Penulis: Wartawan Kehormatan Hurum Maqshuro dari Indonesia
K-Heritage House merupakan ruang pameran budaya inklusif yang dibuat untuk memperingati penyelenggaraan Sidang Komite Warisan Dunia UNESCO ke-48 pada tanggal 19-29 Juli 2026 di BEXCO, Busan. (Park Daejin dari Korea.net)
Penulis mengunjungi K-Heritage House pada tanggal 21 Juli 2026 di BEXCO Busan. Pameran tersebut merupakan ruang pameran budaya inklusif yang dibuat untuk memperingati penyelenggaraan Sidang Komite Warisan Dunia UNESCO ke-48 pada tanggal 19-29 Juli 20
K-Heritage House dibuka secara gratis untuk masyarakat umum pada tanggal 20-29 Juli 2026 di BEXCO, Busan. (Park Daejin dari Korea.net)
Melalui berbagai stan pameran dan program aktivitas, K-Heritage House. memperkenalkan masa lalu, masa kini, dan masa depan nilai warisan Korea kepada dunia melalui kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah serta sektor swasta.
Memasuki ruangan pameran, penulis melihat stan peringatan Kim Koo, yaitu seorang tokoh kemerdekaan Korea dan pemikir visioner yang meyakini bahwa kekuatan budaya dapat membawa kebahagiaan bagi umat manusia serta mewujudkan perdamaian dunia.
Poster penjelasan mengenai Kim Koo, tokoh kemerdekaan Korea yang visinya tentang kekuatan budaya dan perdamaian dunia menjadi dasar penetapan 2026 sebagai Tahun Peringatan UNESCO untuk memperingati 150 tahun kelahirannya. (Hurum Maqshuro)
Visinya sejalan dengan nilai-nilai UNESCO, terutama gagasan tentang budaya perdamaian dan keberagaman budaya sehingga pada tahun 2025 UNESCO menetapkan tahun 2026 sebagai tahun peringatan 150 tahun kelahiran Kim Koo.
Penetapan tersebut diprakarsai oleh Republik Korea dan didukung oleh delapan negara dari Asia dan Afrika yang menunjukkan bahwa pemikiran Kim Koo dipandang memiliki nilai universal yang melampaui batas negara dan kawasan.
Rute Budaya Gaya: Cahaya Seribu Tahun menghadirkan kisah peradaban Gaya melalui seni digital, cahaya, dan alunan gayageum yang melampaui rentang waktu seribu tahun. (Hurum Maqshuro)
Penulis pun sempat mengunjungi K-Heritage Pavilion yang mempromosikan warisan nasional Korea dengan menghidupkan kembali nuansa khas tempat, sejarah, dan kisah warisan nasional melalui teknologi digital.
Salah satu yang menarik perhatian penulis adalah Rute Budaya Gaya: Cahaya Seribu Tahun yang menceritakan kisah masyarakat Gaya yang mengembangkan peradaban dan seni yang gemilang.
Terinspirasi dari gundukan makam kuno Gaya, pertunjukan seni digital tersebut menghidupkan kembali cahaya dan alunan gayageum di ruang masa kini, melampaui rentang waktu seribu tahun.
Royalty Route: Garden of Harmony menghadirkan lanskap dari lukisan Gangsanmujindo di K-Heritage House yang dibuka pada tanggal 20-29 Juli 2026 di BEXCO, Busan. (Hurum Maqshuro)
Sebelum mengakhiri kunjungan di K-Heritage Pavilion, penulis menyusuri Royalty Route: Garden of Harmony, yang menghadirkan lanskap dari lukisan. Pameran ini menonjolkan taman bunga yang dihidupkan melalui simpul-simpul tradisional khas Korea.
Pengrajin Park Chang-yeong memperagakan langsung cara pembuatan gat, yaitu topi tradisional Korea dari rambut kuda. (Hurum Maqshuro)
Selain menampilkan berbagai warisan budaya, pengunjung juga berkesempatan menyaksikan langsung proses pembuatan gat, yaitu topi tradisional Korea yang dibuat dari rambut kuda.
Salah satu pengrajin yang diperkenalkan adalah Park Chang-yeong, seorang yang telah meneruskan tradisi keluarganya selama lebih dari 130 tahun.
Menariknya, tradisi tersebut kini terus dilanjutkan oleh putranya sebagai generasi kelima sehingga menunjukkan bagaimana keterampilan tradisional dapat terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Miniatur kapal Geobukseon, yaitu kapal perang yang digunakan oleh Angkatan Laut Joseon di bawah komando Laksamana Yi Sun-sin dalam berbagai pertempuran laut melawan Jepang selama Perang Imjin (1592–1598). (Hurum Maqshuro)
Terdapat pula warisan maritim yang mengangkat kapal Geobukseon melalui tema Catatan Pertahanan Maritim dan Peperangan Taktis.
Salah satu catatan penting yang ditampilkan adalah Nanjung Ilgi karya Laksamana Yi Sun-sin, yang mencatat secara rinci situasi perang dan kondisi laut serta diakui sebagai Warisan Ingatan Dunia UNESCO pada 2013.
Sebelum mengakhiri kunjungan, penulis mengunjungi area pameran pyeonaek, yaitu papan kayu gantung yang memuat nama dan filosofi suatu tempat.
Dalam pameran ini ditampilkan papan-papan dari Desa Hahoe, Dosan Seowon, dan Byeongsan Seowon, yang semuanya berkaitan dengan situs warisan budaya penting Korea.
Di area pameran pyeonaek di K-Heritage House, pengunjung juga dapat mengikuti kegiatan membuat pyeonaek secara gratis dan membawa pulang hasil karya mereka sendiri. (Hurum Maqshuro)
Meskipun telah dipindahkan dari tempat asalnya, 550 pyeonaek yang dimiliki oleh Academy of Korean Studies tetap menyimpan kenangan dan semangat dari tempat serta masyarakat yang terkait dengannya.
Warisan budaya tersebut tercatat sebagai Warisan Ingatan Dunia UNESCO untuk kawasan regional Asia dan Pasifik sebagai warisan pertama dari Republik Korea yang memperoleh pengakuan regional tersebut.
Sebagai kota tuan rumah Sidang Komite Warisan Dunia UNESCO ke-48, Busan tidak hanya menjadi pusat perhatian dunia, tetapi juga memiliki sejarah penting sebagai ibu kota sementara Korea selama Perang Korea (1950-1953).
Pada area Busan: The Host City Pavilion, pengunjung dapat mengenal sebelas situs yang diajukan sebagai Warisan Dunia UNESCO melalui dokumentasi visual yang memperlihatkan perbandingan kondisi masa lalu dan masa kini. (Hurum Maqshuro)
Sebanyak sebelas situs dalam Situs Ibu Kota Darurat Busan pada Masa Perang Korea telah diajukan untuk masuk dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO.
Secara keseluruhan, kunjungan ke K-Heritage House memberikan pengalaman yang menarik bagi penulis sebagai pengunjung asing untuk mengenal berbagai warisan budaya Korea dengan cara yang interaktif dan mudah dipahami.
margareth@korea.kr
*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Program Wartawan Kehormatan dijalankan oleh Korea.net di bawah Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata. Para anggotanya merupakan sukarelawan yang memperkenalkan berbagai hal tentang Korea kepada dunia dengan berperan sebagai jembatan budaya.