Kim Min Ki, peneliti utama Tim Eksplorasi Antariksa di KARI (Institut Penelitian Dirgantara Korea), menjelaskan perangkat deorbit yang dikembangkan untuk menangkap dan menghilangkan sampah antariksa.
Penulis: Koh Hyunjeong
Foto: KARI
Sampah antariksa yang mengorbit Bumi kini menjadi ancaman baru. Satelit yang telah habis masa operasinya serta pecahan roket bergerak dengan kecepatan lebih dari 8 kilometer per detik, sehingga membahayakan keselamatan wahana antariksa maupun para astronaut. Adegan tabrakan puing-puing antariksa yang selama ini hanya terlihat dalam film kini menjadi persoalan nyata.
Menurut data yang dikonfirmasi oleh KASA (Badan Penerbangan dan Antariksa Korea) pada tahun 2025, jumlah sampah antariksa mencapai lebih dari 20.000 objek. Sebagian jatuh ke Bumi, tetapi sebagian besar tetap berada di orbit dan meningkatkan risiko tabrakan dengan benda antariksa lainnya. Masalahnya, biaya untuk membersihkan sampah antariksa tersebut sangat besar.
Untuk mengatasi tantangan ini, KARI (Institut Penelitian Dirgantara Korea) hadir dengan solusi baru. KARI baru-baru ini mengumumkan keberhasilannya mengembangkan perangkat deorbit yang mampu menangkap dan menyingkirkan sampah antariksa yang terus meningkat di orbit rendah Bumi, serta berhasil melakukan demonstrasi di darat.
Teknologi inti yang dikembangkan adalah sistem terpisah. Sistem ini memisahkan satelit pembersih sampah antariksa dari perangkat yang bertugas melakukan proses deorbit.
Metode konvensional untuk membersihkan puing antariksa mengharuskan satelit pembersih menangkap sampah antariksa, lalu memasuki atmosfer bersama objek tersebut hingga keduanya musnah. Cara ini memiliki kelemahan besar karena satelit yang bernilai tinggi hanya dapat digunakan satu kali sehingga efisiensinya sangat rendah.
Untuk mengatasi masalah tersebut, KARI melengkapi satu satelit pembersih dengan beberapa perangkat deorbit berukuran kecil. Satelit pembersih tetap berada di orbit dan dapat digunakan berulang kali, sementara setiap perangkat deorbit menempel pada sampah antariksa yang berbeda dan bertugas mengeluarkannya dari orbit secara mandiri.
Menurut KARI, pendekatan ini memungkinkan satelit digunakan kembali secara berulang sekaligus meningkatkan efisiensi biaya dalam pengelolaan sampah antariksa.
Perangkat deorbit sedang menjalani pengujian di Laboratorium Uji Lingkungan Peluncuran, Gedung Pengujian Satelit KARI.
Perangkat deorbit yang dikembangkan kali ini berukuran kecil, sekitar sebesar penanak nasi listrik. Meski demikian, mekanisme kerjanya cukup canggih.
Pertama, pelat penarik berperekat ditempelkan pada sampah antariksa untuk menarik objek tersebut ke arah perangkat. Setelah itu, empat penjepit akan mengunci sampah antariksa dengan kuat, lalu layar hambat akan terbuka. Meskipun badan perangkat berukuran kecil, luas layar hambat dapat mencapai sekitar 25㎡ saat terbentang sepenuhnya.
Layar hambat ini dapat terbuka hanya dengan memanfaatkan energi elastis tanpa memerlukan pendorong maupun sumber daya tambahan. Ketika layar terbuka, gesekan dengan partikel-partikel atmosfer yang sangat tipis di orbit rendah Bumi akan menghasilkan hambatan.
Hambatan tersebut secara bertahap memperlambat kecepatan sampah antariksa sehingga orbitnya semakin rendah. Pada akhirnya, objek tersebut akan memasuki kembali atmosfer Bumi dan terbakar hingga musnah melalui proses yang disebut de-orbiting.
Sebelum diterapkan di luar angkasa, tim peneliti berhasil mendemonstrasikan tiga fungsi utama perangkat ini, yakni penarikan, penangkapan, dan pembukaan layar hambat.
Secara khusus, mereka juga membuktikan bahwa sampah antariksa dapat dihilangkan dengan sistem tanpa daya melalui minimisasi penggunaan perangkat penggerak listrik.
Teknologi ini diperkirakan tidak hanya dapat digunakan untuk membersihkan sampah antariksa, tetapi juga berpotensi diterapkan pada berbagai bidang lain, termasuk teknologi rendezvous dan docking serta sistem propulsi layar surya untuk eksplorasi ruang angkasa jauh.
Kim Min Ki, peneliti utama di KARI, mengatakan bahwa jumlah sampah antariksa di sekitar Bumi terus meningkat.
Ia menambahkan, "Penelitian ini merupakan pencapaian penting yang berhasil memverifikasi potensi teknologi baru untuk menghilangkan sampah antariksa yang dapat digunakan kembali sekaligus lebih hemat biaya."
hjkoh@korea.kr