Para pejabat dan warga setempat berfoto bersama dalam acara pembukaan Minimarket Hati Seoul cabang Songpa pada tanggal 7 April 226. (Pusat Kesejahteraan Sosial Komprehensif Macheon Songpa-gu)
Penulis: Hong Angie
Makan sendirian sudah menjadi kebiasan sehari-hari di Korea. Namun, tidak sedikit warga yang merasakan kesepian di tengah kebiasaan untuk makan sendirian.
Pemerintah Kota Seoul mengoperasikan 19 cabang Minimarket Hati Seoul untuk membantu warga yang terisolasi agar dapat beristirahat tanpa beban sekaligus kembali terhubung dengan warga lain.
Setiap pusat kesejahteraan sosial di berbagai distrik turun berperan aktif dalam menyediakan layanan konseling dan berbagai program untuk membantu pemulihan emosional warga.
Anggota Tim Pencegahan Pengucilan Pusat Kesejahteraan Sosial Komprehensif Macheon Songpa-gu sekaligus Manajer Minimarket Hati Seoul cabang Songpa, Jeong Su-jin, berbincang dengan warga yang berkunjung ke Minimarket Hati Seoul cabang Songpa pada tanggal 20 Mei 2026. (Hong Angie)
"Tempat ini bukan sekadar ruang yang menyediakan mi instan gratis, melainkan ruang untuk menemukan warga yang merasakan kesepian dan keterasingan lalu menghubungkan mereka dengan orang lain."
Hal tersebut diungkapkan oleh anggota Tim Pencegahan Pengucilan Pusat Kesejahteraan Sosial Komprehensif Macheon Songpa-gu sekaligus Manajer Minimarket Hati Seoul cabang Songpa, Jeong Su-jin.
Di ruang tersebut, 'manajer toko' bukanlah pengelola yang bertugas untuk meningkatkan omzet, melainkan sebutan bagi pekerja sosial yang bertugas untuk memperhatikan kehidupan sehari-hari warga.
Minimarket Hati Seoul merupakan tempat yang dikunjungi oleh warga dengan beragam kisah, seperti warga yang merasa kesepian saat bekerja sendirian sebagai kurir hingga kelompok usia paruh baya yang terputus dari masyarakat karena harus merawat anggota keluarga yang sakit.
Banyak warga yang mengatakan bahwa mereka segan berkunjung ke pusat kesejahteraan sosial, tetapi dapat masuk dengan nyaman ke minimarket tersebut.
Salah satu ciri khas dari minimarket itu adalah tingginya proporsi pengunjung dari kalangan usia paruh baya.
Jeong mengatakan, "Bagi banyak orang paruh baya, meminta bantuan sering kali terasa sulit. Namun, mereka dapat membuka hati dengan nyaman di ruang sehari-hari mereka dibandingkan dengan di pusat kesejahteraan sosial."
Ia menambahkan, "Ada yang awalnya masuk secara ragu-ragu sambil bertanya mengenai kimbap yang dijual di sini lalu mencurahkan isi hatinya."
Jeong menuturkan, "Ada pula yang mengatakan bahwa ia datang karena tertarik dengan nama 'minimarket' sehingga saya merasa bahwa ruang ini memiliki kekuatan untuk menarik mereka yang merasa kesepian."
Potret bagian dalam Minimarket Hati Seoul Cabang Songpa. (Hong Angie)
Di berbagai sudut ruangan tersedia meja untuk satu orang dan tempat duduk yang memungkinkan pengunjung untuk berdiam diri dengan tenang karena mereka yang kesepian biasanya merasa terbebani jika harus duduk berhadapan dengan orang lain.
Mi instan pun tidak diberikan secara cuma-cuma. Mi tersebut hanya diberikan kepada mereka yang mengikuti program atau membutuhkan konseling sebagai media untuk membuka percakapan dengan fokus pada pemulihan hubungan.
Berbagai program pun disediakan sesuai dengan kebutuhan warga agar mereka tertarik untuk datang, seperti program pemulihan fisik dan mental, program bagi pria paruh baya, program pelatihan kerajinan kayu, serta pertemuan bagi para wanita.
Jeong mengungkapkan bahwa kesejahteraan sosial berada dekat dengan kehidupan warga sehingga ia berharap Minimarket Hati Seoul dapat menjadi titik awal bagi mereka yang kesepian untuk kembali ke masyarakat.
Pemerintah Kota Soeul berencana menambah Minimarket Hati Seoul hingga mencapai 25 cabang pada akhir tahun 2026.
shong9412@korea.kr