Wartawan Kehormatan

2026.09.15

Membaca artikel ini dalam bahasa yang lain
  • 한국어
  • English
  • 日本語
  • 中文
  • العربية
  • Español
  • Français
  • Deutsch
  • Pусский
  • Tiếng Việt
  • Indonesian

Penulis: Wartawan Kehormatan Hurum Maqshuro dari Indonesia
Foto: Hurum Maqshuro

Dokumen diplomatik tahun 1748 mengenai pengiriman surat resmi Raja Joseon ke Jepang. Foto diambil pada tanggal 4 September 2026 di Museum Busan yang terletak di Nam-gu, Busan.

Dokumen diplomatik tahun 1748 mengenai pengiriman surat resmi Raja Joseon ke Jepang. Foto diambil pada tanggal 4 September 2026 di Museum Busan yang terletak di Nam-gu, Busan.


Pada tanggal 4 September 2026 penulis mengunjungi Museum Busan di Nam-gu, Kota Busan. Di ruang pameran tetap, perhatian penulis tertuju pada kisah perjalanan para utusan Kerajaan Joseon (1392-1910) ke Jepang.

Rombongan yang disebut Joseon Tongsinsa tersebut merupakan utusan resmi Raja Joseon. Mereka dikirim untuk menemui syogun, pemimpin pemerintahan militer Jepang pada masa itu, dengan membawa surat resmi kerajaan serta hadiah bagi para pejabat Jepang.

Perjalanan pulang-pergi melalui jalur darat dan laut itu mencapai sekitar 4.000 kilometer dan berlangsung selama sembilan bulan hingga satu tahun. Dari Busan, rombongan menyeberang ke Jepang dan menuju Edo, yang kini menjadi Tokyo, untuk menyerahkan surat Raja Joseon kepada syogun sebelum kembali ke Joseon.

Lukisan Saroseunggudogwon karya Yi Seong-rin menggambarkan perjalanan rombongan Joseon Tongsinsa dari Busan menuju Edo, Jepang, pada 1748. Foto diambil pada tanggal 4 September 2026 di Museum Busan yang terletak di Nam-gu, Busan.

Lukisan Saroseunggudogwon karya Yi Seong-rin menggambarkan perjalanan rombongan Joseon Tongsinsa dari Busan menuju Edo, Jepang, pada 1748. Foto diambil pada tanggal 4 September 2026 di Museum Busan yang terletak di Nam-gu, Busan.


Rombongan Tongsinsa memulai perjalanan dari Hanyang yang kini menjadi Seoul. Setiap daerah yang mereka lalui harus menanggung biaya penyambutan, seperti menyediakan makanan dan hadiah serta memperbaiki jalan.

Busan, yang pada masa Joseon berada di bawah wilayah administratif Dongnae, memegang peran penting karena menjadi pusat persiapan sekaligus titik keberangkatan rombongan sebelum menyeberang ke Jepang.

Di Busan, rombongan disambut dan dibekali hasil bumi serta hadiah dari berbagai daerah. Sebelum berlayar, mereka juga mengadakan ritual untuk memohon keselamatan selama perjalanan laut.

Pada awalnya, tanggung jawab menyambut rombongan dibagi antara Chungju, Andong, Gyeongju, dan Dongnae. Tugas tersebut kemudian dipusatkan di Dongnae untuk meringankan beban masyarakat di daerah lain, terutama ketika terjadi gagal panen.

Hasil bumi dan hadiah dari wilayah Gyeongsang, Jeolla, Chungcheong, dan Gangwon dikumpulkan di Dongnae sebelum diserahkan kepada rombongan.

Potret Jo Myeong-chae, pejabat Joseon yang mengikuti misi Tongsinsa ke Jepang pada 1748. Foto diambil pada tanggal 4 September 2026 di Museum Busan yang terletak di Nam-gu, Busan.

Potret Jo Myeong-chae, pejabat Joseon yang mengikuti misi Tongsinsa ke Jepang pada 1748. Foto diambil pada tanggal 4 September 2026 di Museum Busan yang terletak di Nam-gu, Busan.


