Wartawan Kehormatan

2026.09.15

Membaca artikel ini dalam bahasa yang lain
  • 한국어
  • English
  • 日本語
  • 中文
  • العربية
  • Español
  • Français
  • Deutsch
  • Pусский
  • Tiếng Việt
  • Indonesian

Penulis: Wartawan Kehormatan Annisa Alifadhila dari Indonesia

Tidak banyak yang mengetahui bahwa Kota Wonju di Korea memiliki kaitan yang erat dengan dunia sastra. Kota dengan jumlah penduduk terbanyak di Provinsi Gangwon ini merupakan rumah dari novelis Park Kyong-ni, seorang wanita Korea yang diakui oleh UNESCO lewat karyanya yang berjudul Toji. Atas dasar itu, UNESCO pun menjadikan Kota Wonju sebagai Kota Sastra Dunia.

Kota Sastra Dunia merupakan program gagasan UNESCO yang dimulai sejak tahun 2004. Beberapa kegiatan yang dilakukan dalam program ini antara lain adalah pertukaran dan residensi penulis internasional, festival sastra, hingga dukungan untuk industri terkait sastra.

Di tahun 2024 program serupa juga dilaksanakan oleh Kota Sastra Dunia Jakarta dengan mengundang satu penulis Indonesia untuk berangkat ke Wonju. Peserta yang berhasil lolos dalam kegiatan tersebut adalah novelis dengan nama pena Tsugaeda.

Sampul novel Hilang di Wonju karya Tsugaeda. (Annisa Alifadhila)

Sampul novel Hilang di Wonju karya Tsugaeda. (Annisa Alifadhila)


Melalui perjalanan tersebut, Tsugaeda melahirkan sebuah novel berjudul Hilang di Wonju.

Pada Rabu (9/9/2026), Korean Culture Center Indonesia (KCCI) mengundang Tsugaeda untuk berbagi pengalamannya selama pembuatan novel Hilang di Wonju. Acara ini diselenggarakan di KCCI dan dihadiri lebih dari 20 peserta.

Dengan dipandu oleh pihak KCCI, Tsugaeda pun mulai memperkenalkan dirinya sebagai seorang novelis asal Malang dengan nama asli Ade Agustian. Hingga saat ini, Tsugaeda sudah memiliki tujuh karya bergenre kriminal, triller, dan misteri. Ia juga menulis dua buku anak dengan genre yang sama. Debutnya dimulai pada tahun 2013 dengan karya berjudul Rencana Besar.

Tsugaeda menjelaskan bahwa ia menemukan informasi terkait Residensi Penulis di Wonju pada 2024 melalui laman Instagram Jakarta City of Literature (@jakartacityoflit). Ia pun mengungkapkan bahwa dirinya tidak terlalu berharap karena ia mengerti itu merupakan program yang kurasinya cukup ketat.

"Ketika mendaftar, saya membuat premis tentang seorang polisi Indonesia mencari warga negara Indonesia yang hilang di Wonju. Namun, ternyata saya mendapat kesempatan untuk mewakili Indonesia di program tersebut," ucapnya.

Tsugaeda menjalani kegiatan residensi pada bulan September-Oktober 2024 di Toji Cultural Center, Wonju.

Tsugaeda sedang mempresentasikan dirinya dan karyanya di Toji Cultural Center pada tanggal 25 September 2024 dalam program Residensi Penulis di Wonju, Korea. (Tsugaeda)

Tsugaeda sedang mempresentasikan dirinya dan karyanya di Toji Cultural Center pada tanggal 25 September 2024 dalam program Residensi Penulis di Wonju, Korea. (Tsugaeda)


Saat ditanya caranya untuk menemukan inspirasi untuk menulis novel Hilang di Wonju, Tsugaeda mengaku jika sebenarnya ia belum mengenal Kota Wonju saat mengajukan proposal pendaftaran. Ia baru mengenal Wonju saat akhirnya menginjakkan kaki di sana. Ia juga menambahkan bahwa ia sempat menghadapi kebuntuan.

