Penulis: Wartawan Kehormatan Hurum Maqshuro dari Indonesia
Foto: Hurum Maqshuro
Pameran khusus bertajuk Warisan Abadi: Catatan dan Budaya Dinasti Joseon dapat dinikmati oleh pengunjung hingga tanggal 30 Agustus 2026 di Museum Busan.
Pada tanggal 9 Juli 2026 penulis mengunjungi pameran khusus kolaborasi antara Museum Busan dan Museum Nasional Istana Korea untuk memperingati penyelenggaraan Sidang ke-48 Komite Warisan Dunia UNESCO.
Pameran yang bertajuk Warisan Abadi: Catatan dan Budaya Dinasti Joseon tersebut berlangsung dari tanggal 7 Juli hingga 30 Agustus 2026 di Museum Busan.
Pameran tersebut diselenggarakan untuk memperkenalkan tradisi pencatatan Dinasti Joseon (1392-1910) yang menjadi dasar pelestarian sejarah, pemerintahan, dan budaya Korea.
Melalui berbagai arsip, dokumen kerajaan, benda-benda istana, hingga catatan diplomatik Joseon Tongsinsa, pengunjung diajak memahami bagaimana warisan Dinasti Joseon diwariskan secara sistematis dan kini menjadi bagian dari warisan budaya dunia.
Memasuki area pameran Warisan Abadi: Catatan dan Budaya Dinasti Joseon di Museum Busan, pengunjung disambut dengan dekorasi khas istana kerajaan Joseon.
Pameran tersebut memperkenalkan program Warisan Dunia UNESCO dan Daftar Memori Dunia UNESCO melalui berbagai warisan Korea yang telah terdaftar di dalamnya.
Melalui arsip dan dokumen peninggalan Dinasti Joseon, pengunjung dapat melihat bagaimana tradisi pencatatan yang sistematis berperan penting dalam pelestarian sejarah, budaya, diplomasi, dan pemerintahan, sehingga menjadi bagian dari warisan yang diakui dunia.
Memasuki ruang pertama, pameran itu memperkenalkan Dinasti Joseon sebagai negara yang memiliki tradisi pencatatan yang sangat sistematis.
Seluruh proses pemerintahan mulai dari aktivitas raja hingga administrasi negara, didokumentasikan dengan teliti dan dikelola melalui sistem arsip yang terorganisasi untuk menjaga keberlangsungan sejarah.
Uigwe Upacara Pernikahan Kerajaan Raja Gojong dan Ratu Myeongseong Jilid 1–2 (1866, tahun ke-3 pemerintahan Raja Gojong) yang merupakan koleksi Museum Nasional Istana Korea, ditetapkan sebagai Harta Karun Nasional.
Warisan-warisan yang dipamerkan antara lain adalah Babad Dinasti Joseon (Joseon Wangjo Sillok), Buku Harian Sekretariat Kerajaan (Seungjeongwon Ilgi), Catatan Refleksi Harian (Ilseongnok), serta Protokol Kerajaan (Uigwe) Dinasti Joseon.
Arsip-arsip tersebut menunjukkan bagaiman dokumentasi berperan dalam menjaga pemerintahan sekaligus menjadi sumber sejarah yang utuh.
Kini arsip-arsip tersebut diakui sebagai bagian dari Daftar Memori Dunia UNESCO dan menjadi warisan yang bernilai bagi dunia.
Segel Emas Penganugerahan Gelar Anumerta Raja Yeongjo (1776), dibuat pada awal pemerintahan Raja Jeongjo untuk menghormati jasa dan kebajikan Raja Yeongjo.
Bagian berikutnya menampilkan berbagai simbol yang merepresentasikan kewibawaan dan martabat keluarga kerajaan Joseon yang menampilkan simbol utama otoritas kerajaan, seperti stempel dan dokumen kerajaan, serta lukisan para raja Dinasti Joseon.
Terdapat pula lukisan yang menjadi latar singgasana raja, yaitu Irworobongdo (lukisan matahari, bulan, dan lima puncak) yang melambangkan kehadiran serta otoritas penguasa tertinggi.
Irworobongdo (lukisan matahari, bulan, dan lima puncak)merupakan lukisan resmi istana yang selalu ditempatkan di belakang singgasana raja.
Selain simbol-simbol kerajaan, pameran tersebut juga menghadirkan berbagai benda yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari keluarga kerajaan, seperti busana, perhiasan, furnitur, keramik, dan kain pembungkus tradisional.
Koleksi-koleksi tersebut memperlihatkan perpaduan antara keanggunan, nilai estetika, dan martabat yang menjadi ciri khas budaya istana Dinasti Joseon.
Guci bulan dibuat dengan glasir putih yang lembut dan desain yang sederhana sehingga mencerminkan keanggunan, kesederhanaan, serta estetika khas keramik Dinasti Joseon.
Memasuki ruang terakhir, pameran ini memperkenalkan Dongnaebu sebagai gerbang Dinasti Joseon di wilayah selatan sekaligus pusat hubungan diplomatik dengan Jepang.
Setelah Perang Imjin (1592-1598), hubungan Joseon dan Jepang dipulihkan melalui Perjanjian Giyu pada tahun 1609 yang menetapkan Dongnaebu sebagai satu-satunya pusat diplomasi dan perdagangan resmi antara Joseon dan Jepang.
Dari wilayah inilah rombongan Joseon Tongsinsa (Utusan Diplomatik Joseon) berangkat untuk menyampaikan surat resmi raja kepada shogun sekaligus memperkuat hubungan politik kedua negara.
Potret Yi Deok-seong (1655–1704), pejabat Dinasti Joseon yang menjabat sebagai penguasa administratif wilayah Dongnae pada tahun 1687.
Pameran ini juga menyoroti peran magistrat Dongnae, pejabat yang bertanggung jawab mengawasi situasi politik di wilayah selatan, melaporkan perkembangan di Jepang kepada istana, serta mengelola kawasan permukiman dan perdagangan Jepang.
Selain menjadi penghubung diplomatik, Joseon Tongsinsa turut berperan sebagai jembatan pertukaran budaya, sastra, dan seni antara Joseon dan Jepang sehingga hubungan damai kedua negara dapat terjalin selama hampir dua abad.
Lukisan lipat emas Chinzei Hachiro dihadiahkan oleh Keshogunan Edo kepada Raja Joseon pada misi Joseon Tongsinsa ke-11 pada tahun 1764 sebagai bagian dari pertukaran hadiah diplomatik.
Melalui pameran Warisan Abadi: Catatan dan Budaya Dinasti Joseon, pengunjung dapat memahami bagaimana Dinasti Joseon membangun peradaban melalui sistem pencatatan yang rapi, simbol-simbol kerajaan yang merepresentasikan legitimasi dan martabat, serta diplomasi yang berperan penting dalam membangun hubungan dengan dunia luar.
margareth@korea.kr
*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Program Wartawan Kehormatan dijalankan oleh Korea.net di bawah Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata. Para anggotanya merupakan sukarelawan yang memperkenalkan berbagai hal tentang Korea kepada dunia dengan berperan sebagai jembatan budaya.