Makanan/Pariwisata

2026.05.22

Sidang Komite Warisan Dunia UNESCO ke-48 akan diselenggarakan pada Juli 2026 di Busan, Korea. Untuk menyambut hal tersebut, Korea.net akan memperkenalkan 6 tempat dari 12 tempat yang berada dalam Daftar Sementara Warisan Dunia UNESCO di Korea.



Penulis: Charles Audouin
Video: Saluran YouTube resmi Korea.net

Suara kicauan dan kepakan sayap burung membelah keheningan. Burung ibis jambul berwarna abu-abu yang menyambut musim kawin, merentangkan sayapnya yang berwarna merah muda pucat.

Kawanan burung cangak abu yang mengepakkan sayap dan melesat dari permukaan air seolah membuktikan dengan seluruh keberadaannya mengapa lahan basah ini disebut UNESCO sebagai sebuah 'tanah kehidupan'.

Lahan Basah Upo yang terletak di Changnyeong-gun Provinsi Gyeongsangnam menjadi tempat bagi para pecinta alam dan ekologi untuk dikunjungi setidaknya sekali seumur hidup.

Lahan Basah Upo disebut juga sebagai museum sejarah alam yang masih hidup karena bentuknya masih lestari seperti saat Semenanjung Korea terbentuk 140 juta tahun lalu.

Lahan basah ini merupakan lahan basah alami terbesar di Korea dengan lebih dari 1.200 spesies flora dan fauna yang hidup, termasuk berang-berang eurasia dan kucing kuwuk.


Seekor burung cangak abu terlihat sedang berburu ikan dan seekor berang-berang bermain air di berbagai sudut Lahan Basah Upo pada tanggal 7 Mei 2026. Di tepi lahan basah, alang-alang bergoyang tertiup angin, sementara kicauan burung sesekali terdengar dari berbagai arah. (Charles Audouin)

Seekor burung cangak abu terlihat sedang berburu ikan dan seekor berang-berang bermain air di berbagai sudut Lahan Basah Upo pada tanggal 7 Mei 2026. Di tepi lahan basah, alang-alang bergoyang tertiup angin, sementara kicauan burung sesekali terdengar dari berbagai arah. (Charles Audouin)


Lahan Basah Upo terbentuk dari genangan air yang tertahan oleh sedimen-sedimen dari liran sungai yang berhulu di Gunung Hwawangsan lalu mengalir menuju Sungai Nakdonggang.

Saat permukaan air sungai naik, lahan basah tersebut pun ikut terisi air. Saat permukaan air sungai surut, dasar lahan basah pun mulai terlihat.

Lahan basah Upo memiliki luas 2,5 juta ㎡ dan dikelilingi dengan pegunungan rendah di sekitarnya. Lahan ini menyuguhkan pemandangan luar biasa yang berbeda dari danau maupun waduk.

Di jalur eksplorasi di sekitar Pusat Restorasi Ibis Jambul Upo, pengunjung dapat melihat beragam jenis burung, seperti burung ibis jambul (bawah), cangak abu, dan kuntul besar. (Charles Audouin)

Di jalur eksplorasi di sekitar Pusat Restorasi Ibis Jambul Upo, pengunjung dapat melihat beragam jenis burung, seperti burung ibis jambul (bawah), cangak abu, dan kuntul besar. (Charles Audouin)


Upaya untuk melindungi Lahan Basah Upo terus dilakukan secara berkelanjutan. Pemerintah Korea menetapkan kawasan tersebut sebagai Kawasan Konservasi Ekosistem Alam pada tahun 1997.

Lahan Basah Upo juga didaftarkan pada tahun 1998 sebagai lahan basah yang dilindungi secara internasional berdasarkan Konvensi Ramsar, sebuah perjanjian untuk melindungi lahan basah penting di seluruh dunia.

Lahan Basah Upo kemudian masuk ke dalam Daftar Sementara Warisan Dunia UNESCO pada tahun 2011 lalu seluruh Changnyeong-gun ditetapkan sebagai Cagar Biosfer UNESCO pada tahun 2024.

Berdasarkan Rencana Perlindungan Warisan Alam Tahun 2025-2029 yang diumumkan oleh Layanan Warisan Korea, Lahan Basah Upo sedang membidik tahap akhir pendaftaran resmi sebagai Warisan Alam Dunia UNESCO.


