Menteri Urusan Patriot dan Veteran, Kwon Oh-eul (baris belakang, keempat dari kiri), mengunjungi Royal Hospital Chelsea di kawasan Chelsea, London, Inggris, pada tanggal 15 Juni 2026 (waktu setempat). Dalam kunjungan tersebut, ia bertemu dan menyampaikan apresiasi serta rasa terima kasih kepada para veteran Perang Korea asal Inggris, termasuk Colin Thackery (baris depan, kedua dari kiri). (Kementerian Urusan Patriot dan Veteran)
Penulis: Yoon Sojung
Video: Hanwha
Lagu "Arirang", yang pernah menyentuh hati para veteran Perang Korea yang bertempur demi kebebasan Korea di medan perang di negeri asing 76 tahun lalu, kini kembali mendapat perhatian sebagai simbol penghormatan atas jasa para pahlawan dan perdamaian. Hal ini tidak lepas dari kecintaan mendalam para veteran terhadap lagu tersebut.
Di antara veteran yang paling dikenal adalah Colin Thackery dari Inggris dan Gilbert Hauffels dari Luksemburg.
Thackery bergabung dengan Angkatan Darat Inggris pada usia 15 tahun. Pada September 1950, saat berusia 19 tahun, ia dikirim ke Korea dan bertugas selama dua tahun sebagai anggota Resimen Artileri Medan ke-45. Ia ikut bertempur dalam Pertempuran Bukit 327 dan sejumlah pertempuran lainnya. Dari enam rekan seperjuangannya, empat gugur dalam perang. Mereka kini dimakamkan di UN Memorial Cemetery di Busan.
Pada tahun 2019, Thackery menjadi sorotan dunia setelah menjuarai acara pencarian bakat Britain's Got Talent. Ia meraih gelar juara hanya dengan membawakan tiga lagu tanpa satu pun kesalahan, sementara babak final mencatat rating penonton hingga 40%. Di atas panggung, ia menyanyikannya bersama rekan sesama veteran Perang Korea dan menjadi sosok yang sangat dicintai masyarakat Inggris. Dalam salah satu acara yang digelar setelah itu, ia membawakan "Arirang".
Colin Thackery (tengah) membawakan lagu "Arirang" dalam jamuan makan malam sebagai bentuk penghormatan kepada negara-negara yang mengirimkan Pasukan PBB dan para veteran Perang Korea, yang digelar di Hotel Signiel Busan pada tanggal 26 Juli 2023. (Yonhap News)
Thackery juga membawakan "Arirang" pada upacara peringatan Hari Veteran Pasukan PBB dalam Perang Korea dan 70 tahun Perjanjian Gencatan Senjata yang digelar di Busan pada tanggal 26–27 Juli 2023.
Pada tahun yang sama, ia juga ditunjuk sebagai Menteri Kehormatan Kementerian Urusan Patriot dan Veteran. Saat itu, ia mengenang, "Busan adalah tempat pertama yang saya injak ketika pertama kali tiba di Korea dengan kapal dari Inggris. Lagu yang kami nyanyikan di medan perang kala itu adalah Arirang."
Ia juga mengatakan, "Saya akan menyanyikan Arirang untuk mengenang rekan-rekan seperjuangan yang kini dimakamkan di UN Memorial Cemetery."
Hingga kini, Thackery masih aktif bermusik bersama sesama veteran dalam Chelsea Pensioners Choir, yang merupakan bagian dari Royal Hospital Chelsea. Mantel merah dan topi segitiga khas yang kerap dikenakannya saat tampil di berbagai acara maupun siaran televisi merupakan seragam resmi para anggota kelompok tersebut.
Veteran Perang Korea asal Luksemburg, Gilbert Hauffels, wafat pada tanggal 24 April 2023 (waktu setempat) pada usia 90 tahun. Foto di atas menunjukkan plakat penghormatan dari Kementerian Urusan Patriot dan Veteran yang disampaikan dalam upacara pemakamannya di Luksemburg pada tanggal 8 Mei 2023. (Yonhap News)
Tokoh lainnya adalah veteran Perang Korea asal Luksemburg, Gilbert Hauffels (1932–2023).
