Sci/Tekno

2026.06.18

Seorang pejabat Konsorsium Kerja Sama Teknologi Pertanian dan Pangan Korea-Afrika (KAFACI) memperlihatkan bibit padi CHEYI, varietas padi berproduktivitas tinggi yang dikembangkan di Gabon dengan memanfaatkan varietas padi tipe Tongil. (RDA)

Seorang pejabat Konsorsium Kerja Sama Teknologi Pertanian dan Pangan Korea-Afrika (KAFACI) memperlihatkan bibit padi CHEYI, varietas padi berproduktivitas tinggi yang dikembangkan di Gabon dengan memanfaatkan varietas padi tipe Tongil. (RDA)



Penulis: Kim Seon Ah

Varietas padi yang dikembangkan Korea mulai mengubah lanskap ketahanan pangan di Afrika.

Badan Administrasi Pembangunan Pertanian (RDA) pada tanggal 11 Juni 2026 mengumumkan bahwa proyek Africa Rice Development Partnership yang dijalankan oleh Konsorsium Kerja Sama Teknologi Pertanian dan Pangan Korea-Afrika (KAFACI) selama 10 tahun terakhir telah berhasil mengembangkan dan mendaftarkan 71 varietas padi di 15 negara Afrika serta melatih 44 pemulia padi dari 23 negara.

RDA juga telah menyelesaikan dengan sukses tahap pertama proyek Africa Rice Development Partnership (2016–2025) yang dilaksanakan bersama lembaga internasional AfricaRice.

Padi merupakan tanaman pangan terpenting kedua di Afrika setelah jagung. Namun, produktivitas padi di kawasan ini hanya mencapai 2,4 ton per hektare, atau kurang dari separuh produktivitas Asia yang mencapai 5,0 ton per hektare. Di tengah ketergantungan sebagian besar negara Afrika pada impor beras, RDA berhasil menciptakan perubahan yang signifikan.

Dengan memanfaatkan teknologi kultur antera dan varietas padi tipe Tongil, RDA mengembangkan 71 varietas padi di 15 negara. Varietas-varietas tersebut mencatat produktivitas sebesar 6,6 hingga 6,8 ton per hektare, hampir tiga kali lebih tinggi dibandingkan varietas yang ada sebelumnya. Selain produktivitas yang tinggi, kualitas dan cita rasa nasinya juga dinilai unggul sehingga mendapat sambutan positif di kalangan petani setempat.

Di Gabon, tiga varietas—CHEYI, MBOMA, dan MOUKAFACI-1—terdaftar sebagai varietas padi pertama dalam sejarah negara tersebut. Sementara itu, di Senegal, enam varietas seri ISRIZ telah dikembangkan dan didistribusikan. Beberapa varietas bahkan terbukti memiliki produktivitas lebih dari dua kali lipat dibandingkan varietas unggulan yang telah ada sebelumnya.

Transfer teknologi inti juga membuahkan hasil. Sebanyak 44 pemulia padi yang telah dilatih dari 23 negara kini memperkuat kapasitas pemuliaan lokal dan turut mendorong standardisasi teknologi budidaya di berbagai negara Afrika.

Proyek K-Rice Belt di Afrika yang dijalankan bersama Kementerian Pertanian, Pangan, dan Peternakan juga menunjukkan perkembangan pesat. Berkat sistem produksi dan distribusi benih unggul yang semakin terstruktur, produksi benih padi meningkat tajam dari 2.321 ton pada tahun 2023 menjadi 6.365 ton pada tahun l2025. Mulai tahun 2027, proyek ini menargetkan sistem produksi yang stabil dengan kapasitas tahunan mencapai 10.000 ton.

Mulai tahun ini, RDA meluncurkan tahap kedua proyek Africa Rice Development Partnership yang berfokus pada pengembangan varietas padi yang mampu tumbuh dalam kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan, termasuk kekeringan, suhu dingin, dan salinitas tinggi.

sofiakim218@korea.kr

konten yang terkait