Sebanyak 50 ekor burung ibis jambul dilepasliarkan pada tanggal 6 Mei 2026 di Pusat Restorasi Ibis Jambul Upo, Changnyeong-gun, Provinsi Gyeongsangnam. Saat memasuki musim kawin, tubuh ibis jambul yang semula berwarna putih, berubah menjadi abu-abu. (Pemerintah Changnyeong-gun)

Sebanyak 50 ekor burung ibis jambul dilepasliarkan pada tanggal 6 Mei 2026 di Pusat Restorasi Ibis Jambul Upo, Changnyeong-gun, Provinsi Gyeongsangnam. Saat memasuki musim kawin, tubuh ibis jambul yang semula berwarna putih, berubah menjadi abu-abu. (Pemerintah Changnyeong-gun)


Karakteristik Lahan Basah Upo terletak pada dinamika berbagai flora dan fauna yang hidup saling terkait di dalamnya. Kawasan ini menjadi tempat singgah burung-burung migran dari seluruh dunia terutama pada musim dingin untuk beristirahat sejenak di tengah perjalanan.

Dengan ketersediaan makanan yang melimpah dan tempat beristirahat yang nyaman, Lahan Basah Upo menopang penerbangan jarak jauh burung-burung migran.

Bintang utama yang paling menarik perhatian di Lahan Basah Upo belakangan ini adalah burung ibis jambul. Saat ini proyek restorasi habitat burung ibis jambul sedang berjalan di kawasan Lahan Basah Upo.

Ibis jambul dinyatakan punah di Semenanjung Korea pada tahun 1979 lalu habitatnya mulai dipulihkan melalui sepasang ibis jambul yang disumbangkan dari Tiongkok pada tahun 2008.

Burung ibis jambul yang dikembangbiakkan dari sepasang burung tersebut, akhirnya dilepasliarkan untuk pertama kalinya pada tahun 2019. Kini ada sekitar 440 ekor ibis jambul yang hidup liar di alam.

Ibis jambul yang dilepasliarkan telah menjalani pelatihan untuk bertahan hidup di alam liar, mulai dari terbang, beradaptasi, hingga berburu ikan susuh batu.

Pemerintah Changnyeong-gun pun telah memasang pelacak GPS pada sebagian burung-burung tersebut untuk memantau jalur perpindahan dan kondisi kelangsungan hidup mereka.


Peta panduan Lahan Basah Upo dalam bahasa Inggris yang dipasang di jalur eksplorasi. (Charles Audouin)

Peta panduan Lahan Basah Upo dalam bahasa Inggris yang dipasang di jalur eksplorasi. (Charles Audouin)


Cara terbaik untuk merasakan Lahan Basah Upo secara utuh adalah dengan berjalan kaki. Jalur eksplorasi pejalan kaki tersedia dalam berbagai pilihan jarak.

Salah satu jalur pejalan kaki yang utama adalah Jalur Kehidupan Lahan Basah Upo sepanjang 8,4 km yang memungkinkan para pengunjung untuk menikmati suasana kawasan Upo selama tiga jam sambil menyaksikan panorama secara menyeluruh.

Di beberapa titik juga disediakan teleskop untuk mengamati burung sehingga pengunjung bisa mengintip keseharian burung cangak abu dan kuntul besar secara lebih dekat.

Bila ingin menjelajah dengan lebih cepat, bersepeda bisa menjadi pilihan tepat. Biaya kunjungan ke Lahan Basah Upo gratis, tetapi pengunjung bisa menyewa sepeda dengan biaya sebesar 5.000 hingga 7.000 won.

Pengunjung dapat menyusuri kawasan lahan basah melalui jalur sepeda yang berangkat dari Museum Ekologi Lahan Basah Upo di sisi selatan.


Cara menuju Lahan Basah Upo

Lahan Basah Upo berjarak sekitar satu jam perjalanan dengan mobil dari stasiun kereta terdekat, seperti Dongdaegu, Miryang, atau Changwon. Apabila menggunakan transportasi umum, pengunjung bisa menaiki bus antarkota tujuan Changnyeong dari Daegu atau Busan, lalu melanjutkan perjalanan ke Lahan Basah Upo. Bus dari Changnyeong ke Lahan Basah Upo beroperasi sekitar lima kali sehari dari Terminal Changnyeong.


caudouin@korea.kr

konten yang terkait