Foto yang diambil di ketinggian 5.850m sebelum mencapai SAT Peak pada tanggal 2 Mei 2026. Dari kiri ke kanan: Kapten An Chiyoung, Lee Eui-jun, dan Lee Sang-guk. (An Chiyoung)
Penulis: Lee Jihae
Berada di kawasan Kangchenjunga di Pegunungan Himalaya, Nepal, terdapat sebuah gunung misterius yang hingga kini belum pernah berhasil ditaklukkan manusia. Gunung tersebut adalah SAT Peak yang memiliki ketinggian 6.220m di atas permukaan laut. Meski lebih rendah dibandingkan Mount Everest (8.849m), belum ada satu pun pendaki yang berhasil mencapai puncaknya. Dinding salju yang nyaris tegak lurus, punggungan es yang tajam, serta medan ekstrem yang memadukan tebing batu dan es menjadi tantangan utama. Pada tahun 2022, tim ekspedisi Italia pun terpaksa berbalik arah di ketinggian 6.100m.
Akhirnya, tantangan besar tersebut berhasil ditaklukkan oleh tim pendaki Korea. Tim ekspedisi KAF (Korea Alpine Federation) yang dipimpin An Chiyoung berhasil mencapai puncak SAT Peak untuk pertama kalinya di dunia pada tanggal 2 Mei 2026 (waktu setempat). Keberhasilan itu diraih hanya empat hari setelah tim meninggalkan
base camp pada tanggal 28 April 2026, sebuah pencapaian luar biasa yang menunjukkan kemampuan manusia menembus batas.
Pendakian ini semakin mendapat perhatian karena dilakukan dengan gaya alpine, yakni tanpa bantuan tali tetap yang dipasang sepanjang jalur, tabung oksigen, maupun Sherpa (tenaga pendukung pendakian profesional setempat). Dengan perlengkapan dan jumlah anggota yang minim, tim bergerak cepat untuk mencapai puncak dan kembali turun secara mandiri.
Korea.net bertemu dengan An di Pyeongtaek, Provinsi Gyeonggi, pada tanggal 29 Mei 2026 untuk mendengarkan langsung kisah pendakian yang mempertaruhkan nyawa.
Kapten An Chiyoung berpose untuk foto setelah wawancara dengan Korea.net di Pyeongtaek, Provinsi Gyeonggi, pada tanggal 29 Mei 2026. (Lee Jihae)
- Apakah ada momen ketika Anda merasa satu kesalahan kecil saja bisa berakibat fatal?
"Saat kami mendaki dinding salju di ketinggian sekitar 6.000m. Ketika saya menancapkan kapak es ke permukaan salju, tiba-tiba terdengar suara gemuruh keras dan salju di lereng samping runtuh. Itu adalah longsoran salju. Saat itu, tiga anggota tim terikat pada satu tali dan sedang memanjat sambil mengandalkan anchor (titik pengaman untuk menahan tubuh atau tali).
Untungnya, kami berada di dekat batas area longsoran sehingga tidak tersapu bersama aliran salju. Di dinding dengan kemiringan sekitar 70 derajat, saya berusaha mempertahankan posisi dengan menopang berat badan menggunakan kaki. Namun, dua anggota tim berada di bawah saya dan tergantung pada tali yang sama. Saat menunggu longsoran berlalu dengan hanya mengandalkan seutas tali, saya benar-benar merasa bisa kehilangan nyawa."
- Kenangan yang paling menakutkan?
"Setelah menyelesaikan pendakian hari itu, kami masing-masing beristirahat di dalam tenda. Tiba-tiba, keheningan pekat malam hari pecah oleh suara gletser raksasa yang retak lalu runtuh. Suaranya begitu dahsyat hingga sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Rasa takut saat mendengar suara itu dari dalam tenda, tanpa perlindungan apa pun, adalah sesuatu yang tidak akan bisa dipahami kecuali mengalaminya sendiri. Saat itu, saya benar-benar merasakan hingga ke tulang betapa kecil dan tak berdayanya manusia di hadapan alam."
Kapten An Chiyoung mendaki punggungan salju di ketinggian sekitar 6.100m menuju SAT Peak pada tanggal 2 Mei 2026. (An Chiyoung)
- Bagaimana tubuh manusia bereaksi di ketinggian 6.000m?
"Di ketinggian seperti itu, kami harus menghadapi risiko hipotermia, radang dingin, dan
snow blindness. Untuk menjaga suhu tubuh, kami harus terus minum air hangat yang disimpan dalam termos sepanjang hari. Mengganti kaus kaki dan sarung tangan yang basah juga menjadi hal yang wajib dilakukan karena sedikit kelalaian saja bisa berujung pada radang dingin.
Yang paling menakutkan adalah
snow blindness, yaitu luka bakar pada kornea akibat paparan sinar ultraviolet. Jika mengalaminya, mata terasa perih dan pandangan menjadi kabur. Kondisi ini sangat berbahaya jika terjadi saat mendaki gunung tinggi. Semakin tinggi ketinggian, semakin tipis lapisan atmosfer sehingga paparan sinar ultraviolet menjadi lebih kuat.
Selain itu, salju di pegunungan tinggi dapat memantulkan 80 hingga 90% sinar ultraviolet, jauh lebih tinggi dibandingkan permukaan beton yang hanya memantulkan sekitar 10 hingga 20%. Karena itu, kacamata khusus untuk pendakian gunung tinggi atau gletser harus selalu digunakan. Untuk mencegahnya hilang, saya bahkan mengikat kacamata tersebut dengan kuat pada tali topi."
- Bagaimana Anda memenuhi kebutuhan makan selama pendakian?
"Kami terutama mengonsumsi nasi dan sup beku-kering. Makanan jenis ini telah dihilangkan seluruh kandungan airnya sehingga bobotnya menjadi sangat ringan. Nasi dan sup berbentuk bubuk cukup diseduh dengan air panas dan bisa langsung disantap. Karena kami harus meminimalkan beban bawaan, tidak ada lauk tambahan.
Untuk air minum, kami mengumpulkan salju lalu mencairkannya menggunakan kompor gas. Setelah salju mencair, biasanya terlihat partikel halus berupa tanah atau debu batu. Kami membiarkannya mengendap terlebih dahulu, lalu meminum air bagian atas dengan hati-hati."
- Mengapa Anda tetap mendaki gunung meski harus menghadapi risiko sebesar itu?
"Pada akhirnya, karena saya mencintai gunung. Perasaan saat mencapai puncak dan rasa pencapaian ketika berhasil turun dengan selamat adalah sesuatu yang tidak dapat ditukar dengan apa pun.
Sebanyak apa pun latihan dan persiapan yang dilakukan, ketika benar-benar berhadapan dengan alam, manusia akan menyadari betapa kecil dan tak berdayanya dirinya. Justru perasaan tak berdaya itu dan lingkungan yang ekstrem menjadi dorongan kuat yang memaksa saya melampaui batas diri serta menyadarkan saya. Dorongan itulah yang terus membawa saya kembali ke gunung."
Pemandangan pegunungan yang diambil Kapten An Chiyoung dari puncak SAT Peak (6.220m) pada tanggal 2 Mei 2026. (An Chiyoung)
jihlee08@korea.kr