Kebudayaan

2026.06.25

Pemutaran film dokumenter Dutch Soldiers in the Korean War: Documenting the Living History, yang diproduksi Kedutaan Besar Belanda di Korea bersama tim Project Soldier, digelar pada tanggal 23 Juni 2026 di Seoul Art Cinema, Jung-gu, Seoul. Film tersebut mengisahkan perjalanan fotografer Rami Hyeon sejak tiba di Bandara Schiphol pada tanggal 12 Oktober 2025 hingga menemui, memotret, dan mewawancarai delapan veteran Perang Korea.

Pemutaran film dokumenter Dutch Soldiers in the Korean War: Documenting the Living History, yang diproduksi Kedutaan Besar Belanda di Korea bersama tim Project Soldier, digelar pada tanggal 23 Juni 2026 di Seoul Art Cinema, Jung-gu, Seoul. Film tersebut mengisahkan perjalanan fotografer Rami Hyeon sejak tiba di Bandara Schiphol pada tanggal 12 Oktober 2025 hingga menemui, memotret, dan mewawancarai delapan veteran Perang Korea.



Penulis: Yoon Sojung dan Lee Ji Yae
Foto: Park Daejin

"Ini bukan sekadar perang milik bangsa lain."

Lebih dari 70 tahun lalu, para pemuda bermata biru yang mengangkat senjata demi mempertahankan perdamaian dan kebebasan di negeri asing yang bahkan tidak mereka ketahui letaknya di peta, kini telah menjadi pria-pria berambut putih. Dengan suara lirih, mereka mengenang hari-hari itu.

Pada tanggal 23 Juni 2026 pemutaran film dokumenter yang berjudul Dutch Soldiers in the Korean War: Documenting the Living History digelar di Seoul Art Cinema, Jung-gu, Seoul. Acara yang menghadirkan kesan yang tenang namun begitu menyentuh itu diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Belanda di Korea untuk memperingati 75 tahun Pertempuran Hoengseong, salah satu pertempuran bertahan paling legendaris dalam Perang Korea. Lebih dari 100 penonton memadati ruang pemutaran.

Film tersebut merupakan hasil dari kampanye yang dijalankan Kedutaan Besar Belanda di Korea bersama fotografer Project Soldier, Rami Hyeon (Hyeon Hyo-jae). Melalui bidikan kameranya, kehidupan dan kenangan para veteran perang dirangkai menjadi sebuah kisah yang utuh.

Kamera mengikuti perjalanan Hyeon yang tiba di Bandara Schiphol, Amsterdam, Belanda, pada tanggal 12 Oktober 2025. Sejak menginjakkan kaki di negara itu, ia menjelajahi berbagai daerah di Belanda tanpa beristirahat satu hari pun untuk menemui delapan veteran Perang Korea.

Para pahlawan di layar menceritakan pengalaman mereka dengan tenang, tetapi begitu hidup. Delapan veteran, termasuk sineas Henk Bos, yang menulis skenario berdasarkan pengalamannya bertempur dalam Perang Korea, serta Herman van der Leelie, yang pernah ditemui Hyeon pada tahun 2017 dan tahun 2018, mengenang perjalanan hidup mereka, mulai dari keputusan untuk bergabung sebagai tentara hingga kehidupan setelah kembali ke tanah air.

"Selama bertahun-tahun setelah pulang ke negara kami, kami sempat dilupakan dan tidak mendapat pengakuan. Namun, kami tidak pernah menyesal karena kami yakin telah melakukan hal yang benar."

"Korea pernah menjadi negeri yang hancur luluh, tetapi berhasil bangkit kembali. Kami bangga dapat menjadi bagian dari keajaiban itu."

Sambil mengenang kengerian yang mereka alami di garis depan sekaligus nilai-nilai kemanusiaan yang tumbuh di tengah perang, para veteran itu bersama-sama mengucapkan kalimat yang juga menjadi slogan Project Soldier. "Kebebasan tidaklah gratis."

Peran pasukan Belanda dalam Perang Korea tidak dapat dipandang sebelah mata. Saat itu, Belanda mengirimkan total 5.322 personel ke medan perang. Sebanyak 120 orang gugur, 645 lainnya terluka, sementara lima personel dinyatakan hilang dan tidak pernah kembali ke pelukan keluarga mereka.