Pada Maret 1952, saat berusia 19 tahun, Hauffels dikerahkan ke Korea untuk bertugas dalam Perang Korea. Ia menjalankan tugas hingga Januari 1953 sebagai prajurit kelas satu sekaligus penembak senapan mesin di Batalion Gabungan Belgia–Luksemburg. Ia bertempur di sejumlah medan pertempuran sengit, termasuk Bukit Baekma, dan berkali-kali berada di ambang maut.
Buku harian yang ditulisnya selama berada di garis depan kini dipamerkan di Museum Perang Luksemburg. Pada masa Perang Korea, ketika jumlah penduduk Luksemburg hanya sekitar 200.000 jiwa, negara itu mengirimkan 85 prajurit ke medan perang. Di antara 22 negara peserta Perang Korea, Luksemburg menjadi negara yang mengirimkan pasukan tempur terbanyak jika dibandingkan dengan jumlah penduduknya.
Kecintaan Hauffels terhadap Korea begitu besar hingga ia mengunjungi Korea lebih dari sepuluh kali. Ia pun memiliki kecintaan yang mendalam terhadap "Arirang", yang kerap ia nyanyikan, bahkan dalam acara-acara seperti pesta ulang tahun.
Pada tanggal 8 Mei 2023 (waktu setempat), lantunan "Arirang" menggema dalam upacara pemakaman Hauffels yang berlangsung dengan khidmat di sebuah gereja kecil di kawasan Remich, Luksemburg tenggara. Permintaan tersebut baru terwujud setelah keponakannya menemukan surat wasiat yang ditinggalkan Hauffels sebelum meninggal dunia setelah lama menderita sakit. Dalam surat itu, Hauffels berpesan agar "Arirang" dimainkan pada upacara pemakamannya.
Kementerian Urusan Patriot dan Veteran mengirimkan atase pertahanan dari Kedutaan Besar Korea di Belgia untuk menyerahkan plakat penghormatan. Kisah mengharukan tersebut kemudian diberitakan oleh berbagai media Korea dan menyentuh hati banyak orang. Pada Juli 2024, kisah Hauffels kembali mendapat perhatian melalui pameran khusus veteran Perang Korea asal Luksemburg yang digelar di War Memorial of Korea.
Kecintaan Gilbert Hauffels terhadap "Arirang" kembali mendapat sorotan dalam pameran khusus bertajuk Luksemburg dan 85 Orang Veteran yang digelar di War Memorial of Korea, Yongsan-gu, Seoul, pada Juli 2024. Foto memperlihatkan Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Luksemburg, Xavier Bettel (kanan), saat mengamati instalasi pameran yang didedikasikan untuk mengenang Hauffels. (Korea.net DB)
Upaya untuk mengenang para pahlawan yang telah mempertahankan kebebasan Republik Korea kini tidak hanya dilakukan oleh pemerintah, tetapi juga semakin meluas ke kalangan sipil dan sektor swasta.
Kisah para veteran Perang Korea yang mencintai "Arirang" turut diperkenalkan dalam video patriotik berjudul "Arirang for Everyone" yang baru-baru ini diproduksi oleh sebuah perusahaan Korea. Video tersebut memuat wawancara dengan para veteran Perang Korea dari dalam dan luar negeri, yang mengenang pengalaman mereka selama perang sekaligus menceritakan makna "Arirang" bagi mereka.
Dalam video tersebut, para veteran menggambarkan "Arirang" sebagai "lagu kebangsaan kedua", "himne solidaritas dalam mempertahankan kebebasan", sekaligus "simbol semangat juang". Meski berasal dari negara yang berbeda-beda, mereka dipersatukan oleh kecintaan yang sama terhadap "Arirang". Bagi mereka, "Arirang" tetap menjadi warisan yang mempersatukan semua orang, bahkan setelah 76 tahun berlalu sejak Perang Korea.