Penulis: Wartawan Kehormatan Hanum Nur Aprilia dari Indonesia
Foto: Hanum Nur Aprilia
Kota Gangneung merupakan salah satu kawasan di Korea yang menarik perhatian para wisatawan lewat keindahan alam yang terbentuk dari perpaduan Pegunungan Baekdu Daegan dan Laut Timur. Namun, kota ini juga menyimpan warisan sejarah dan budaya yang berkaitan dengan sejumlah tokoh penting dalam sejarah Korea.
Salah satu tempat yang merekam jejak tersebut adalah Ojukheon. Kompleks bersejarah ini dikenal sebagai tempat kelahiran Yulgok (1536-1584), seorang sarjana dan politikus pada masa Dinasti Joseon serta Shin Saimdang (1504-1551), ibunda Yulgok yang dikenal sebagai seniman dan tokoh perempuan dalam sejarah Korea.
Penulis mengunjungi Ojukheon pada 16 Juni 2026 untuk mempelajari bagaimana jejak sejarah dan budaya yang diwariskan Yulgok dan Shin Saimdang berperan dalam membentuk identitas Kota Gangneung.
Ojukheon di Gangneung merupakan tempat kelahiran seniman Shin Saimdang dan putranya sehingga menjadi salah satu warisan sejarah penting di kawasan Gangneung. Foto di atas dipotret tanggal 16 Juni 2026.
Ojukheon dibangun pada awal zaman Dinasti Joseon (1392-1910) dan menjadi salah satu bangunan kayu tertua yang masih bertahan dari masa tersebut. Nama Ojukheon sendiri berkaitan dengan tanaman bambu hitam yang dahulu tumbuh di bagian belakang rumah. Batang bambu tersebut memiliki warna gelap dan menjadi ciri khas kawasan ini.
Nilai sejarah dan arsitekturnya membuat Ojukheon ditetapkan sebagai Warisan Nasional pada 1963. Bangunan ini juga memiliki nilai penting dalam sejarah arsitektur karena memperlihatkan karakter bangunan tradisional pada masa Joseon.
Eojaegak di kompleks Ojukheon menjadi tempat penyimpanan buku Gyeokmongyogyeol karya Yulgok dan batu tinta yang digunakannya saat kecil sebagai bagian dari peninggalan sejarah keluarga. Foto di atas dipotret tanggal 16 Juni 2026.
Yulgok yang memiliki nama asli Yi I, lahir dari pasangan Yi Wonsu dan Shin Saimdang. Pada tahun 1564, ia lulus ujian awal Saengwonsi, kemudian berhasil melewati sembilan ujian lainnya. Prestasi tersebut membuatnya dikenal dengan julukan Gudo Jangwongong. Yulgok kemudian menduduki sejumlah jabatan penting dalam pemerintahan dan dipandang sebagai salah satu sarjana terbesar pada masanya.
Sejak tahun 1961, Pemerintah Kota Gangneung menyelenggarakan upacara penghormatan kepada Yulgok di tempat tersebut setiap tanggal 25-26 Oktober. Kompleks Ojukheon juga memiliki Yulgok Memorial Hall yang difungsikan untuk mengenalkan kehidupan dan warisan pemikiran Yulgok.
Kehadiran Shin Saimdang pun memberikan makna tersendiri bagi Ojukheon. Ia dikenal sebagai sosok istri dan ibu ideal pada pertengahan masa Dinasti Joseon. Selain berperan besar dalam mendidik keluarganya, Saimdang merupakan seniman, ahli kaligrafi, dan penyair. Ia juga terampil menenun serta memiliki pengetahuan luas tentang Neo-Konfusianisme, sastra, dan sejarah.
Yulgok dan Shin Saimdang ditampilkan sebagai tokoh pada mata uang Korea, menjadikan keduanya pasangan ibu dan anak pertama di dunia yang sama-sama diabadikan sebagai figur mata uang. Foto di atas dipotret tanggal 16 Juni 2026.
Yulgok dan Shin Saimdang sama-sama diabadikan sebagai tokoh pada mata uang Korea. Yulgok tampil pada pecahan 5.000 won, sedangkan Shin Saimdang tampil pada pecahan 50.000 won. Hal ini menambah signifikansi Ojukheon sebagai tempat kelahiran figur mata uang ibu-anak pertama di dunia.
Dengan tiket masuk yang berkisar antara 2.000-3.000 won, Ojukheon menawarkan pengalaman wisata sejarah yang terjangkau. Pengunjung dapat melihat bangunan peninggalan masa Joseon sekaligus mengenal kisah Yulgok dan Shin Saimdang yang turut membentuk identitas budaya Gangneung.
margareth@korea.kr
*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Program Wartawan Kehormatan dijalankan oleh Korea.net di bawah Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata. Para anggotanya merupakan sukarelawan yang memperkenalkan berbagai hal tentang Korea kepada dunia dengan berperan sebagai jembatan budaya.