"Untuk apa orang Indonesia pergi ke Wonju? Kenapa polisi Indonesia sampai harus turun tangan mencari orang itu di negara lain? Ditambah lagi, Wonju bukanlah kota yang akan orang jadikan destinasi wisata pertama jika ingin ke Korea."

Beruntung, kebuntuan itu segera teratasi saat Tsugaeda menyadari bahwa sering terdengar suara pesawat tempur di sana. Ia pun mencari tahu lebih lanjut dan mengetahui bahwa Korea memiliki pangkalan militer di Wonju.

Dengan aturan bahwa semua laki-laki harus menjalani wajib militer, termasuk para artis dan idola, Tsugaeda memanfaatkan informasi tersebut untuk mengembangkan premis yang ia miliki. Orang yang hilang adalah anak seorang tokoh penting dan merupakan penggemar idola yang sedang wajib militer di Wonju.

Selain itu, ia juga banyak melakukan riset dengan bertanya ke warga sekitar, belajar dengan teman-teman yang memahami dunia pop Korea, hingga penelusuran ke berbagai media terkait.

Tsugaeda sedang mempresentasikan karyanya dalam acara bincang buku pada 9 September 2026 di Multifunctional Hall, KCCI. (Annisa Alifadhila)

Tsugaeda sedang mempresentasikan karyanya dalam acara bincang buku pada 9 September 2026 di Multifunctional Hall, KCCI. (Annisa Alifadhila)


Ketika berbicara mengenai tantangan saat menulis Hilang di Wonju, Tsugaeda menyadari bahwa ia tidak punya banyak pengetahuan dan pengalaman terkait dunia pop Korea. Untungnya, ia memiliki beberapa pembaca beta yang dapat membantu. Lalu, ia pun cukup beruntung karena pihak editor dari penerbit yang menangani buku Hilang di Wonju juga familier dengan hal-hal tersebut.

Terkait penamaan para karakter, Tsugaeda mengatakan jika nama dua karakter utama wanita (Hani dan Felisia) secara acak terlintas di kepalanya. Sedangkan untuk nama tiga detektif Korea, ia mengaku mendapatkan nama mereka dari nama mantan atasannya.

Tsugaeda pun bercerita bahwa ia pernah bekerja di kantor Korea dan menambahkan kalau karakteristik ketiga detektif itu cukup sesuai dengan karakter atasannya saat masih bekerja dulu.

Meskipun Hilang di Wonju adalah novel fiksi, Tsugaeda menyebutkan bahwa ada satu kasus di Korea yang juga menunjang ceritanya. Bahkan, ia cukup kaget ketika mengetahui banyak orang Indonesia yang turut mengetahui kasus tersebut.

Selain itu, karena ia merupakan lulusan dari fakultas ilmu sosial dan politik, Tsugaeda berkata ia juga terbiasa menemui kasus-kasus terkait. Ia pun punya pengalaman bekerja langsung dengan polisi Indonesia yang menurutnya sangat membantu dalam proses merangkai narasi yang natural saat dibaca.

Foto bersama Tsugaeda dan para peserta acara bincang buku pada 9 September 2026 di Multifunctional Hall, KCCI. (KCCI)

Foto bersama Tsugaeda dan para peserta acara bincang buku pada 9 September 2026 di Multifunctional Hall, KCCI. (KCCI)


Hilang di Wonju adalah novel pertama Tsugaeda yang menggunakan latar dua negara dan dua budaya berbeda. Oleh karena itu, Tsugaeda berharap perbedaan ini dapat dinikmati oleh para pembacanya.


margareth@korea.kr

*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Program Wartawan Kehormatan dijalankan oleh Korea.net di bawah Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata. Para anggotanya merupakan sukarelawan yang memperkenalkan berbagai hal tentang Korea kepada dunia dengan berperan sebagai jembatan budaya.

konten yang terkait