Paket Just Dream yang dipajang di Love Sharing Food Market, Yeongdeungpo-gu, Seoul, pada tanggal 28 Januari 2026.
Penulis: Kim Seon Ah
Foto: Kim Seon Ah
"Menemukan kelompok rentan merupakan inti dari program ini."
Choi Jeong Hun, asisten manajer Dewan Kesejahteraan Sosial Yeongdeungpo-gu, Seoul, merangkum program Just Dream dalam satu kalimat. Sekilas, tempat ini tampak seperti gudang gratis tempat siapa pun dapat mengambil bahan pangan dan kebutuhan pokok secara bebas. Namun, hakikatnya bukan sekadar penyediaan barang. Program ini bertujuan membaca kerawanan pangan sebagai sinyal krisis dan menghubungkan mereka yang selama ini berada di luar jangkauan administrasi ke dalam sistem kesejahteraan sosial.
Sistem kesejahteraan yang ada selama ini berlandaskan prinsip berbasis permohonan, sehingga penerima manfaat harus membuktikan sendiri tingkat pendapatan dan kelayakannya. Namun, rumah tangga rentan yang belum terjangkau sistem kesejahteraan umumnya gagal melewati ambang tersebut akibat keterbatasan informasi serta beban psikologis berupa efek stigma.
Program Just Dream dari Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan membalikkan urutan tersebut sepenuhnya. Proses penilaian kelayakan dan prosedur pembuktian yang rumit ditiadakan. Cukup dengan berkunjung, pengunjung langsung menerima 3 hingga 5 jenis bahan pangan dan kebutuhan pokok. Setiap warga yang mengalami kesulitan ekonomi dapat memperoleh bantuan secara langsung, hanya dengan mencantumkan nama dan informasi kontak pada kunjungan pertama. Ini merupakan hasil dari kebijakan yang menjadikan akses universal, bukan pembuktian kemiskinan, sebagai titik awal baru dalam perumusan kebijakan.
Nilai sejati program ini baru terwujud sejak kunjungan kedua. Ketika pengguna kembali datang, mereka diminta mengisi lembar konseling yang mencakup kondisi dasar kehidupan, termasuk tingkat pendapatan, bentuk hunian, serta status kepemilikan rumah. Catatan hasil konseling ini menjadi petunjuk penting bagi administrasi, karena siapa yang datang dan seberapa sering mereka mengunjungi tempat ini merupakan indikator kedalaman krisis yang dihadapi oleh rumah tangga terkait.
Apabila dalam proses ini teridentifikasi adanya kesulitan nyata, pengguna akan diarahkan ke layanan penggunaan rutin food market atau dukungan kesejahteraan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Dengan mekanisme ini, mereka yang membutuhkan bantuan, tetapi sebelumnya tidak menerimanya karena tidak mengetahui program yang tersedia dapat secara alami masuk ke dalam jaringan administrasi.
Choi mengatakan, "Karena program ini dapat diakses oleh siapa saja tanpa pembatasan, tingkat aksesibilitasnya meningkat secara signifikan. Hasilnya, kini terbuka jalur untuk benar-benar menemukan kelompok rentan."
Capaian program ini tercermin secara jelas dalam berbagai indikator. Program percontohan yang dimulai pada tanggal 1 Desember 2025 di 56 lokasi di seluruh negeri berhasil diperluas menjadi lebih dari 70 lokasi hanya dalam waktu dua pekan. Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan, setelah memastikan efektivitas program tersebut, pada bulan Januari 2026 menetapkan kebijakan untuk mengalihkannya menjadi program utama tahun ini serta memperluas jumlah titik operasional hingga 150 lokasi secara nasional.
Kini, keberhasilan program ini tidak lagi ditentukan oleh bantuan barang yang bersifat sesaat, melainkan oleh sejauh mana program ini mampu mengidentifikasi secara presisi kelompok yang belum terjangkau kesejahteraan dan mengintegrasikan mereka secara berkelanjutan ke dalam sistem bantuan sosial publik.
Kelompok rentan sering kali tidak menampakkan diri. Program Just Dream menatap kenyataan ini secara jujur. Program ini lebih dulu membuka pintu, lebih dulu memberi, lalu baru bertanya. Dengan pendekatan tersebut, Just Dream kembali mempertanyakan dari mana seharusnya kesejahteraan sosial dimulai.
sofiakim218@korea.kr