Penulis: Wartawan Kehormatan Amanda Larasati dari Indonesia
Program Studi Bahasa Korea Universitas Nasional (UNAS) menyelenggarakan Kelas Satu Hari tentang bahasa dan sejarah Korea pada tanggal 22 Agustus 2026 di Universitas Nasional, Jakarta.
Melalui acara ini, peserta didik dan masyarakat umum yang tertarik dengan Korea dapat memahami cara membaca dan menulis huruf hangeul yang merupakan langkah awal untuk mempelajari bahasa Korea serta mengenal sejarah Korea bersama dosen Prodi Bahasa Korea UNAS.
Penulis turut menghadiri acara ini untuk meningkatkan kemampuan membaca hangeul dan mengenal sejarah Korea.
Haneeva Shereen Pohan selaku ketua pelaksana acara memberikan kata sambutan pada pembukaan Kelas Satu Hari Prodi Bahasa Korea UNAS tanggal 22 Agustus 2026 di Universitas Nasional, Jakarta. (Amanda Larasati)
Haneeva Shereen Pohan selaku ketua pelaksana acara mengatakan bahwa Kelas Satu Hari merupakan bagian dari Pekan Raya Akademik Bahasa Korea (PERAK BAKOR) yang digelar oleh Prodi Bahasa Korea UNAS dan Himpunan Mahasiswa Bahasa Korea (HIMABAKOR) UNAS untuk mengenalkan bahasa dan budaya Korea kepada masyarakat.
Di samping itu, acara itu juga memberikan gambaran tentang pembelajaran di jurusan bahasa Korea bagi peserta didik yang tertarik untuk melanjutkan studi di jurusan tersebut.
Di sesi pertama, peserta mempelajari huruf hangeul bersama Ko Yookyung selaku dosen penutur asli di Prodi Bahasa Korea UNAS. Materi disampaikan Ko dalam bahasa Indonesia untuk mempermudah peserta yang belum pernah mempelajari bahasa Korea.
Potret Ko Yookyung menjelaskan sejarah hangeul kepada peserta Kelas Satu Hari sesi pertama tanggal 22 Agustus 2026 di Universitas Nasional, Jakarta. (Amanda Larasati)
Sebagai pengantar, Ko menjelaskan sejarah penciptaan huruf hangeul. Ia mengungkapkan huruf hangeul diciptakan oleh Maharaja Sejong yang merupakan raja keempat pada zaman Dinasti Joseon (1392-1910).
Ko menuturkan bahwa awalnya masyarakat menggunakan huruf hanja dari Tiongkok untuk berkomunikasi tetapi huruf itu terlalu sulit bagi mereka sehingga Maharaja Sejong menciptakan huruf hangeul.
Salah satu hal menarik dari pemaparan Ko adalah tentang filosofi bentuk huruf hangeul. Berdasarkan penjelasan Ko, bentuk huruf vokal hangeul terinspirasi dari langit, manusia, dan tanah. Sedangkan bentuk huruf konsonan hangeul menyerupai organ pengucapan manusia ketika melafalkan bunyi tersebut.
Untuk membantu peserta melafalkan huruf hangeul, Ko mencari contoh kata dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris yang memiliki bunyi huruf serupa dengan hangeul sehingga peserta dapat melafalkannya dengan mudah.
Ia juga mendorong peserta agar aktif berpartisipasi di kelas seperti berlatih melafalkan huruf hangeul dan membaca contoh kosakata bahasa Korea.
Ko Yookyung membimbing peserta Kelas Satu Hari sesi pertama untuk praktik melafalkan huruf hangeul pada tanggal 22 Agustus 2026 di Universitas Nasional, Jakarta. (Amanda Larasati)
Ko juga mencontohkan cara penulisan huruf hangeul tahap demi tahap. Di penghujung sesi kelas hangeul, Ko juga menerangkan tentang aturan bunyi konsonan akhir. Pada pembahasan ini, peserta banyak berlatih melafalkan kosakata yang mengandung konsonan akhir tersebut.
Sesi kedua dilanjutkan dengan kelas sejarah Korea bersama Yayah Cheriyah selaku dosen Prodi Bahasa Korea UNAS.
Yayah Cheriyah menjelaskan sejarah Korea dalam Kelas Satu Hari sesi kedua pada tanggal 22 Agustus 2026 di Universitas Nasional, Jakarta. (Amanda Larasati)
Salah satu pemaparan inti pada sesi ini adalah sejarah era Tiga Kerajaan (abad ketiga SM hingga tahun 676 M) yaitu Goguryeo, Baekje, dan Silla. Ia menjelaskan tentang pengaruh hingga peninggalan dari masing-masing kerajaan tersebut.
Berdasarkan penjelasan Yayah, Goguryeo (37 SM s/d 668 M) memiliki pengaruh penting dalam bidang politik dan budaya. Goguryeo menjadi kerajaan pertama yang menerima agama Buddha. Hal ini menyebabkan agama Buddha berpengaruh terhadap aturan administrasi negara pada masa Kerajaan Goguryeo.
Selain itu, ia menuturkan Kerajaan Baekje (18 SM s/d 660 M) menjadi kerajaan yang unggul dalam perekonomian karena berada di letaknya berada di wilayah yang subur. Tidak hanya mencapai kemajuan di bidang ekonomi, Kerajaan Baekje juga menjadi penghubung penting dengan Jepang.
Sementara itu, Yayah mengungkapkan Kerajaan Silla (57 SM s/d 936 M) adalah kerajaan yang mampu mempersatukan dua kerajaan sebelumnya. Salah satu sosok penting dari Kerajaan Silla adalah Ratu Seondeok yang merupakan pemimpin wanita pertama dalam sejarah Korea. Di bawah kepemimpinan Ratu Seondeok, agama Buddha mencapai masa keemasan.
Yayah menambahkan ilmu astronomi juga berkembang pesat di masa pemerintahan Ratu Seondeok. Hal ini dibuktikan melalui peninggalan observatorium Cheomseongdae yang dibangun di masa pemerintahan Ratu Seondeok.
Kemudian Yayah juga menjelaskan tentang Dinasti Joseon. Dinasti Joseon dikenal sebagai dinasti yang paling lama berdiri. Masa keemasan dinasti ini dicapai pada era pemerintahan Maharaja Sejong. Yayah menyebutkan bahwa sistem birokrasi pada masa Dinasti Joseon menjadi landasan administrasi pemerintah Korea saat ini.
Penyampaian materi yang sederhana dan terstruktur oleh Yayah membuat penulis mampu mencerna informasi dengan mudah.
Suasana para peserta Kelas Satu Hari sesi kedua mengikuti kuis seputar sejarah Korea yang diberikan oleh Yayah Cheriyah pada tanggal 22 Agustus 2026 di Universitas Nasional, Jakarta. (HIMABAKOR UNAS)
margareth@korea.kr
*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Program Wartawan Kehormatan dijalankan oleh Korea.net di bawah Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata. Para anggotanya merupakan sukarelawan yang memperkenalkan berbagai hal tentang Korea kepada dunia dengan berperan sebagai jembatan budaya.