Wartawan Kehormatan

2026.09.03

Membaca artikel ini dalam bahasa yang lain
  • 한국어
  • English
  • 日本語
  • 中文
  • العربية
  • Español
  • Français
  • Deutsch
  • Pусский
  • Tiếng Việt
  • Indonesian

Penulis: Wartawan Kehormatan Hanum Nur Aprilia dari Indonesia
Foto: Hanum Nur Aprilia

Korea.net menyelenggarakan lokakarya sesi tiga pada Sabtu (29/8/2026) secara daring dan luring bagi para Wartawan Kehormatan 2026. Kegiatan luring berlangsung di IGM Global Management Institute, Jung-gu, Seoul, dengan menghadirkan Ha Sang-yun, jurnalis foto The Hankook Ilbo, sebagai narasumber.

Lokakarya bertema Press Photography: The Moment a Picture Becomes a Story tersebut membahas peran fotografi dalam mengubah sebuah momen menjadi cerita jurnalistik. Penulis menghadiri lokakarya secara luring bersama sembilan orang Wartawan Kehormatan lainnya.

Lokakarya Wartawan Kehormatan Sesi 3 diselenggarakan Korea.net pada Sabtu (29/8/2026) secara daring dan luring.

Lokakarya Wartawan Kehormatan Sesi 3 diselenggarakan Korea.net pada Sabtu (29/8/2026) secara daring dan luring.


Menurut Ha, dalam pemberitaan digital, foto memiliki peran penting sebagai pintu pertama yang membawa pembaca menuju sebuah artikel. Pembaca umumnya melihat foto terlebih dahulu sebelum membaca judul, paragraf pertama, dan isi artikel. Oleh karena itu, foto utama harus mampu menarik perhatian sekaligus memberikan gambaran yang relevan mengenai isi berita.

Foto jurnalistik juga memiliki peran dalam membantu pembaca mengingat informasi. Ha menjelaskan bahwa otak manusia memproses informasi melalui jalur verbal dan visual. Penyajian teks bersama foto yang relevan dapat memperkuat daya ingat terhadap informasi. Namun, Ha menekankan bahwa foto jurnalistik tidak boleh mengejar keindahan semata. Keakuratan harus menjadi prioritas utama.

Proses yang menghasilkan sebuah liputan visual yang kuat dimulai ketika wartawan menentukan sudut pandang cerita. Wartawan perlu merumuskan cerita dalam satu kalimat yang jelas sebelum mulai memotret. Sudut pandang yang terlalu umum akan menghasilkan foto yang sulit membangun narasi. Sebaliknya, sudut pandang yang spesifik membantu wartawam menentukan momen dan subjek yang perlu direkam.

Jurnalis foto Ha Sang-yun dari The Hankook Ilbo hadir sebagai narasumber memberikan penjelasan mengenai perbedaan antara foto jurnalistik dan foto biasa pada Sabtu (29/8/2026) di IGM Global Management Institute, Jung-gu, Seoul.

Jurnalis foto Ha Sang-yun dari The Hankook Ilbo hadir sebagai narasumber memberikan penjelasan mengenai perbedaan antara foto jurnalistik dan foto biasa pada Sabtu (29/8/2026) di IGM Global Management Institute, Jung-gu, Seoul.


Salah satu bagian paling menarik bagi penulis dari lokakarya ini adalah pengenalan metode yang disebut "Six-Picture Story," yaitu sebuah pendekatan untuk membangun satu liputan visual yang utuh melalui enam sudut pandang berbeda.

Pendekatan tersebut mulai dari foto yang memperlihatkan suasana dan lokasi acara secara keseluruhan, foto yang menangkap aktivitas inti dari peristiwa tersebut, momen interaksi antarmanusia di dalamnya, potret dekat yang merepresentasikan wajah di balik cerita, detail kecil seperti tangan atau alat yang bercerita secara diam-diam, hingga satu foto penutup yang meninggalkan kesan mendalam bagi siapa pun yang melihatnya.

Keenam jenis foto tersebut tidak harus dipandang sebagai aturan yang kaku. Metode ini berfungsi sebagai panduan agar wartawan tidak hanya mengumpulkan foto yang terlihat menarik, tetapi juga memastikan setiap gambar memiliki fungsi dalam keseluruhan cerita.

Sebanyak sepuluh orang Wartawan Kehormatan Korea.net yang tinggal di Korea terpilih mengikuti lokakarya secara luring pada Sabtu (29/8/2026) di IGM Global Management Institute, Jung-gu, Seoul.

