Warga Korea yang berhasil mengatasi keadaan darurat militer pada tanggal 3 Desember 2024, direkomendasikan untuk dicalonkan sebagai penerima Nobel Perdamaian. Foto di atas menunjukkan warga Korea yang berpartisipasi dalam demonstrasi damai dengan aksi nyala lilin untuk meminta pemakzulan mantan Presiden Yoon Suk Yeol pada tanggal 6 Desember 2024 di dekat Majelis Nasional, Yeongdeungpo-gu, Kota Seoul. (Yonhap News)
Penulis: Xu Aiying
Warga Korea yang berhasil mengatasi keadaan darurat militer pada tanggal 3 Desember 2024, direkomendasikan untuk dicalonkan sebagai penerima Nobel Perdamaian.
Berbagai media Korea pada tanggal 19 Februari 2026 melaporkan pencalonan yang didorong oleh para ahli politik tersebut.
Berbagai ahli politik pada bulan Januari 2026 telah merekomendasikan seluruh warga Korea yang telah menggagalkan keadaan darurat militer, sebagai calon penerima Nobel Perdamaian kepada Komite Nobel.
Perekomendasi tersebut terdiri dari empat orang, termasuk Kim Euiyoung yang merupakan dosen ilmu politik Universitas Nasional Seoul serta mantan Kepala Ketua Penyelenggaraa Sidang Umum Seoul IPSA (Asosiasi Ilmu Politik Internasional).
Mereka menyebut usaha warga yang menggagalkan darurat militer ilegal tersebut sebagai Revolusi Cahaya. Mereka pun menyebut usaha tersebut sebagai contoh kasus global saat warga berpartisipasi tanpa kekerasan untuk mengatasi krisis konstitusi.
Presiden Lee Jae Myung pun menyampaikan pesan melalui akun X pribadinya saat berita ini terdengar olehnya. Ia menyatakan, "Hal tersebut mungkin terjadi karena Korea adalah negara dengan rakyat yang besar dan hal ini akan menjadi teladan bagi sejarah umat manusia. Korea pasti bisa!"
IPSA merupakan sebuah organisasi akademis dunia yang didirikan di bawah naungan UNESCO pada tahun 1949. Sidang umum IPSA diadakan dua tahun sekali dan Presiden Lee telah menjadi pembicara utama pada Upacara Pembukaan Sidang Umum Seoul yang digelar Juli 2024.
Presiden Lee pun telah menyebutkan hal tersebut melalui Pernyataan Resmi Khusus kepada Seluruh Rakyat dalam Rangka Peringatan Satu Tahun Revolusi Cahaya yang disampaikan pada tanggal 3 Desember 2025.
Ia berpidato dengan mengatakan, "Saya yakin bahwa warga Korea memiliki kualifikasi yang cukup untuk bisa meraih Nobel Perdamaian."
Presiden Lee pun menambahkan, "Apabila Republik Korea menerima Nobel Perdamaian atas jasanya dalam menyelamatkan demokrasi, memulihkan perdamaian, serta memperlihatkan keagungan demokrasi kepada dunia, maka hal tersebut akan menjadi momentum penting bagi negara-negara yang sedang dilanda konflik dan perpecahan."
xuaiy@korea.kr