Berbagai wilayah di dunia kembali dilanda konflik dan peperangan. Di tengah semakin dalamnya pertikaian global, makna historis dari Perang Korea yang pecah pada tanggal 25 Juni 1950 terasa semakin penting. Memperingati 76 tahun pecahnya perang tersebut, Korea.net menghadirkan rangkaian kisah para veteran yang telah mempertahankan kebebasan Republik Korea. Tokoh pertama yang diangkat adalah Ralph Monclar, jenderal asal Prancis yang pada Mei lalu dipilih oleh Kementerian Patriot dan Veteran Korea sebagai Pahlawan Pertahanan Nasional Bulan Ini.
Penulis: Yoon Sojung, Oh Jung Eun, dan Uyen Nguyen
Video: Park Daejin
Jenderal Ralph Monclar (1892–1964). (Kementerian Urusan Patriot dan Veteran)
"Anakku tercinta. Suatu hari nanti engkau akan bertanya mengapa ayah harus pergi ke Korea. Ayah datang ke sini agar anak-anak Korea yang seusiamu tidak lagi harus tersesat di jalanan, di air, di lumpur, maupun di salju."
Prinsip luhur pahlawan perang Prancis Raoul Charles Magrin-Vernerey (1892–1964), yang lebih dikenal dengan nama Ralph Monclar, tercermin dalam surat yang ia tinggalkan untuk putranya yang baru berusia satu tahun.
Pada usia 59 tahun, veteran perang kawakan itu secara sukarela melepaskan pangkatnya sebagai jenderal bintang empat demi ikut bertempur dalam Perang Korea. Ketika pemerintah Prancis memutuskan mengirim satu batalion ke Korea, ia menurunkan pangkatnya menjadi letnan kolonel agar dapat menjabat sebagai komandan batalion dan berangkat ke medan perang. Pada Februari 1951, ia memegang peranan penting dalam kemenangan Pertempuran Jipyong-ni, salah satu pertempuran paling sengit dalam perang tersebut, yang menjadi titik balik dengan mengubah jalannya pertempuran hingga pasukan Tiongkok beralih dari menyerang menjadi bertahan.
Untuk mengenang jasa Jenderal Monclar dan pasukan Prancis yang bertempur dalam Perang Korea, Korea.net pada tanggal 17 Juni 2026 mengunjungi Pusat Studi Perang Korea Monclar di Universitas Kookmin. Di sana, Korea.net mewawancarai Lee Keunse, profesor di Fakultas Pendidikan Umum Universitas Kookmin sekaligus direktur pusat tersebut, serta Alain Nass, perwakilan Korea dari Asosiasi Veteran Prancis dalam Perang Korea di bawah panji PBB sekaligus wakil direktur pusat.
Berikut wawancara selengkapnya.
Lee Keunse (kiri), direktur Pusat Studi Perang Korea Monclar, dan Alain Nass, wakil direktur pusat tersebut, berfoto di Pusat Studi Perang Korea Monclar, Universitas Kookmin, pada tanggal 17 Juni 2026. Keduanya menilai Jenderal Monclar sebagai seorang pemimpin yang memiliki ketulusan sekaligus efektivitas, serta pahlawan yang sepanjang hidupnya memperjuangkan kebebasan. (Lee Jeong Woo)
- Bagaimana sosok Jenderal Ralph Monclar?
(Alain Nass dan Lee Keunse) Ia merupakan salah satu pahlawan perang terbesar dalam sejarah Prancis. Monclar bertempur dalam Perang Dunia I dan Perang Dunia II. Ketika Prancis diduduki oleh Nazi, ia menjadi salah satu pemimpin militer pertama yang bergabung dengan gerakan Prancis Merdeka yang dipimpin Jenderal Charles de Gaulle. Ia dikenal sebagai sosok yang teguh memperjuangkan kebebasan serta menentang segala bentuk totalitarianisme dan otoritarianisme.
Selain itu, ia juga dikenal sebagai pribadi yang hangat dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Demi ikut bertempur dalam Perang Korea, ia secara sukarela menurunkan pangkatnya menjadi letnan kolonel. Ia juga memiliki iman Katolik yang kuat serta kasih sayang yang mendalam terhadap keluarganya.
- Apa pencapaian dan peran Batalion Prancis dalam Perang Korea?
