Tim peneliti yang dipimpin oleh Direktur Pusat Penelitian RNA di IBS (Institute of Basic Science), V. Narry Kim, telah menganalisis 337 spesies virus yang menginfeksi vertebrata serta menemukan berbagai elemen pengatur yang meningkatkan stabilitas RNA dan sintesis protein. (iClickArt) *Reproduksi dan pendistribusian ulang foto di atas secara tidak sah dilarang berdasarkan undang-undang hak cipta.
Penulis: Lee Jihae
Terungkapnya strategi bertahan hidup yang telah dikembangkan virus selama jutaan tahun evolusinya telah membuka jalan untuk meningkatkan kinerja vaksin dan terapi berbasis mRNA secara signifikan.
Tim peneliti yang dipimpin oleh Direktur Pusat Penelitian RNA di IBS (Institute of Basic Science), V. Narry Kim, telah menganalisis 337 spesies virus yang menginfeksi vertebrata serta menemukan berbagai elemen pengatur yang meningkatkan stabilitas RNA dan sintesis protein.
Kementerian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Informasi mengumumkan pada tanggal 14 Agustus 2026 bahwa tim peneliti tersebut telah berhasil mengungkap mekanisme kerja elemen-elemen itu.
Tim peneliti selama ini berfokus pada penerapan strategi pengaturan RNA milik virus dalam pengembangan vaksin dan terapi mRNA.
Dalam penelitian sebelumnya, mereka telah menemukan elemen penstabil RNA pada virus serta membuktikan bahwa penerapannya pada mRNA terapeutik dapat meningkatkan stabilitas RNA dan jumlah protein yang dihasilkan.
Dalam penelitian lanjutan kali ini, tim peneliti membagi dan menyintesis genom dari 337 spesies virus yang mencakup 297 genus penginfeksi vertebrata menjadi 200 ribu fragmen RNA.
Selanjutnya, melalui MPRA (massively parallel reporter assay), tim peneliti menganalisis secara sistematis mengenai keragaman, mekanisme kerja, dan karakteristik evolusioner elemen pengatur RNA virus.
Elemen pengatur RNA bernama Pt1 yang ditemukan dalam penelitian dinilai memiliki potensi pemanfaatan yang besar.
Alasannya karena Pt1 mampu membuat mRNA linear memiliki tingkat stabilitas yang sebanding dengan RNA sirkular tanpa mengubah bentuk linearnya.
Oleh karena itu, Pt1 dapat mempertahankan keunggulan mRNA linier yang relatif lebih mudah diproduksi sekaligus memperpanjang masa hidup RNA dan meningkatkan efisiensi sintesis protein.
Temuan tersebut diharapkan dapat menjadi landasan bagi teknologi inovatif baru untuk meningkatkan kinerja vaksin dan terapi mRNA generasi mendatang.
Hasil penelitian itu telah dipublikasikan di jurnal ilmiah Cell pada tanggal 14 Agustus 2026.
jihlee08@korea.kr