Foto di atas merupakan potret sebuah pernikahan massal sebuah perusahaan yang digelar pada tahun 1970-1980. Foto diambil pada tanggal 23 Mei 2026 dalam pameran khusus bertajuk "Buku Putih Pernikahan" yang digelar di Museum Ulsan hingga tanggal 26 Juli 2026.
Penulis: Hong Angie
Foto: Hong Angie
Pernikahan di Korea berubah seiring dengan perkembangan zaman dan masyarakat, mulai dari upacara pernikahan tradisional pada masa lalu, pernikahan massal di era kontemporer, hingga pernikahan modern di masa kini.
Potret proses pyebaek dan sillang darugi dalam pernikahan tradisional Korea.
Pernikahan tradisional dahulu merupakan sebuah hajat komunitas yang melibatkan seluruh warga desa, keluarga besar, dan kerabat.
Salah satu ritual pernikahan tradisional merupakan sillang darugi yang dilakukan sebelum malam pertama.
Dalam ritual tersebut, pengantin pria diterima sebagai bagian dari komunitas sekaligus bertujuan untuk mempererat ikatan sosial.
Setelah upacara pernikahan selesai, pengantin pria dan wanita berganti pakaian dengan hanbok lalu mengikuti prosesi pyebaek, yaitu pemberian penghormatan resmi kepada orang tua dan kerabat dari kedua keluarga.
Pyebaek merupakan prosesi yang menegaskan bahwa pernikahan kedua mempelai merupakan penyatuan hubungan antara dua keluarga.
Tradisi orang tua melemparkan kurma dan kastanya ke rok pengantin wanita sebagai doa agar pasangan dikaruniai banyak keturunan pun masih dilakukan hingga saat ini.
Namun, pyebaek yang dahulu merupakan prosesi wajib, kini menjadi pilihan yang disesuaikan dengan nilai dan pandangan masing-masing mempelai.
Dalam pernikahan tradisional di masa lalu, keharmonisan yin dan yang sangat dijunjung. Oleh karena itu, pihak pengantin pria mengenakan hanbok bernuansa biru, sedangkan pihak pengantin wanita mengenakan hanbok bernuansa merah. Kebiasaan tersebut masih berlanjut hingga kini.
Salah satu tradisi yang bertahan kuat hingga saat ini adalah budaya hanbok yang dikenakan oleh ibu dari kedua mempelai.
Berdasarkan prinsip keharmonisan yin dan yang, ibu dari pihak pengantin pria mengenakan hanbok bernuansa biru, sedangkan ibu dari pihak pengantin wanita mengenakan hanbok bernuansa merah.
Di tengah upacara pernikahan bergaya Barat, terdapat prosesi penyalaan lilin oleh ibu dari kedua mempelai setelah mereka masuk dengan bergandengan tangan.
Penanak nasi listrik dan buku tabungan deposito untuk pengantin baru di masa industrialisasi Korea.
Tahun 1970-1980 di Korea merupakan era industrialisasi yang berkembang pesat. Saat itu, perusahaan-perusahaan besar menggelar pernikahan massal sebagai bagian dari program kesejahteraan internal.
Hadiah yang diberikan kepada para pengantin baru saat itu bukanlah angpau berisi uang, melainkan penanak nasi listrik dan buku tabungan deposito.
Hadiah tersebut bertujuan untuk membantu pasangan pengantin baru untuk membangun kehidupan mandiri secara praktis.
Di era modern ini, angpau diberikan kepada pengantin baru dengan sejumlah uang yang disesuaikan dengan biaya jamuan dalam resepsi dan tingkat kedekatan dengan mempelai.
Kini pernikahan di Korea bukan lagi menjadi hajat komunitas, melainkan menjadi pesta bagi mempelai yang disusun sesuai dengan keinginan masing-masing mempelai.
Pasangan merancang upacara pernikahan mereka sesuai dengan selera mereka dengan memanfaatkan sistem paket yang mencakup pemotretan studio, gaun pengantin, dan tata rias.
Anggaran pun dibagi secara fleksibel sesuai dengan prioritas masing-masing pasangan. Selain itu, untuk mendapatkan ruang resepsi di gedung pernikahan populer, calon pengantin harus melakukan reservasi setahun sebelumnya.
shong9412@korea.kr