Sci/Tekno

2026.01.22

Ilustrasi Teleskop Luar Angkasa James Webb. (NASA)

Ilustrasi Teleskop Luar Angkasa James Webb. (NASA)



Penulis: Park Hye Ri

Tim peneliti Korea berhasil membuktikan proses inti tahap awal pembentukan tata surya dan planet. Penemuan penting ini menjadi pembuktian pertama di dunia mengenal cikal bakal planet dan tata surya.

Kementerian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi mengungkapkan pada tanggal 22 Januari 2026 mengenai pencapaian tim peneliti Universitas Nasional Seoul yang dipimpin oleh Lee Jeong-Eun tersebut.

Tim peneliti telah berhasil mengamati dan membuktikan proses protobintang mengalami ledakan aliran materi ke dalam dengan menggunakan teleskop luar angkasa James Webb.

Dalam proses tersebut, bagian dalam cakram calon sistem planet menjadi sangat panas sehingga debu silikat berubah menjadi kristal.

Sekitar 90% kerak bumi tersusun dari silikat sehingga silikat menjadi bahan utama dalam pembentukan planet berbatu seperti bumi dan komet.

Silikat kristal hanya bisa terbentuk pada suhu yang sangat tinggi, yaitu di atas 600℃. Akan tetapi, silikat kristal ditemukan di komet yang berada di bagian luar tata surya. Komet tersebut berada di daerah yang sangat dingin karena berada jauh dari Matahari.

Keanehan tersebut menjadi pertanyaan besar bagi para ilmuwan karena material yang memerlukan suhu tinggi untuk pembentukannya malah berpindah hingga ke ujung Tata Surya yang sangat dingin.

Tim peneliti mengamati protobintang EC 53 yang berada di Serpens Nebula dengan menggunakan teleskop luar angkasa James Webb. EC 53 merupakan protobintang yang tingkat kecerahannya berubah setiap 18 bulan sehingga fase tenang dan ledakannya dapat diamati dengan jelas.

Tim peneliti yang mengobservasi fase tenang dan ledakan EC 53 menemukan bahwa sinyal inframerah khas silikat kristal muncul hanya saat fase ledakan.

Selain itu, silikat kristal terbentuk di bagian dalam piringan dekat bintang yang panas kemudian dibawa keluar oleh angin piringan yang dingin.

Penelitian tersebut dilakukan melalui bantuan proyek penelitian dasar dari Kementerian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi serta telah dipublikasikan di jurnal Nature pada tanggal 22 Januari 2026.


hrhr@korea.kr

konten yang terkait