Sebanyak sepuluh orang Wartawan Kehormatan Korea.net yang tinggal di Korea terpilih mengikuti lokakarya secara luring pada Sabtu (29/8/2026) di IGM Global Management Institute, Jung-gu, Seoul.


Tak kalah penting, lokakarya ini juga menyentuh soal cara menulis keterangan foto secara jujur dan objektif. Seorang wartawan, menurut Ha, tidak boleh menebak-nebak perasaan subjek dalam fotonya, apalagi menyematkan penilaian pribadi seperti menyebut suatu acara "sukses" atau peserta terlihat "bahagia."

Bagian yang tak kalah ditekankan dalam lokakarya ini adalah etika. Ha menegaskan bahwa perbaikan dasar pada foto, seperti meluruskan horizon yang miring atau menyesuaikan pencahayaan, masih dapat diterima. Namun, ia menggarisbawahi bahwa mengubah isi foto, menghapus objek, atau menggunakan kecerdasan buatan generatif untuk memalsukan sebuah momen adalah pelanggaran serius terhadap kepercayaan pembaca.

Bagi Ha, kualitas gambar yang lebih baik boleh dikejar, tetapi realitas di dalamnya tidak boleh diubah sedikit pun. Untuk itu, wartawan disarankan melakukan pemeriksaan mandiri untuk memastikan foto tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga akurat, aman, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Yasmeen Medhat, Wartawan Kehormatan asal Mesir, mengajukan pertanyaan pada sesi tanya jawab dalam lokakarya foto jurnalistik untuk Wartawan Kehormatan pada Sabtu (29/8/2026) di IGM Global Management Institute, Jung-gu, Seoul.

Yasmeen Medhat, Wartawan Kehormatan asal Mesir, mengajukan pertanyaan pada sesi tanya jawab dalam lokakarya foto jurnalistik untuk Wartawan Kehormatan pada Sabtu (29/8/2026) di IGM Global Management Institute, Jung-gu, Seoul.


Sesi lokakarya juga membuka ruang tanya jawab bagi peserta yang hadir secara luring maupun daring. Salah satu pertanyaan datang dari Yasmeen Medhat, Wartawan Kehormatan asal Mesir, yang mengangkat persoalan yang kerap dihadapi di lapangan, yakni mengatasi foto yang terlihat penuh distorsi akibat latar belakang yang ramai oleh banyak orang saat meliput sebuah acara.

Menanggapi hal ini, Ha memberikan perspektif bahwa latar belakang yang ramai tidak selalu harus dihindari. Bahkan terkadang, keramaian itu sendiri justru punya cerita untuk disampaikan. Alih-alih mengejar latar yang bersih dan rapi, keramaian dalam bingkai foto bisa menjadi elemen naratif tersendiri. Dalam kasus seperti yang dialami Yasmeen, misalnya, banyaknya orang yang tertangkap dalam satu potret justru bisa menjadi cara efektif untuk menunjukkan skala dan semarak sebuah acara.

Ha Sang-yun memberikan umpan balik terhadap foto yang dihasilkan para Wartawan Kehormatan untuk membantu peserta memahami cara membangun cerita melalui rangkaian foto dalam lokakarya foto jurnalistik untuk Wartawan Kehortamatan pada Sabtu (29/8/2026) di IGM Global Management Institute, Jung-gu, Seoul.

Ha Sang-yun memberikan umpan balik terhadap foto yang dihasilkan para Wartawan Kehormatan untuk membantu peserta memahami cara membangun cerita melalui rangkaian foto dalam lokakarya foto jurnalistik untuk Wartawan Kehortamatan pada Sabtu (29/8/2026) di IGM Global Management Institute, Jung-gu, Seoul.


Sebuah foto dapat menarik perhatian pembaca dalam hitungan detik. Namun, nilai jurnalistiknya ditentukan oleh cerita, konteks, dan kebenaran yang dibawanya. Ketika ketiganya berjalan bersama, foto tidak hanya menjadi pelengkap berita, melainkan cara untuk membuat sebuah peristiwa dipahami dan diingat.


margareth@korea.kr

*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Program Wartawan Kehormatan dijalankan oleh Korea.net di bawah Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata. Para anggotanya merupakan sukarelawan yang memperkenalkan berbagai hal tentang Korea kepada dunia dengan berperan sebagai jembatan budaya.

konten yang terkait