Sidang Komite Warisan Dunia UNESCO ke-48 akan diselenggarakan pada Juli 2026 di Busan, Korea. Untuk menyambut hal tersebut, Korea.net akan memperkenalkan 6 tempat dari 12 tempat yang berada dalam Daftar Sementara Warisan Dunia UNESCO di Korea.
Penulis: Margareth Theresia
Foto: Lee Jeong Woo
Video: Park Daejin
Saat Dinasti Joseon pertama kali dibentuk pada tahun 1392, ibu kota kerajaan dipindahkan dari Gaegyeong (saat ini Kota Kaesong di Korea Utara) ke Hanyang (saat ini Kota Seoul).
Hanyang dipilih sebagai ibu kota oleh Raja Taejo karena berada di antara Gunung Bukhansan dan Sungai Hangang.
Joseon membuat benteng pertahanan alami untuk ibu kotanya dengan menggunakan pegunungan yang berada di sekelilingnya, seperti Gunung Bugaksan, Namsan, Naksan, dan Inwangsan.
Benteng Pertahanan Ibu Kota Hanyang dibangun berdasarkan sistem pertahanan alami dari pegunungan yang berada di sekeliling Hanyang.
Benteng Hanyangdoseong dibangun pertama kali pada tahun 1396 kemudian dilanjutkan dengan Benteng Bukhansanseong yang selesai dibangun pada tahun 1711.
Benteng Tangchundaeseong dibangun untuk menghubungkan kedua benteng tersebut sehingga panjang keseluruhan Benteng Pertahanan Ibu Kota Hanyang mencapai 37,7 km.

Benteng Hanyangdoseong merupakan benteng yang dibangun pada abad ke-14 sebagai benteng pertahanan ibu kota. Saat ini Benteng Hanyangdoseong menjadi lokasi wisata sejarah di tengah kota yang populer di antara warga lokal dan wisatawan asing. Foto di atas menunjukkan para wisatawan asing yang sedang berjalan kaki di rute Naksan.
Foto di atas menunjukkan Gerbang Daeseomun yang berada di Benteng Bukhansanseong. Gerbang ini merupakan gerbang yang berada di ketinggian paling rendah dibanding 16 gerbang Benteng Bukhansanseong dan menjadi gerbang penghubung warga yang tinggal di luar dan dalam gerbang pada masa lalu. Saat ini gerbang tersebut digunakan sebagai pintu gerbang para pendaki Gunung Bukhansanseong.
Pusat pertahanan dalam keadaan darurat
Benteng Bukhansanseong yang berada di sebelah utara merupakan pusat pertahanan ibu kota Hanyang saat berada dalam keadaan darurat.
Benteng tersebut memiliki panjang total 11,6 km dan luas bagian dalam sebesar 5,3㎢. Benteng tersebut dibangun mengikuti puncak Gunung Bukhansanseong yang berundak-undak.
Joseon mengalami serangan dari pihak musuh saat invasi Jepang pada abad ke-16 dan invasi Qing pada abad ke-17.
Oleh karena itu, Joseon mengubah pusat pertahanannya di Gunung Bukhansanseong dari benteng tanah liat menjadi benteng batu pada abad ke-18.
Berbagai paviliun kerajaan dan gudang persenjataan dibangun sebagai fasilitas militer di dalam Benteng Bukhansanseong.
Selain itu, 99 buah sumur, 26 buah waduk, dan 8 buah gudang dibangun agar keluarga kerajaan dan warga Hanyang dapat langsung mengungsi ke dalam benteng apabila musuh datang menyerang.
Foto di atas menunjukkan Gerbang Hongjimun yang merupakan gerbang Benteng Tangchundaeseong. Gerbang tersebut sempat hancur akibat banjir besar pada tahun 1921 dan direstorasi kembali pada tahun 1977.
Benteng yang menyempurnakan sistem pertahanan Hanyang
Benteng Tangchundaeseong merupakan benteng yang menghubungkan Benteng Hanyangdoseong dengan Benteng Bukhansanseong dengan mengikuti puncak pegunungan dari Gunung Inwangsan hingga Gunung Bukhansan.
Benteng tersebut memiliki panjang sekitar 4 km dan berfungsi untuk memecah serangan musuh serta membantu warga untuk mengungsi ke dalam Gunung Bukhansanseong.
Selain berfungsi untuk memperkuat pertahanan di sebelah barat, benteng itu juga menjadi jalur utama untuk suplai militer.
Panorama Kota Seoul dari Benteng Bukhansanseong.