Infeksi virus Nipah dapat menyebabkan kematian akibat radang otak akut, tetapi hingga kini belum ada obat maupun vaksin yang digunakan untuk virus tersebut. (iClickArt) *Reproduksi dan pendistribusian ulang foto di atas secara tidak sah dilarang berdasarkan undang-undang hak cipta.
Penulis: Margareth Theresia
Korea mempercepat pengembangan obat dan vaksin untuk virus Nipah yang memiliki tingkat kematian hingga 75%.
Infeksi virus Nipah termasuk ke dalam delapan besar prioritas pengembangan obat serta vaksin di Korea sehingga pemerintah pusat meningkatkan meningkatkan teknologi dalam bidang terkait agar obat untuk infeksi vaksin Nipah bisa diproduksi secara massal hingga tahun 2030 mendatang.
Hal tersebut diungkapkan oleh Institut Kesehatan Nasional dalam Akademi Media Sains yang digelar pada tanggal 17 Maret 2026 di HJ Business Center Gwanghwamun, Jongno-gu, Seoul.
Pihak institut mengungkapkan bahwa saat ini pihaknya sedang mencari substansi obat yang cocok untuk digunakan kemudian meneliti penggunaan obat tersebut hingga menjalani uji praklinis di tahun 2028. Obat infeksi virus Nipah direncanakan akan bisa diproduksi mulai tahun 2030.
Vaksin virus Nipah juga akan menjalani uji klinis pada tahun 2029 setelah melalui pengembangan dengan teknologi mRNA.
Institut Kesehatan Nasional mengungkapkan strategi pengembangan obat dan vaksin virus Nipah di Korea dalam Akademi Media Sains yang digelar pada tanggal 17 Maret 2026 di HJ Business Center Gwanghwamun, Jongno-gu, Seoul.
Virus Nipah pertama kali dilaporkan pada tahun 1998 di Malaysia dan infeksinya terus dilaporkan terjadi hingga saat ini di India dan Bangladesh.
Infeksi terakhir dilaporkan pada bulan Januari 2026 di India dan Bangladesh sehingga Korea semakin khawatir dengan masuknya virus tersebut ke wilayahnya.
Infeksi virus Nipah memiliki tingkat kematian yang berkisar pada 40~75%, tetapi belum memiliki obat maupun vaksin yang disetujui dunia hingga saat ini.
Virus Nipah tidak menginfeksi manusia melalui saluran pernapasan seperti virus Covid-19, tetapi melalui cairan nira mentah atau makanan yang terkontaminasi maupun cairan dari tubuh manusia atau hewan yang terkontaminasi.
Apabila terinfeksi, gejala pertama sangat mirip dengan flu, yaitu demam dan sakit kepala. Akan tetapi, apabila gejala memburuk, orang yang terkena infeksi bisa terkena radang otak hingga meninggal.
Risiko virus Nipah yang tinggi membuat Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea menetapkan infeksi virus Nipah sebagai penyakit menular kategori pertama (prioritas) pada September 2025.
Direktur Jenderal Institut Kesehatan Nasional, Nam Jae-Hwan, mengungkapkan, "Infeksi virus Nipah sangat berisiko tinggi dan dapat membuat pandemi baru di masa depan."
Ia menambahkan, "Melalui kerja sama dengan lembaga penelitian dalam dan luar negeri, kami akan berusaha sebaik mungkin untuk membuat vaksin yang mampu menjaga keamanan dan kesehatan warga."
margareth@korea.kr