Foto di atas menunjukkan Observatorium Pinggir Laut Mulmi yang terletak di Namhae-gun, Provinsi Gyeongsangnam. Pengunjung bisa menikmati panorama laut di Namhae melalui observatorium ini. (Pemerintah Namhae-gun)
Penulis: Margareth Theresia
Musim gugur sudah tiba dan dedaunan semakin menguning dengan cepat. Banyak wisatawan yang mencari lokasi-lokasi wisata terkenal, tetapi ada pula yang mencari lokasi wisata yang masih belum banyak dikenal.
Organisasi Pariwisata Korea merilis 27 'permata tersembunyi' Korea pada tanggal 5 November 2025. Daftar tersebut berisi tempat wisata yang baru dibuka tahun 2025 atau belum banyak dikenal orang, tetapi menawarkan pesona khas daerah setempat. Berikut ini merupakan empat 'permata' utama yang berada dalam daftar tersebut.
Foto di atas menunjukkan pemandangan musim gugur yang bisa dinikmati di Jalur Seorak Hyanggiro, Kota Sokcho, Provinsi Gangwon. (Pemerintah Kota Sokcho)
Jalur Seorak Hyanggiro merupakan jalur pejalan kaki sepanjang 2,7 km yang berada di dekat pintu masuk Taman Nasional Seoraksan yang berada di Kota Sokcho, Provinsi Gangwon. Jalur tersebut didesain agar bisa dilalui oleh kereta bayi maupun kursi roda sehingga bisa dikunjungi oleh siapapun.
Jalur ini dikelilingi oleh pemandangan pepohonan dengan daun berwarna kekuningan dan kemerahan di kala musim gugur. Keindahan Gunung Seoraksan pun dapat dinikmati melalui skywalk dan jembatan gantung yang berada di tengahnya.
Tak hanya itu, pengunjung juga bisa menikmati jalur pejalan kaki di malam hari dengan penerangan yang agak remang agar cahaya bulan bisa lebih menerangi jalur tersebut.
Panorama Observatorium Yedangho yang baru dibuka pada 1 Oktober 2025 di Yesan-gun, Provinsi Chungcheongnam. (Pemerintah Provinsi Chungcheongnam)
Danau Yedangho merupakan tempat wisata utama di wilayah Yesan-gun, Provinsi Chungcheongnam. Wilayah ini banyak dikunjungi oleh wisatawan terutama karena fasilitas terpadunya yang terdiri dari jembatan gantung, jalur pejalan kaki, monorail, dan aktivitas adventure.
Observatorium Yedangho baru dibuka untuk umum pada tanggal 1 Oktober 2025. Observatorium setinggi 70 meter ini bisa digunakan untuk melihat pemandangan Danau Yedangho serta Gunung Bongsusan dan Gunung Daebongsan yang berada di sekitarnya.
Saat matahari terbenam, pengunjung bisa menyaksikan keindahan cakrawala di sisi danau dengan warna keemasan yang tercermin di atasnya. Jembatan gantung sepanjang 402 meter di Danau Yedangho pun diterangi pencahayaan di kala malam sehingga memberikan suasana yang berbeda.
Foto di atas menampilkan jalur pejalan kaki nomor 1 di Lahan Basah Ungok Ramsar yang terletak di Gochang-gun, Provinsi Jeollabuk. (Organisasi Pariwisata Korea)
Lahan Basah Ungok Ramsar di Gochang-gun adalah contoh wilayah yang keadaan alamnya pulih kembali saat tidak terjamah oleh manusia. Saat sebuah kampung lenyap di daerah ini karena pembangunan Waduk Ungok, warga dilarang untuk memasuki wilayah ini selama 28 tahun. Alam pun kembali pulih dengan sendirinya dan daerah ini kembali didatangi oleh manusia pada tahun 2009.
Saat ini lebih dari 850 spesies makhluk hidup berada di Lahan Basah Ungok Ramsar. Bahkan beberapa hewan yang terancam punah ditemukan di lahan ini, seperti berang-berang eurasia, kucing kuwuk, musang leher kuning, paok bidadari, elang alap Tiongkok, dan alap-alap eurasia.
Atap Museum Clayarch Gimhae yang terlihat dari jalur pejalan kaki. (Organisasi Pariwisata Korea)
Museum Clayarch Gimhae merupakan museum seni khusus untuk keramik arsitek pertama di Korea. Secara garis besar, museum ini terbagi menjadi dua gedung utama, yaitu Dome House dan Cubic House. Selain itu, pengunjung juga bisa melihat Clayarch Tower setinggi 20 meter dengan lebih dari seribu keramik yang ditempel di berbagai sisinya.
margareth@korea.kr