Penulis: Wartawan Kehormatan Annisa Alifadhila dari Indonesia
Foto: Annisa Alifadhila
Jauh sebelum pewarna sintetis memenuhi industri tekstil modern, masyarakat Korea telah lama memanfaatkan segala sumber yang tersedia di alam untuk mendapatkan warna kain. Warna-warna yang terkumpul dari dedaunan, akar tanaman, hingga buah-buahan dapat disulap menjadi kain-kain berona indah. Rona warna itupun secara resmi dikenal sebagai obangsaek dan ogansaek.
Obangsaek adalah lima warna dasar yang menjadi patokan serta identitas negara Korea. Obangsaek terdiri atas warna biru, merah, kuning, hitam, dan putih. Ogansaek adalah lima warna yang berada di tengah sebagai campuran dari obangsaek. Warna-warna ogansaek antara lain ungu, oranye, hijau, merah muda, biru muda.
Kartu undangan untuk acara Pameran Pertukaran Kerajinan Tradisional Korea-Indonesia yang dilaksanakan tanggal 12-16 Oktober 2026 di Korean Cultural Center Indonesia, Jakarta.
Teknik pewarnaan tradisional Korea yang telah diakui sebagai warisan budaya takbenda oleh UNESCO ini pun diambil sebagai jalan hidup oleh seorang maestro pewarnaan alami sekaligus penasihat Federasi Organisasi Seni dan Budaya Korea, Lee Ji-young.
Demi mengetahui lebih jauh tentang teknik pewarnaan tradisional Korea, Korean Cultural Center Indonesia (KCCI) bersama dengan The Society of Asian Ethno-Forms mengundang Lee Ji-young untuk berbagi pengalaman dan pengetahuannya pada sesi seminar.
Seminar tersebut bertajuk Teori Pewarnaan Tekstil: Obangsaek yang diadakan pada hari Selasa (13/10/2026) di Multicultural Hall, KCCI. Penulis pun berkesempatan menghadiri acara tersebut.
Kegiatan dibuka dengan pembagian cendera mata berupa gantungan kunci clicker bertemakan obangsaek dan ogansaek. Kemudian, Lee mulai memperkenalkan dirinya dan membuka perkenalan tentang teknik pewarnaan tekstil Korea.
Gantungan kunci clicker yang dibagikan oleh Maestro Pewarna Alami Lee Ji-young dalam acara Teori Pewarnaan Tekstil: Obangsaek yang diadakan pada tanggal 13 Oktober 2026 di Korean Cultural Center Indonesia, Jakarta.
Lee mengatakan bahwa perbedaan terbesar dari cara pewarnaan tekstil antara Korea dan Indonesia adalah keadaan musim di masing-masing negara. Karena hanya memiliki dua musim, para pengrajin Indonesia bisa melakukan proses pewarnaan dengan bahan yang sama hampir di sepanjang tahun. Sedangkan Korea, karena memiliki empat musim, ada keterbatasan terkait ketersediaan bahan yang menyesuaikan musim-musim tersebut.
Ia juga bercerita bahwa tiap warna dari obangsaek mewakili musim, arah, dan elemen yang berbeda. Biru berarti musim semi, arah timur, dan elemen kayu. Merah untuk musim panas, arah selatan, dan elemen api. Kuning adalah posisi pusat atau tengah dan elemen tanah. Hitam merupakan musim dingin, arah utara, dan elemen air. Putih dianggap sebagai perwakilan dari musim gugur, arah barat, dan elemen besi.
Warna-warna ini juga disebutkan memiliki fungsi sebagai penunjuk kedudukan berdasarkan warna pakaian masyarakat di zaman kerajaan Korea. Obangsaek dan ogansaek di masa kini pun banyak ditemukan dalam desain produk seperti dompet, kain pembungkus, hingga motif berbagai cendera mata.
Maestro Pewarna Alami Lee Ji-young menjelaskan proses mendapatkan warna kuning dalam acara Teori Pewarnaan Tekstil: Obangsaek yang diadakan pada 13 Oktober 2026 di Korean Cultural Center Indonesia, Jakarta.
Lee juga menerangkan berbagai cara untuk mendapatkan warna-warna obangsaek. Salah satunya adalah penggunaan kulit pohon gabus amur yang direbus untuk mendapatkan ekstrak pewarna kuning. Contoh lainnya adalah penggunaan bunga kesumba yang digerus dan diperas untuk mendapatkan warna merah.
Warna-warna yang dihasilkan dari pewarna alami sangat dipengaruhi oleh jenis kain, suhu, dan seberapa banyak proses dilakukan. Jika proses pewarnaan diulang beberapa kali, warna yang terserap pada kain akan makin gelap. Selain itu, penggunaan asam dan teknik mordan juga dapat memengaruhi seberapa kuat warna yang dihasilkan.
Saat penulis menanyakan alasan Lee berkecimpung di dunia tekstil tradisional, ia menjawab bahwa dirinya merasakan kecocokan tersendiri di bidang itu. Meskipun lebih melelahkan dibanding dengan teknik pewarnaan modern, Lee menganggap bahwa cara tradisional mampu memberikan kepuasan tersendiri ketika ia melihat hasil dari semua usahanya. Ia pun mengungkapkan bahwa keseluruhan proses mewarnai tekstil terasa seperti perjalanan healing baginya.
Pengaturan panggung untuk acara Teori Pewarnaan Tekstil: Obangsaek yang diadakan pada 13 Oktober 2026 di Korean Cultural Center Indonesia, Jakarta.
Hingga saat ini, karya-karya yang Lee hasilkan sudah diakui oleh berbagai pihak. Bahkan, ia sempat meraih penghargaan apresiasi pada sebuah Kompetisi Kerajinan Tradisional Korea. Produk-produk buatannya pun telah berkolaborasi dengan Musinsa yang merupakan salah satu ritel fesyen terbesar asal Korea.
Meskipun cara pewarnaan alami termasuk peninggalan tradisional, Lee menjelaskan bahwa cara tersebut akan selalu relevan sampai kapanpun. Peninggalan sejarah tradisional Korea ini akan tetap berjalan dan bisa terus diwariskan pada generasi-generasi berikutnya.
margareth@korea.kr
*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Program Wartawan Kehormatan dijalankan oleh Korea.net di bawah Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata. Para anggotanya merupakan sukarelawan yang memperkenalkan berbagai hal tentang Korea kepada dunia dengan berperan sebagai jembatan budaya.