Ratusan ekor salmon Atlantik tumbuh di ruang pembenihan ikan (atas) dan ruang pembesaran tahap menengah (bawah) di Eco Aquafarm yang dibangun di Gijang-gun, Kota Busan.
Foto di atas menampilkan telur salmon yang embrionya telah membentuk mata dan ditempatkan di ruang penetasn pada Maret 2025.
Eco Aquafarm menetaskan telur salmon yang diimpor dari Islandia, kemudian membesarkannya hingga menjadi ikan dewasa dalam waktu sekitar dua tahun.
Tahap pertama budi daya tersebut adalah penetasan. Setiap kuartal, sekitar 40 ribu telur salmon ditetaskan di ruang khusus yang dirancang menyerupai kondisi musim dingin di Norwegia. Suhu air pun dijaga agar tetap rendah, yaitu 4-8 derajat Celcius dengan kondisi yang minim cahaya.
Sekitar tiga bulan setelahnya, benih salmon dipindahkan ke ruang pembenihan setelah cadangan nutrisi dalam kantung telur habis diserap, kemudian diberi pakan untuk pertama kalinya.
Ketika bobot benih salmon mencapai 30 gram, ikan dipindah ke ruang produksi smolt untuk menjalani proses aklimatisasi terhadap air laut.
Setelah bobotnya mencapai sekitar 450 gram, salmon dipindahkan ke ruang pembesaran tahap menengah yang berisi air laut. Di sana ikan dibesarkan selama sekitar enam bulan hingga bobotnya mencapai dua kilogram.
Pada tahap terakhir, salmon dipindahkan ke ruang pembesaran akhir. Setelah tumbuh menjadi ikan dewasa dengan bobot lima kilogram, salmon siap dipanen dan dipasarkan.
Panorama Eco Aquafarm yang dipotret pada Desember 2024. Fasilitas yang dibangun di Busan tersebut merupakan fasilitas budi daya salmon Atlantik berbasis darat terbesar di Korea.
Pemerintah pada awalnya membatasi keterlibatan perusahaan-perusahaan besar dalam budi daya industri perikanan di Korea.
Namun, setelah undang-undang terkait direvisi pada tahun 2019, perusahaan-perusahaan besar diizinkan memasuki sektor budi daya berbasis darat yang membutuhkan investasi fasilitas berskala besar dan teknologi canggih.
Kepala Tim Pengelolaan Budi Daya Eco Aquafarm, Min Hojune, menjelaskan alasan perusahaannya memilih salmon sebagai komoditas utama.
"Salmon sangat diminati di seluruh dunia. Selain lebih menguntungkan dibandingkan dengan jenis ikan lain, tingkat konsumsinya di Korea juga cukup tinggi," ujar Min.
Sejumlah fasilitas budi daya salmon berbasis darat di Eropa hanya membesarkan salmon muda di darat sebelum memindahkannya ke laut. Namun, Eco Aquafarm mengelola seluruh siklus pertumbuhannya di fasilitas yang mereka miliki.
Dong menjelaskan, "Kami memandang usaha ini bukan semata-mata sebagai sumber pendapatan dan keuntungan, melainkan sebagai bagian dari persiapan menghadapi masa depan industri perikanan."
Ia menambahkan, "Budi daya konvensional dengan keramba laut menghadapi berbagai keterbatasan, seperti pencemaran laut dan penyakit."
"Oleh karena itu, kemampuan untuk menguasai teknologi budi daya berbasis darat secepat mungkin akan menjadi kunci pada masa mendatang," ujar Dong.
Para pegawai Eco Aquafarm menata sasyimi yang menggunakan salmon yang mereka panen di fasilitas budi daya pada Mei 2026.
Menurut Eco Aquafarm, keunggulan terbesar salmon hasil budi daya dalam negeri adalah waktu distribusinya yang lebih singkat. Dengan demikian, salmon dapat sampai ke konsumen dalam kondisi yang lebih segar dibandingkan dengan produk impor.
Dong mengatakan, "Salmon impor membutuhkan waktu yang cukup lama sebelum dapat dikonsumsi. Sementara itu, salmon yang kami hasilkan dapat segera diolah dan didistribusikan setelah dipanen sehingga perbedaan tingkat kesegarannya akan sangat terasa."
Namun, statusnya sebagai produk dalam negeri belum cukup untuk membuatnya mampu bersaing dari sisi harga.
"Budi daya berbasis darat membutuhkan biaya besar untuk fasilitas dan teknologi. Akibatnya, harga jual produk pada tahap awal pasti relatif tinggi," ujar Dong.
"Saat ini kami berfokus pada pengembangan teknologi budi daya dan fasilitas. Seiring bertambahnya siklus produksi, kami akan mencari berbagai aspek yang dapat dihemat untuk menekan biaya produksi," tambahnya.
Eco Aquafarm telah meluncurkan paket hadiah Chuseok yang berisi salmon dari panen perdananya. Ke depan, fasilitas tersebut berencana memasarkan sekitar 500 ton salmon per tahun.
Infrastruktur budi daya cerdas yang dikembangkan dengan dukungan Kementerian Kelautan dan Perikanan kini mulai meluas ke daerah lain.
Pembangunan fasilitas budi daya salmon Atlantik berkapasitas 1.000 ton pun kini sedang dipersiapkan di Kota Pohang, Provinsi Gyeongsangbuk.
Sementara itu, Dongwon Industries tengah menyiapkan fasilitas budi daya berbasis darat berskala besar dengan kapasitas 10 ribu ton di Kota Yangyang, Provinsi Gangwon.
Perusahaan tersebut juga mengkaji pemanfaatan air laut dalam yang bersuhu rendah untuk menekan biaya pendinginan yang diperlukan dalam budi daya salmon.
caudouin@korea.kr