Makanan/Pariwisata

2026.07.02

Sidang Komite Warisan Dunia UNESCO ke-48 akan diselenggarakan pada Juli 2026 di Busan, Korea. Untuk menyambut hal tersebut, Korea.net akan memperkenalkan 6 tempat dari 12 tempat yang berada dalam Daftar Sementara Warisan Dunia UNESCO di Korea.


Panorama Naganeupseong di Suncheon yang masih menjaga kelestarian bentuknya dari era Dinasti Joseon (1392-1910).

Panorama Naganeupseong di Suncheon yang masih menjaga kelestarian bentuknya dari era Dinasti Joseon (1392-1910).



Penulis: Lee Jihae
Foto: Park Daejin
Video: Park Daejin

Di sebuah dataran rendah yang terletak di Kota Suncheon, Provinsi Jeollanam, terdapat sebuah tempat yang seolah-olah berhenti di masa lalu.

Tempat tersebut adalah Naganeupseong yang hingga kini masih mempertahankan lanskap permukiman lokap pada masa Dinasti Joseon (1392-1910) sekaligus benar-benar masih dihuni oleh warga setempat hingga saat ini.

Sejarah Naganeupseong dapat ditelusuri pada masa awal Dinasti Joseon, tepatnya pada tahun 1397. Kala itu pemerintah dan warga membangun tembok benteng bersama-sama untuk menghadapi serangan perompak Jepang dan pemberontakan.

Benteng yang berada di Naganeupseong tidak hanya berfungsi mengelilingi pusat administrasi dan permukiman warga, tetapi menjadi ruang historis yang utuh.

Area Naganeupseong yang memiliki luas 221 ribu meter persegi di dalam bentengnya, merupakan area desa, kantor pemerintahan, serta ruang hidup warga yang tinggal di dalamnya.

Bentuk awal Naganeupseong tidak semegah saat ini. Awalnya, benteng yang dibangun merupakan benteng tanah yang rentan terhadap hujan dan angin serta mudah untuk dipanjat oleh musuh.

Sosok yang memperbaiki benteng tersebut hingga kokoh adalah Jenderal Im Gyeong Eop yang menjabat sebagai kepala daerah tersebut pada tahun 1626.

Pembangunan tembok benteng setinggi 4 meter, selebar 3-4 meter, dan sepanjang 1.410 meter tersebut kini menjadi bukti atas teknik pembangunan benteng pada masa tersebut.

Alasan Naganeupseong masuk ke dalam Daftar Sementara Warisan Dunia UNESCO bukan hanya karena desa ini masih terpelihara dengan baik, melainkan pada keberadaannya sebagai desa daerah yang hidup.

Lebih dari 200 orang warga di 85 rumah tangga masih menjalani kehidupan sehari-harinya di Naganeupseong sehingga desa ini menjadi ruang tempat warisan budaya dan kehidupan masyarakat dapat hidup berdampingan.

Sebagai desa yang sejak awal dibentuk dengan basis pertanian, lahan pertanian di luar gerbang benteng pun masih digarap oleh warga setempat.

Panorama Naganeupseong di Kota Suncheon yang terlihat dari area paling atas di desa tersebut.


Begitu masuk ke dalam desa, gambaran masyarakat Joseon terlihat jelas melalui bangunan-bangunannya.

Bangunan tempat kepala daerah menjalankan tugas dan bangunan tamu resmi masih berdiri dengan atap genteng. Di sisi lain, rumah-rumah warga yang diwariskan secara turun-temurun hampir seluruhnya berupa rumah beratap jerami.

Perbedaan bangunan berdasarkan status sosial dan fungsi tersebut menciptakan harmoni yang khas dalam satu kawasan yang sama.

Jerami padi dan alang-alang yang digunakan untuk atap rumah akan melemah seiring dengan waktu karena terpaan hujan, angin, sinar matahari, dan kelembapan.

Semakin lama, atap jerami akan semakin sulit menahan air hujan. Selain itu, serangga dapat menggerogoti jerami dan burung terkadang mencabutnya untuk membuat sarang.

Oleh karena itu, Naganeupseong mengganti atap rumah-rumah tersebut dengan jerami padi dan alang-alang baru pada setiap akhir musim gugur sehingga desa tersebut terus terlihat hidup.

Beberapa drama Korea berlatar Dinasti Joseon menggunakan Naganeupseong di Suncheon sebagai lokasi penggambilan gambarnya, seperti Jewel in the Palace (2003) dan Love in the Moonlight (2016).

Beberapa drama Korea berlatar Dinasti Joseon menggunakan Naganeupseong di Suncheon sebagai lokasi penggambilan gambarnya, seperti Jewel in the Palace (2003) dan Love in the Moonlight (2016).


Berkat lanskapnya, Naganeupseong menjadi salah satu lokasi syuting drama Korea berlatar belakang Dinasti Joseon, seperti Jewel in the Palace (2003) dan Love in the Moonlight (2016).

Kini Naganeupseong bukan lagi sekadar destinasi wisata yang dinikmati dengan mata saja, melainkan juga menghadirkan beragam program bagi para pengunjungnya.

Para pengunjung bisa mengikuti beragam program yang disediakan, seperti menginap semalam di rumah beratap jerami, mencoba permainan tradisional, hingga mengikuti kegiatan pewarnaan alami.



jihlee08@korea.kr

konten yang terkait