(Nass) Selama tiga tahun bertempur dalam Perang Korea, Batalion Prancis meraih kemenangan dalam seluruh 14 pertempuran besar yang mereka hadapi. Berkat pengalaman tempurnya yang sangat luas, Jenderal Monclar bahkan memberikan arahan mengenai strategi operasi kepada pasukan Amerika Serikat yang saat itu memimpin Komando PBB. Hal inilah yang menjadi salah satu kunci keberhasilan Batalion Prancis mencatatkan rekor 14 kemenangan dari 14 pertempuran. - Apa makna Pertempuran Jipyong-ni, dan adakah kisah yang menunjukkan kepemimpinan Jenderal Monclar?
(Nass) Kemenangan dalam Pertempuran Jipyong-ni pada Februari 1951 menjadi titik balik yang menentukan. Kemenangan tersebut menghentikan ofensif pasukan Tiongkok dan membuka jalan bagi pasukan PBB untuk kembali bergerak ke utara. Meski menghadapi pasukan Tiongkok yang jumlahnya sekitar sepuluh kali lebih besar, Jenderal Monclar menolak saran pasukan Amerika Serikat untuk mundur sambil menegaskan, "Kami akan bertahan hingga menit terakhir." Pada akhirnya, Panglima Pasukan Amerika Serikat, Jenderal Ridgway, menyetujui keputusan tersebut, dan mereka pun meraih kemenangan yang kemudian dikenang sebagai sebuah keajaiban.
- Apa makna keputusan Jenderal Monclar menurunkan pangkatnya dari jenderal bintang empat menjadi letnan kolonel demi ikut bertempur dalam Perang Korea?
(Nass) Keputusan itu lahir dari tekadnya bahwa Prancis harus ikut ambil bagian dalam perang pertama yang melibatkan pasukan multinasional di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang baru dibentuk. Saat itu, Prancis tengah kekurangan sumber daya akibat Perang Vietnam. Namun, Jenderal Monclar menemui para politikus dan meyakinkan mereka dengan mengatakan bahwa ia bersedia menurunkan pangkatnya asalkan Prancis dapat mengirim pasukan ke Korea. Keputusan tersebut juga lahir dari empatinya yang mendalam terhadap Korea yang menjadi korban invasi. Baginya, keadaan Korea tidak berbeda dengan Prancis yang pernah diduduki Jerman sebelum akhirnya memperoleh kembali kemerdekaannya.
- Kami mendengar bahwa Jenderal Monclar juga menunjukkan perhatian yang luar biasa kepada rakyat dan prajurit Korea.
(Lee) Kesaksian seorang veteran Perang Korea asal Korea yang bertemu Presiden Prancis Emmanuel Macron saat kunjungan kenegaraannya ke Korea pada April lalu turut membuktikan hal tersebut. Jenderal Monclar menghormati prajurit Korea sebagai tentara yang setara. Ia bahkan mengganti jatah pangan militer mereka dengan beras agar mereka dapat makan nasi, serta secara khusus menyiapkan seragam dan sepatu militer yang disesuaikan dengan postur tubuh orang Korea. Berkat keputusannya mengirim dua prajurit Korea untuk belajar di Akademi Militer Saint-Cyr, salah satu akademi militer paling bergengsi di Prancis, tradisi belajar di Prancis tersebut masih terus berlanjut hingga kini.
- Menurut Anda, bagaimana Jenderal Monclar seharusnya dikenang oleh generasi muda saat ini?
(Lee) Jenderal Monclar adalah seorang pemimpin yang memiliki dua kualitas utama yang dimiliki para tokoh besar, yakni ketulusan dan efektivitas. Kehangatan yang ia tunjukkan melalui surat-surat dari keluarga dan makanan berhasil ia ubah menjadi kekuatan untuk membangkitkan semangat juang para prajurit. Berpegang pada filosofinya bahwa "perang adalah surat dan makanan," ia memastikan setiap surat para prajurit dikirim kepada keluarga mereka melalui cara tercepat tanpa memedulikan biaya.
Sepanjang hidupnya, ia berjuang demi kebebasan. Kehidupan dan ajaran Jenderal Monclar merupakan warisan yang patut direnungkan oleh generasi muda masa kini ketika otoritarianisme kembali meluas di berbagai belahan dunia dan demokrasi menghadapi berbagai tantangan.
- Dapatkah Anda menjelaskan latar belakang pendirian Pusat Studi Perang Korea Monclar di Universitas Kookmin serta rencana ke depannya?
