tempat ini juga menawarkan daya tarik tersendiri bagi wisatawan mancanegara yang ingin merasakan langsung suasana khas yang mereka lihat dalam drama dan film Korea.

Destinasi pertama adalah Hipjiro di kawasan Euljiro, Jung-gu, Kota Seoul. Nama Hipjiro merupakan gabungan kata hip dan Euljiro.

Kawasan ini mencakup area di sekitar Stasiun Euljiro 3-ga serta kompleks pertokoan Sewoon dan Daerim. Hipjiro terkenal dengan suasana unik yang memadukan nuansa lawas gang-gang tua dengan sentuhan modern. Saat malam tiba, Gang Nogari Euljiro dipenuhi pengunjung yang menikmati nogari (ikan polak muda yang dikeringkan) dan bir di meja-meja sederhana.

Dengan menyusuri jalur pejalan kaki layang di kompleks pertokoan Sewoon dan Daerim, pengunjung dapat menemukan berbagai toko, kafe, dan restoran dengan ciri khas masing-masing di antara bangunan-bangunan tua. Perpaduan lampu neon yang gemerlap, papan nama usang, dan ruang-ruang modern menghadirkan nuansa retro khas Hipjiro.

Euljiro dahulu merupakan sentra percetakan terbesar di Korea, tempat berbagai buku dan produk cetak dibuat. Kawasan ini mengalami perubahan ketika para seniman dan kreator muda satu per satu mulai berkarya di gang-gang yang dipenuhi percetakan, toko perkakas, dan restoran lawas.

Kafe, bar anggur, dan restoran yang memanfaatkan ruang-ruang lama kemudian bermunculan. Euljiro pun berkembang menjadi salah satu destinasi wisata di Seoul, tempat masa lalu dan masa kini hidup berdampingan.

Untuk merasakan suasana khas Hipjiro, pengunjung dapat menggunakan metro Seoul dan turun di Stasiun Euljiro 3-ga, lalu menyusuri gang-gang di sekitarnya.


Potret Toko Buku Abel di kawasan pertokoan buku bekas Baedari, Jemulpo-gu, Kota Incheon. Toko buku bekas ini telah beroperasi selama lebih dari 50 tahun sejak tahun 1973. (Organisasi Pariwisata Korea)

Potret Toko Buku Abel di kawasan pertokoan buku bekas Baedari, Jemulpo-gu, Kota Incheon. Toko buku bekas ini telah beroperasi selama lebih dari 50 tahun sejak tahun 1973. (Organisasi Pariwisata Korea)


Destinasi kedua adalah kawasan pertokoan buku bekas Baedari di Jemulpo-gu, Kota Incheon. Kawasan ini terbentuk setelah kemerdekaan Korea dari penjajahan Jepang ketika para pedagang yang berkeliling menjual buku dengan gerobak mulai berkumpul di sana. Perpaduan gang-gang tua dan toko buku memberi kawasan ini nuansa yang khas.

Kini, hanya lima toko buku bekas yang masih bertahan. Masing-masing memiliki sejarah dan ciri khas tersendiri. Dengan menggelar pembacaan puisi dan pertemuan sastra, toko-toko ini menjadi tempat berkumpul dan berkegiatan budaya bagi masyarakat setempat.

Pengunjung juga dapat menikmati beragam kegiatan hobi seperti merajut dan diskusi buku di toko sekaligus ruang budaya yang menempati bangunan lama hasil renovasi.

Salah satu cara menikmati kawasan ini adalah menelusuri rak-rak buku tua secara perlahan untuk menemukan kembali buku yang sempat terlupakan serta mencari ruang-ruang budaya yang tersembunyi di berbagai sudut gang yang tenang.

Kawasan pertokoan buku bekas Baedari juga dikenal sebagai lokasi syuting drama Guardian: The Lonely and Great God.

Pengunjung dapat mencapainya dengan menggunakan metro Seoul jalur 1, turun di Stasiun Dongincheon atau Dowon, lalu berjalan kaki sekitar 10 menit. Jika menggunakan bus kota, pengunjung dapat turun di Halte SMK Semikonduktor Incheon atau Baedari Samgeori (Pertigaan Baedari).


Studio Foto Chowon di Desa Perjalanan Waktu, Kota Gunsan, Provinsi Jeollabuk. (Organisasi Pariwisata Korea)

Studio Foto Chowon di Desa Perjalanan Waktu, Kota Gunsan, Provinsi Jeollabuk. (Organisasi Pariwisata Korea)


Destinasi ketiga adalah Studio Foto Chowon di Desa Perjalanan Waktu, Kota Gunsan, Provinsi Jeollabuk.

Tampilan luarnya yang sederhana mengingatkan pada studio foto era 1990-an. Kamera-kamera tua dan foto-foto yang terpajang di dalamnya membangkitkan nostalgia akan masa ketika orang memotret lalu menyimpan foto cetak satu per satu di dalam album.

Setelah dikenal sebagai lokasi syuting film Christmas in August, studio ini direstorasi oleh Pemerintah Kota Gunsan. Kini, Studio Foto Chowon menjadi salah satu destinasi unggulan di Gunsan untuk menelusuri jejak sejarah modern.

Pengunjung dapat menikmati pemandangan Gunsan tempo dulu dengan melihat-lihat bangunan lama dan menyusuri gang-gang di sekitar studio foto.

Pengunjung juga bisa menikmati suasana retro serta berfoto dengan studio sebagai latar. Aktivitas ini memberi kesempatan untuk merasakan kembali pengalaman berkunjung ke studio foto pada masa lalu yang kini sulit dijumpai.

Dari Terminal Bus Ekspres Gunsan, pengunjung dapat menaiki bus kota dan turun di sekitar Jalan Jungangno atau Myeongsan-dong lalu melanjutkan perjalanan menuju Studio Foto Chowon dengan berjalan kaki.


ljyhwa@korea.kr

konten yang terkait