Penulis: Wartawan Kehormatan Pujianti Bejahida dari Indonesia
Ketika mendengar nama Sidang Komite Warisan Dunia UNESCO, banyak yang membayangkan istana bersejarah, kuil, atau situs budaya yang telah diakui sebagai Warisan Dunia.
Forum internasional tersebut memang memiliki peran penting dalam menentukan arah pelestarian warisan dunia melalui pembahasan nominasi situs baru, evaluasi kondisi situs yang telah terdaftar, hingga strategi menghadapi berbagai tantangan seperti perubahan iklim, pembangunan maupun bencana.
Tahun 2026 menjadi tonggak bersejarah bagi Korea. Untuk pertama kalinya sejak bergabung dengan Konvensi Warisan Dunia UNESCO pada 1988, Korea menjadi tuan rumah Sidang Komite Warisan Dunia UNESCO ke-48 yang berlangsung pada tanggal 19-26 Juli 2026 di BEXCO, Busan.
Saat itu ribuan delegasi dari berbagai negara, organisasi internasional, media, dan para pakar berbagai negara berkumpul untuk membahas masa depan pelestarian warisan dunia.
Namun, Korea tidak hanya memperkenalkan warisan budaya dalam bentuk bangunan atau situs bersejarah.
Melalui beragam program, Korea juga mengajak dunia mengenal warisan budaya takbenda, yaitu warisan yang hidup melalui musik, tari, pertunjukan, hingga tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Salah satu program tersebut adalah pertunjukan HEXAGRAM 22 yang ditampilkan pada hari Kamis (23/07/2026) yang dipersembahkan oleh National Intangible Heritage Center (NIHC).
Suasana area registrasi pertunjukan HEXAGRAM 22 pada tanggal 23 Juli 2026 di BEXCO, Haundae-gu, Busan. (Pujianti Bejahida)
Sebelum pertunjukan dimulai pada malam hari, pengunjung dapat mengunjungi area pameran yang berada di sekitar area pertunjukan.
Berbagai stan memperkenalkan warisan budaya melalui kostum tradisional, alat musik, dokumentasi para pewaris budaya, hingga informasi mengenai berbagai unsur budaya yang masih dilestarikan hingga saat ini.
Pertunjukan HEXAGRAM 22 terinspirasi dari I Ching (Kitab Perubahan), tepatnya Hexagram ke-22 yang melambangkan keindahan yang lahir ketika nilai-nilai dasar diperkaya oleh kreativitas.
Filosofi tersebut menjadi benang merah pertunjukan malam itu, yaitu tradisi yang tidak kehilangan maknanya ketika berkembang mengikuti zaman, tetapi justru semakin hidup ketika terus diwariskan dan ditafsirkan oleh generasi baru.
Buklet pertunjukan memperkenalkan konsep HEXAGRAM 22 dan makna di balik pertunjukan yang mengangkat warisan budaya tak benda Korea. (Pujianti Bejahida)
Pertunjukan dibuka dengan dentuman megah daechwita, yaitu musik prosesi kerajaan pada masa Dinasti Joseon (1392-1910).
Penonton kemudian diajak menikmati berbagai unsur warisan budaya takbenda Korea, mulai dari seodosori yang merupakan nyanyian tradisional yang penuh emosi, koreografi yang terinspirasi dari topi tradisional Korea, hingga geumbakjang yang merupakan seni menghias kain menggunakan lembaran emas.
Setiap babak dipadukan dengan tata cahaya, visual digital dan koreografi kontemporer sehingga menciptakan pengalaman yang terasa modern tanpa meninggalkan akar tradisinya.
Pertunjukan HEXAGRAM 22 pada tanggal 23 Juli 2026 di BEXCO dibuka dengan daechwita, musik prosesi kerajaan pada masa Dinasti Joseon. (Korea National Intangible Heritage Center)
Bagian yang paling membekas bagi penulis adalah penampilan 64KSANA, yaitu grup musik elektronik Korea yang memadukan unsur ritual tradisional gut dengan komposisi musik modern.
Sebelum menyaksikannya secara langsung, tidak pernah terbayangkan bahwa alat musik elektronik dapat berpadu begitu harmonis dengan tradisi yang telah diwariskan selama berabad-abad.
Alih-alih menghilangkan nilai tradisionalnya, aransemen tersebut justru menghadirkan cara baru bagi penonton untuk menikmati dan memahami warisan budaya takbenda Korea.
Momen ini membuat kita melihat bahwa pelestarian budaya tidak selalu berarti mempertahankan semuanya dalam bentuk yang sama seperti masa lalu, tetapi juga memberi ruang agar tradisi dapat terus berkembang tanpa kehilangan identitasnya.
Penampilan musik elektronik oleh 64KSANA yang dipadukan dengan ritual tradisional gut dalam HEXAGRAM 22 yang digelar pada tanggal 23 Juli 2026 di BEXCO, Haeundae-gu, Busan. (Korea National Intangible Heritage Center)
Pertunjukan kemudian ditutup dengan Jongmyo Jeryeak Ilmu, yaitu tarian ritual kerajaan yang telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya takbenda kemanusiaan.
Pertunjukan tersebut kemudian dilanjutkan dengan lagu rakyat "Arirang" yang dibawakan bersama seluruh penampil dan mengajak seluruh penonton bernyanyi bersama.
Tepuk tangan panjang yang memenuhi auditorium menggambarkan bahwa pada malam itu musik dan seni benar-benar menjadi bahasa universal yang mampu menghubungkan semua orang.
Melalui HEXAGRAM 22, Korea memperkenalkan warisan budaya takbendanya kepada dunia dengan cara yang kreatif dan relevan, tetapi tetap menghormati akar tradisinya.
margareth@korea.kr
*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Program Wartawan Kehormatan dijalankan oleh Korea.net di bawah Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata. Para anggotanya merupakan sukarelawan yang memperkenalkan berbagai hal tentang Korea kepada dunia dengan berperan sebagai jembatan budaya.