(Lee) Sejarah pertukaran antara Prancis dan Joseon yang telah berlangsung selama sekitar 250 tahun sejak abad ke-18 merupakan salah satu fondasi awal pertukaran budaya antara Timur dan Barat. Dalam proses meneliti sejarah tersebut, kami merasa prihatin karena dokumen mengenai partisipasi Prancis dalam Perang Korea masih sangat sedikit dikenal di Korea.
Pada Juli 2023, kami mendirikan pusat ini di Universitas Kookmin untuk mengelola secara resmi berbagai arsip yang disumbangkan oleh Roland Monclar, putra Jenderal Monclar. Sejak itu, bersama Asosiasi Veteran Prancis dalam Perang Korea di bawah panji PBB dan berbagai mitra lainnya, kami melaksanakan proyek Kementerian Urusan Patriot dan Veteran Korea untuk menghimpun catatan negara-negara peserta Perang Korea selama dua tahun. Melalui proyek tersebut, kami telah berhasil mengumpulkan dan menerjemahkan ribuan dokumen sejarah.
Saat ini, pusat kami menyelenggarakan konferensi akademik internasional setiap tahun serta aktif mengadakan berbagai program pendidikan dan kegiatan publik bagi generasi muda.
(Nass) Demi mewujudkan harapan terakhir para veteran Perang Korea, yaitu perdamaian dan rekonsiliasi di Semenanjung Korea, kami tengah merencanakan pembangunan taman perdamaian di sejumlah bekas medan pertempuran utama, seperti Jipyong-ri di Yangpyeong, Bukit Arrowhead di Cheorwon, Ridge of Heartbreak, serta kawasan sekitar Zona Demiliterisasi (DMZ).
- Dalam rangka peringatan 140 tahun hubungan diplomatik Korea-Prancis dan 76 tahun pecahnya Perang Korea, adakah pesan yang ingin Anda sampaikan kepada masyarakat kedua negara?
(Nass dan Lee) Hubungan Korea dan Prancis tidak dapat dipahami hanya melalui angka 140 tahun hubungan diplomatik resmi. Hubungan kedua negara perlu dipandang secara lebih utuh, mulai dari sejarah para misionaris Prancis yang hidup bersama rakyat Joseon sejak abad ke-19 dan akhirnya gugur sebagai martir. Kedua negara kemudian menjalin kerja sama ketika Pemerintahan Sementara Korea di Shanghai mendapat perlindungan dari Konsesi Prancis, dan hubungan itu semakin dipererat melalui Perang Korea hingga berkembang menjadi kemitraan yang dibangun atas nilai-nilai bersama.
Saat ini, perang di Ukraina kembali membangkitkan perhatian masyarakat Eropa terhadap makna historis Perang Korea. Sebagaimana generasi muda Eropa merenungkan situasi mereka melalui pengalaman Korea yang hingga kini masih terbelah, kami berharap generasi muda Korea juga dapat mengenang pengorbanan tentara Prancis yang datang dari negeri yang jauh 75 tahun lalu serta merenungkan kembali pentingnya perdamaian dan normalisasi di Semenanjung Korea.
Direktur Pusat Studi Perang Korea Monclar di Universitas Kookmin, Lee Keunse, mengatakan bahwa hubungan Korea dan Prancis telah terjalin selama lebih dari 250 tahun. Ia berharap pusat tersebut dapat menjadi jembatan bagi generasi muda Prancis yang tertarik pada budaya Korea untuk mengenal lebih dalam sejarah panjang dan erat yang menghubungkan kedua negara. (Lee Jeong Woo)
Alain Nass, perwakilan Korea dari Asosiasi Veteran Prancis dalam Perang Korea di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sekaligus wakil direktur Pusat Studi Perang Korea Monclar di Universitas Kookmin, mengatakan bahwa sebagaimana generasi muda Eropa berkaca pada situasi mereka saat ini melalui kenyataan bahwa Semenanjung Korea masih terbelah, ia berharap generasi muda Korea juga dapat merenungkan pentingnya normalisasi dan perdamaian di Semenanjung Korea melalui pengorbanan tentara Prancis yang datang dari negeri yang jauh 75 tahun silam. (Lee Jeong Woo)
Didirikan pada Juli 2023, Pusat Studi Perang Korea Monclar di Universitas Kookmin telah menerjemahkan dan mempublikasikan ribuan dokumen sejarah melalui proyek penggalian catatan partisipasi negara-negara dalam Perang Korea serta menyelenggarakan konferensi akademik internasional setiap tahun. Buku di bagian tengah foto merupakan memoar yang ditulis oleh putri Jenderal Monclar. (Lee Jeong Woo)