Makanan/Pariwisata

2025.11.13

Lanskap perjalanan kini berubah. Wisatawan lebih mengutamakan keunikan daripada skala, dan kedalaman pengalaman daripada kecepatan. Wisatawan menemukan makna baru dalam kehidupan sehari-hari dengan menghidupkan kembali masa lalu suatu daerah melalui sentuhan modern di kota-kota kecil yang memancarkan kehangatan manusia dan jejak waktu. Organisasi Pariwisata Korea (KTO) memperkenalkan lima destinasi wisata kota kecil yang mempertahankan sepenuhnya cerita khas dan nuansa kehidupan lokal dengan tema perjalanan masa kini.


Penulis: Aisylu Akhmetzianova
Foto: Organisasi Pariwisata Korea

"Pelan dan Mendalam": Perjalanan 2 Hari 1 Malam di Changpyeong, Damyang

Juknokwon di Damyang, Provinsi Jeollanam, yang dipenuhi hutan bambu nan menyegarkan.

Juknokwon di Damyang, Provinsi Jeollanam, yang dipenuhi hutan bambu nan menyegarkan.



Changpyeong Samjinae Village di Damyang, yang dikenal sebagai slow city pertama di Asia, menawarkan ketenangan yang terbentuk oleh aliran waktu. Di desa yang dipenuhi rumah tradisional dan pagar batu, mengalir suasana hening yang seakan dipahat oleh sejarah. Rumah Go Jaehwan dan Go Jaeseon yang menjadi warisan nasional, serta kafe hanok yang berpadu harmonis, membawa wisatawan ke dalam lanskap lama yang menenangkan.

Wisatawan dapat menginap di rumah tradisional berusia ratusan tahun atau di penginapan kecil yang nyaman, sekaligus mencoba membuat roti arak khas setempat. Berjalanlah di Juknokwon dan Hutan Gwanbangjerim yang berada di dekatnya untuk merasakan aroma musim yang berganti. Di tempat ini, bahkan waktu pun seakan bernapas perlahan.

Menyusuri Pelabuhan···Mukho di Kota Donghae


Mural Nongoldamgil yang menggambarkan pemandangan lama Mukho di Kota Donghae.

Mural Nongoldamgil yang menggambarkan pemandangan lama Mukho di Kota Donghae.



Pelabuhan Mukho di Kota Donghae merupakan tempat yang ideal untuk dinikmati dengan berjalan kaki, karena seluruh objek wisata utama berada dalam jarak tempuh 30 menit berjalan kaki. Hanya dengan berjalan perlahan, sebuah perjalanan yang bermakna pun dapat terwujud. Jika mengikuti program "Pejalan Kaki, Mau Makan Ramyeon di Mukho?" yang dijalankan oleh DMO (Destination Management Organization) wilayah Donghae, wisatawan dapat menjelajahi sisi terdalam pelabuhan melalui tur foto mandiri atau tur bersama pemandu.

Serangkaian destinasi menarik menanti, mulai dari Museum Pensil pertama di Korea, simpang Balhan, hingga desa mural Nongoldamgil. Mercusuar Mukho dan Apartemen Sambon, lokasi lahirnya dialog ikonik film One Fine Spring Day — “Mau makan ramyeon?” — juga menjadi rute favorit wisatawan.

Penutup perjalanan adalah semangkuk ramyeon dengan isian makanan laut melimpah di Culture Factory Deokjang. Aroma laut Mukho pun akan lama tertinggal di lidah.

Jalan Berkelok yang Memperlambat Waktu, Slow City Daheung


Pemandangan Desa Daheung di Yesan, Provinsi Chungcheongnam, yang telah ditetapkan sebagai slow city.

Pemandangan Desa Daheung di Yesan, Provinsi Chungcheongnam, yang telah ditetapkan sebagai slow city.



Pemandangan di Desa Daheung, Yesan-gun, terasa hangat dan lembut seperti sinar matahari musim gugur—layaknya "vitamin" di musim ini. Cara terbaik menikmati kawasan yang menjadi slow city pertama di wilayah tengah Korea ini adalah mengunjungi Brotherly Village dan berjalan menyusuri jalan berkelok yang tenang, tempat sejarah, tradisi, dan alam berpadu harmonis.

Prinsip slow city Daheung sangat sederhana: melindungi alam, mewarisi tradisi, dan menempatkan warga sebagai pemilik desa. Taman Telapak Tangan yang dirawat langsung oleh penduduk menjadi simbol dari nilai tersebut. Jika Anda melihat patung siput di depan halaman, masuklah tanpa ragu—di sana tersimpan ketenangan yang hanya bisa ditemukan ketika kita melambat.

Sehari dalam Pelukan Kampung Halaman, "Rumah Nenek dari Pihak Ibu di Namhae"

Rumah Nenek dari Pihak Ibu di Namhae menawarkan berbagai program, termasuk kelas menggambar.

Rumah Nenek dari Pihak Ibu di Namhae menawarkan berbagai program, termasuk kelas menggambar.



"Rumah Nenek dari Pihak Ibu di Namhae" menghadirkan kehangatan dan keakraban, persis seperti namanya. Tempat yang dikelola oleh Yayasan Pariwisata dan Budaya Namhae ini menawarkan "sehari untuk beristirahat" bagi para wisatawan. Seluruh program—mulai dari kelas menggambar yang dipandu warga lokal, kelas kerajinan keramik sehari, hingga aktivitas memetik blackberry organik—mencerminkan kehidupan sehari-hari masyarakat Namhae.

Jika menyusuri Desa Darengi, yang terkenal dengan lebih dari 700 petak sawah terasering, panorama Namhae akan terasa semakin kaya dan mendalam.

Tempat Perjalanan dan Kehidupan Berhenti Sejenak, "Goheung Stay"

Waktu santai yang dinikmati di teras besar Jonsimdang di Goheung-gun, Provinsi Jeollanam.

Waktu santai yang dinikmati di teras besar Jonsimdang di Goheung-gun, Provinsi Jeollanam.



"Goheung Stay" di Goheung, Provinsi Jeollanam, menghapus batas antara perjalanan dan tinggal. Peserta program "Ayo Tinggal di Dua Wilayah: Goheung Stay" dapat menetap hingga tiga bulan untuk merasakan kehidupan sehari-hari masyarakat setempat. Pasar Tradisional Goheung, yang berada sekitar 10 menit berjalan kaki, menyimpan sejarah lebih dari 110 tahun.

Warisan budaya Goheung—termasuk pohon zelkova berusia 840 tahun di Desa Namgye-ri, Jembatan Honggyo di Okha-ri yang dibangun pada tahun 1871, serta Taman Sejarah dan Budaya Jonsimdang—mengiringi langkah wisatawan. Bagi mereka yang ingin menikmati perjalanan bukan sebagai kunjungan singkat, melainkan sebagai pengalaman menetap, tempat ini adalah jawabannya.

Perjalanan ke kota-kota kecil adalah perjalanan untuk menemukan kehangatan manusia dan jejak waktu. Dalam jeda yang penuh kelambatan, para wisatawan kembali memandang dunia dengan ritme mereka sendiri. Pelan, dan mendalam. Arah yang ditunjukkan oleh tren perjalanan masa kini tidaklah jauh. Itu berada sangat dekat dengan hati kita.

aisylu@korea.kr

konten yang terkait