Busan juga menjadi tempat rombongan menunggu waktu keberangkatan ke Jepang. Mereka biasanya tinggal di kota tersebut selama 15-30 hari. Jika cuaca buruk menghambat pelayaran, masa tinggal mereka dapat mencapai 50 hari.

Sejumlah warga Busan turut bergabung dalam rombongan. Karena berpengalaman dalam pelayaran dan sebagian mampu berbahasa Jepang, mereka menjalankan berbagai tugas sebagai awak kapal, pendayung, penerjemah, petugas administrasi, pemusik, dan pengawal kehormatan.

Sebagian dipilih langsung oleh tiga pejabat utama Tongsinsa, sedangkan anggota lainnya direkrut oleh pemerintah Dongnae dan pangkalan militer di sekitarnya.

Di antara warga Busan yang bergabung, 10 orang dipilih sebagai asisten penerjemah. Banyak dari mereka berasal dari Choryang dan telah terbiasa membantu komunikasi antara pemerintah Dongnae dan pihak Jepang di Busan. Mereka mendampingi 12 penerjemah resmi dari Hanyang yang jumlahnya dinilai belum cukup untuk membantu rombongan selama berada di Jepang.

Joseonindaehangnyeolgi adalah buku terbitan Jepang tahun 1748 yang mencatat kunjungan rombongan Joseon Tongsinsa. Foto diambil pada tanggal 4 September 2026 di Museum Busan yang terletak di Nam-gu, Busan.

Joseonindaehangnyeolgi adalah buku terbitan Jepang tahun 1748 yang mencatat kunjungan rombongan Joseon Tongsinsa. Foto diambil pada tanggal 4 September 2026 di Museum Busan yang terletak di Nam-gu, Busan.


Kelompok terbesar warga Busan yang bergabung dalam rombongan Tongsinsa adalah para pendayung. Enam kapal Tongsinsa semula direncanakan membawa total 270 pendayung. Setelah Jepang meminta pengurangan jumlah anggota rombongan pada tahun 1682, jumlah pendayung juga dikurangi. Pada perjalanan tahun 1763, tercatat 163 pendayung, termasuk 37 warga Busan.

Busan tidak hanya menjadi titik keberangkatan rombongan. Kota ini juga menjadi pusat persiapan serta tempat perekrutan awak dan petugas yang mendukung perjalanan.

Sebelum berlayar menuju Jepang, rombongan mengadakan upacara di Yeonggadae, Busan, untuk memohon keselamatan selama perjalanan.

Berbagai karya seni terkait Joseon Tongsinsa, termasuk kaligrafi di sebelah kanan yang diberikan oleh salah seorang anggota rombongan kepada pihak Jepang. Foto diambil pada tanggal 4 September 2026 di Museum Busan yang terletak di Nam-gu, Busan.

Berbagai karya seni terkait Joseon Tongsinsa, termasuk kaligrafi di sebelah kanan yang diberikan oleh salah seorang anggota rombongan kepada pihak Jepang. Foto diambil pada tanggal 4 September 2026 di Museum Busan yang terletak di Nam-gu, Busan.


Setelah meninggalkan Busan, rombongan tiba di Pulau Tsushima. Mereka kemudian melewati sejumlah wilayah di sekitar Laut Pedalaman Seto dan berlayar hingga Osaka.

Dari Osaka, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Kyoto dengan kapal khusus melalui Sungai Yodo.

Di setiap daerah yang dilalui, mereka mendapat sambutan dan jamuan dari pemerintah setempat. Setelah tiba di Edo dan menyelesaikan tugas diplomatik, rombongan kembali ke Joseon.

Melalui kunjungan ini, penulis yang tinggal di Busan baru mengetahui pentingnya peran kota tersebut dalam perjalanan Tongsinsa. Busan tidak hanya menjadi titik keberangkatan, tetapi juga pusat persiapan dan dukungan bagi misi diplomatik yang menghubungkan Joseon dan Jepang.


margareth@korea.kr

*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Program Wartawan Kehormatan dijalankan oleh Korea.net di bawah Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata. Para anggotanya merupakan sukarelawan yang memperkenalkan berbagai hal tentang Korea kepada dunia dengan berperan sebagai jembatan budaya.

konten yang terkait