Menjelang Hari Penyandang Disabilitas (20 April), Korea.net bertemu dengan penyiar Roh Heeji pada tanggal 15 April 2026 di Korean Broadcasting System (KBS). Ia dikenal sebagai anchor penyandang tunarungu pertama di Korea. Kisahnya lebih tenang daripada yang dibayangkan. Namun, justru terasa lebih kokoh. Ia tidak sekadar berhenti pada label tersebut. Sepanjang wawancara, ia menekankan pertumbuhan alih-alih perbandingan, penerimaan alih-alih penyembunyian, serta latihan konsisten ketimbang sekadar simbolisme.
Penyiar Roh Heeji dari Korean Broadcasting System (KBS) berpose menjelang wawancara dengan Korea.net di studio berita KBS pada tanggal 15 April 2026.
Penulis: Lee Jeong Woo
"Perbandingan dengan orang lain itu racun. Perbandingan seharusnya dilakukan dengan diri kita di masa lalu."
Ucapan Roh terdengar bukan sekadar nasihat, melainkan seperti kalimat yang merangkum perjalanan hidupnya. Ia memandu segmen berita gaya hidup dalam program News 12 KBS1. Sejak kecil, ia menyukai kegiatan berbicara dan tampil di depan banyak orang. Mimpi menjadi penyiar pun tumbuh secara alami. Namun, gangguan pendengaran bawaan membuatnya mengalami kesulitan dalam mendengar dan berbicara, berbeda dari teman-teman sebayanya. Impian itu pun perlahan menjauh. Ia, yang tergolong penyandang tunarungu tingkat sedang, mengatakan bahwa hingga kini ia masih kesulitan mendengar suara sehari-hari tanpa alat bantu dengar.
Mimpi itu harus menempuh jalan panjang. Saat menempuh studi komunikasi media, ia sempat bercita-cita menjadi perencana periklanan, tetapi kembali merasakan hambatan dalam lingkungan kerja yang menuntut kolaborasi intensif. Dalam proses mencari pekerjaan, ia berkali-kali mengalami kegagalan. Ia bahkan pernah menyalahkan keterbatasannya pada kondisi gangguan pendengaran. Rasa hampa yang datang tak lama setelah lulus kuliah menjadi penutup fase tersebut. Namun, di titik terendahnya, ia justru kembali mengingat mimpi lamanya untuk menjadi penyiar.
"Daripada menyesal karena tidak mencoba, saya pikir lebih baik mencoba meski akhirnya menyesal."
Penyiar Roh Heeji tengah berbagi kisah tentang latar belakang ia menantang diri menjadi anchor serta perjalanan hidupnya dalam wawancara dengan Korea.net.
Keputusan itu tak lepas dari adik perempuannya yang juga penyandang tunarungu, dengan selisih usia enam tahun. Ia berharap sang adik tidak perlu mengulang luka dan keraguan yang pernah ia alami. Sebagai kakak yang lebih dulu menempuh jalan itu, ia ingin menjadi sosok yang lebih percaya diri.
Roh menilai berhenti membandingkan diri dengan orang lain sebagai kekuatan yang mengubah hidupnya. Pengalaman menjalani terapi wicara sejak kecil, disertai perbandingan terus-menerus dengan teman sebaya, sempat membelenggunya. Namun, saat mempersiapkan diri menjadi penyiar, tolok ukur hidupnya berubah. Ia menyadari bahwa yang lebih penting bukanlah melampaui orang lain, melainkan menjadi lebih baik daripada dirinya di hari sebelumnya.
"Perbandingan dengan orang lain itu racun. Perbandingan seharusnya dilakukan dengan diri kita di masa lalu. Jika pengucapan saya hari ini lebih baik daripada kemarin, itu sudah cukup."
Penyiar Roh Heeji tengah berlatih pelafalan sambil membaca naskah menjelang siaran langsung berita.
Pernyataan itu sekaligus mencerminkan kesehariannya yang penuh ketekunan. Roh merekam naskah sebelum siaran, lalu mendengarkannya berulang kali untuk memperbaiki pengucapan, intonasi, dan pernapasan. Ia memiliki keterbatasan dalam mendengar serta mengevaluasi pengucapannya sendiri secara langsung. Jumlah memo suara di ponselnya mendekati 8.000. Bahkan setelah pulang kerja, monitoring dan latihan vokal terus dilakukan tanpa henti.
Penyiar Roh Heeji tengah memeriksa naskah menjelang siaran langsung berita.
Karena itu, bagi Roh membawakan berita bukan sekadar membaca kalimat. Proses memahami isi berita, lalu menyesuaikan ekspresi, arah pandang, dan nada suara dengan konteksnya. Terutama saat menyampaikan berita tentang penyandang disabilitas atau anak-anak sebagai kelompok rentan, empatinya semakin dalam.
Penyiar Roh Heeji tengah memandu siaran langsung berita di studio.
"Saya ingin dikenang sebagai anchor yang empatik, yang mampu melihat dengan cermat hal-hal yang mungkin luput dari perhatian orang lain."
Roh memandang sebutan anchor penyandang tunarungu pertama di Korea bukan semata sebagai pencapaian pribadi, melainkan sebagai simbol yang membuka peluang bagi mereka yang akan mengikuti jejaknya.
"Bagi saya, itu bukan sekadar pencapaian individu, melainkan titel yang membuka jalan bagi mereka yang datang setelah saya untuk lebih berani mencoba."
Ucapannya menegaskan perlunya perubahan cara pandang terhadap disabilitas. Ia berharap disabilitas tidak diagungkan secara berlebihan ataupun dipandang semata sebagai objek belas kasihan, melainkan diterima secara alami sebagai bagian dari keberagaman hidup.
"Saya melihat disabilitas sebagai bagian dari identitas, sebagai salah satu cara menjalani hidup. Saya berharap orang tidak dengan mudah membatasi potensi hanya karena disabilitas."
Di akhir wawancara, ia juga menyampaikan pesan yang sama kepada pembaca Korea.net. Di tengah era yang sarat perbandingan, ia menekankan bahwa tolok ukur hidup seharusnya ditentukan oleh diri sendiri, bukan oleh orang lain.
Penyiar Roh Heeji tengah berpose.
"Hidup adalah perjalanan satu arah. Perbandingan seharusnya hanya dilakukan dengan diri kita di masa lalu."
Pada peringatan Hari Penyandang Disabilitas, kisah Roh menyisakan pesan kuat. Ia melampaui simbol "yang pertama" dan terus melangkah maju secara bertahap dengan mendengar serta memperbaiki suaranya setiap hari. Di ujung proses yang berulang itu, ia menjadi sosok yang mampu membuat seseorang kembali mengingat mimpinya.
b1614409@korea.kr