Wartawan Kehormatan

2026.08.27

Membaca artikel ini dalam bahasa yang lain
  • 한국어
  • English
  • 日本語
  • 中文
  • العربية
  • Español
  • Français
  • Deutsch
  • Pусский
  • Tiếng Việt
  • Indonesian

Penulis: Wartawan Kehormatan Maulia Resta Mardaningtias dari Indonesia

Korean Cultural Center Indonesia (KCCI) kembali mengajak masyarakat Indonesia untuk melatih kemampuan percakapan dalam bahasa Korea melalui acara bertajuk Ruang Bicara Bahasa Korea yang digelar pada Senin (24/08/2026) di Aula Multifungsi KCCI.

Setelah sebelumnya sukses dengan sesi pertama bertema "Masa Depan," kali ini para peserta diajak berdiskusi mengenai "Perbedaan Budaya" antara Korea dan Indonesia.

Suasana Aula Multifungsi KCCI dengan kursi yang disusun melingkar untuk sesi kedua Ruang Bicara Bahasa Korea yang berlangsung pada Senin (24/08/2026). (Maulia Resta Mardaningtias)

Suasana Aula Multifungsi KCCI dengan kursi yang disusun melingkar untuk sesi kedua Ruang Bicara Bahasa Korea yang berlangsung pada Senin (24/08/2026). (Maulia Resta Mardaningtias)


Acara dipandu oleh dua orang staf KCCI yang berperan sebagai fasilitator. Pada awal sesi, para peserta saling memperkenalkan diri dalam bahasa Korea.

Setelah itu, melalui layar proyektor, fasilitator memperkenalkan beberapa ungkapan yang sering digunakan ketika berdiskusi tentang perbedaan budaya.

Sesi dilanjutkan dengan tanya jawab seputar budaya Korea dan Indonesia. Pertanyaan pembuka yang diajukan cukup sederhana, seperti misalnya budaya di Korea yang paling ingin dicoba dan perbedaan terbesar antara budaya Korea dan Indonesia.

Potret dua staf KCCI yang bertugas sebagai fasilitator acara, mengenakan pakaian tradisional Indonesia berupa batik dan kebaya, menyesuaikan tema Perbedaan Budaya dalam Ruang Bicara Bahasa Korea pada Senin (24/08/2026). (Maulia Resta Mardaningtias)

Potret dua staf KCCI yang bertugas sebagai fasilitator acara, mengenakan pakaian tradisional Indonesia berupa batik dan kebaya, menyesuaikan tema "Perbedaan Budaya" dalam Ruang Bicara Bahasa Korea pada Senin (24/08/2026). (Maulia Resta Mardaningtias)


Pada kesempatan ini, penulis memberanikan diri untuk berbagi cerita mengenai budaya Korea yang ingin dicoba. Salah satunya adalah kebiasaan masyarakat Korea yang sering berpiknik di Sungai Hangang sambil menikmati pemandangan dan menyantap mi instan.

Di Jakarta juga terdapat banyak sungai, tetapi suasananya berbeda dengan Hangang yang menjadi ruang terbuka dan lokasi piknik yang menyenangkan.

Peserta lain turut berbagi cerita tentang perbedaan dan persamaan hari raya Seollal di Korea dengan Idul Fitri di Indonesia.

Saat Seollal, masyarakat Korea biasanya berkumpul bersama keluarga, sedangkan di Indonesia, Idul Fitri tidak hanya dihabiskan bersama keluarga inti, tetapi juga dengan bersilaturahmi ke tetangga dan kerabat sekitar.

Selain itu, ada pula peserta yang menyoroti budaya serba cepat di Korea yang terasa kontras dengan kebiasaan masyarakat Indonesia yang lebih santai dan tidak terburu-buru.

Potret penulis saat berbagi cerita mengenai budaya Korea yang ingin dicoba dalam acara Ruang Bicara Bahasa Korea pada Senin (24/08/2026). (Wiji Astuti)

Potret penulis saat berbagi cerita mengenai budaya Korea yang ingin dicoba dalam acara Ruang Bicara Bahasa Korea pada Senin (24/08/2026). (Wiji Astuti)


Pada sesi berikutnya, pertanyaan yang diajukan semakin beragam dan mendalam. Beberapa di antaranya menyinggung tentang makanan Korea yang mirip dengan makanan Indonesia dan hal yang paling sulit diadaptasi jika tinggal di Korea selama setahun.

Dari berbagai pertanyaan tersebut, yang paling menarik bagi penulis adalah mengenai apakah K-pop dapat merepresentasikan budaya Korea secara keseluruhan. Pertanyaan tersebut memicu diskusi cukup mendalam.

Penulis berpendapat bahwa K-pop bisa diibaratkan sebagai wajah dari budaya Korea yang pertama kali dilihat masyarakat dunia. Namun, budaya Korea tidak hanya berhenti pada K-pop saja. Ada kuliner, tradisi, dan nilai-nilai budaya lain yang bisa diibaratkan sebagai tangan kanan dan kiri dari sosok budaya tersebut.

Dengan demikian, K-pop memang bisa menjadi pintu masuk untuk mengenal budaya Korea, tetapi bukan satu-satunya representasi.

Potret salah satu peserta maju ke depan untuk menjawab pertanyaan yang ditampilkan di layar proyektor mengenai kesamaan dan perbedaan makanan Korea dan Indonesia dalam Ruang Bicara Bahasa Korea pada Senin (24/08/2026) di KCCI, Jakarta. (Maulia Resta Mardaningtias)

Potret salah satu peserta maju ke depan untuk menjawab pertanyaan yang ditampilkan di layar proyektor mengenai kesamaan dan perbedaan makanan Korea dan Indonesia dalam Ruang Bicara Bahasa Korea pada Senin (24/08/2026) di KCCI, Jakarta. (Maulia Resta Mardaningtias)


Secara keseluruhan, acara Ruang Bicara Bahasa Korea kali ini berlangsung sangat menyenangkan. Para peserta terlihat lebih aktif dalam menyampaikan pendapat mengenai perbedaan budaya Korea dan Indonesia dalam Bahasa Korea.

Dengan adanya kegiatan seperti ini, pembelajar bahasa Korea di Indonesia dapat semakin terbiasa menggunakan bahasa tersebut dalam percakapan nyata, sekaligus memperkaya pemahaman lintas budaya.


margareth@korea.kr

*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Program Wartawan Kehormatan dijalankan oleh Korea.net di bawah Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata. Para anggotanya merupakan sukarelawan yang memperkenalkan berbagai hal tentang Korea kepada dunia dengan berperan sebagai jembatan budaya.

konten yang terkait