Pertempuran Hoengseong pada Februari 1951, yang menjadi inspirasi penyelenggaraan acara ini, merupakan pertempuran pertahanan yang berlangsung dengan sengit sekaligus heroik. Di tengah ofensif besar-besaran pasukan Tiongkok, pasukan Belanda tetap bertahan meski mengalami kerugian besar, termasuk gugurnya komandan mereka, Letnan Kolonel Den Ouden.

Berkat pengorbanan mereka yang mempertaruhkan nyawa demi mengulur waktu, pasukan Republik Korea dan pasukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berhasil mundur dengan aman. Perlawanan tersebut kemudian menjadi salah satu faktor penting yang membuka jalan bagi kemenangan dalam Pertempuran Jipyong-ni, yang kelak menjadi titik balik Perang Korea.

Usai pemutaran film, suasana haru masih terasa memenuhi ruang bioskop. Monique van der Steen, penasihat senior bidang keamanan Komando PBB sekaligus kepala Delegasi Belanda untuk Komando PBB, mengatakan bahwa pendekatan sutradara, Rami Hyeon, yang terkadang akrab dan di lain waktu serius membuat kisah para veteran tersampaikan dengan sangat baik.

Ia mengatakan, "Saya bersyukur masih dapat melihat para veteran melalui film ini. Sebagai rekan sesama veteran, saya merasa sangat berterima kasih dan berharap film ini juga dapat diputar di Belanda."

Onny Jalink, wakil kepala misi Kedutaan Besar Belanda di Korea, menjelaskan makna film tersebut sebagai berikut.

"Karya ini merupakan penghormatan bagi kehidupan yang telah dibangun para veteran setelah perang, kenangan yang mereka simpan sepanjang hidup, serta ikatan yang terus terjalin antara Belanda dan Korea. Film ini juga menyoroti persahabatan kedua negara yang kian erat dan kokoh, yang dibangun atas nilai-nilai bersama dan kerja sama yang telah berlangsung selama beberapa dekade," ujarnya.

Yang Daeun, staf Tim Kerja Sama Internasional Kantor Pendidikan Metropolitan Seoul, mengatakan, "Ini pertama kalinya saya mendengar kisah para veteran sedetail ini. Saya merasa memperoleh pengalaman baru sekaligus dipenuhi rasa syukur."

Pengorbanan mereka yang menumpahkan darah demi kebebasan negeri lain lebih dari 70 tahun lalu tidak pernah sia-sia. Kemakmuran Korea yang tumbuh dari puing-puing perang kini menjadi medali paling berharga yang tersimpan di hati para veteran.

Dalam pemutaran film dokumenter Dutch Soldiers in the Korean War: Documenting the Living History yang berlangsung di Seoul Art Cinema, Jung-gu, Seoul, pada tanggal 23 Juni 2026, Onny Jalink, wakil kepala misi Kedutaan Besar Belanda di Korea, mengatakan bahwa karya ini merupakan penghormatan bagi kehidupan yang mereka bangun setelah perang, kenangan yang mereka simpan sepanjang hidup, serta ikatan yang terus terpelihara antara Belanda dan Korea.

Dalam pemutaran film dokumenter Dutch Soldiers in the Korean War: Documenting the Living History yang berlangsung di Seoul Art Cinema, Jung-gu, Seoul, pada tanggal 23 Juni 2026, Onny Jalink, wakil kepala misi Kedutaan Besar Belanda di Korea, mengatakan bahwa karya ini merupakan penghormatan bagi kehidupan yang mereka bangun setelah perang, kenangan yang mereka simpan sepanjang hidup, serta ikatan yang terus terpelihara antara Belanda dan Korea.


Kedutaan Besar Belanda di Korea menggelar pemutaran film dokumenter Dutch Soldiers in the Korean War: Documenting the Living History pada tanggal 23 Juni 2026 di Seoul Art Cinema, Jung-gu, Seoul. Lebih dari 100 penonton memadati ruang pemutaran untuk mengenang pengorbanan para veteran Perang Korea serta makna historis perjuangan mereka.

Kedutaan Besar Belanda di Korea menggelar pemutaran film dokumenter Dutch Soldiers in the Korean War: Documenting the Living History pada tanggal 23 Juni 2026 di Seoul Art Cinema, Jung-gu, Seoul. Lebih dari 100 penonton memadati ruang pemutaran untuk mengenang pengorbanan para veteran Perang Korea serta makna historis perjuangan mereka.


arete@korea.kr

konten yang terkait