Wartawan Kehormatan

2026.07.20

Membaca artikel ini dalam bahasa yang lain
  • 한국어
  • English
  • 日本語
  • 中文
  • العربية
  • Español
  • Français
  • Deutsch
  • Pусский
  • Tiếng Việt
  • Indonesian

Penulis: Wartawan Kehormatan Maulia Resta Mardaningtias dari Indonesia

Desa Rakyat Korea merupakan salah satu destinasi wisata budaya populer di Korea. Tempat ini menghadirkan suasana kehidupan masyarakat masa lampau, khususnya era Joseon (1392-1910), melalui rekonstruksi rumah tradisional, lingkungan, serta beragam pertunjukan dan atraksi budaya.

Pada hari Jumat (17/10/2025), penulis berkesempatan mengunjungi Desa Rakyat Korea yang terletak di Kota Yongin, Provinsi Gyeonggi.

Potret pengunjung Desa Rakyat Korea di Provinsi Gyeonggi yang sedang bermain permainan teka-teki gambar dalam festival musim gugur bertema horor. (Maulia Resta Mardaningtias)

Potret pengunjung Desa Rakyat Korea di Provinsi Gyeonggi yang sedang bermain permainan teka-teki gambar dalam festival musim gugur bertema horor. (Maulia Resta Mardaningtias)


Saat berkunjung, penulis mendapati area wisata dipenuhi oleh pengunjung, sebagian besar merupakan rombongan sekolah mulai dari anak-anak taman kanak-kanak hingga pelajar dewasa.

Pemandangan tersebut terasa unik karena menunjukkan bahwa Desa Rakyat Korea bukan hanya menjadi destinasi wisata bagi turis asing, melainkan juga berfungsi sebagai ruang pembelajaran budaya bagi generasi muda Korea sendiri.

Potret pohon seonangdang di Desa Rakyat Korea di Provinsi Gyeonggi yang dibalut kain berwarna-warni, menggantung di setiap akar pohon. (Maulia Resta Mardaningtias)

Potret pohon seonangdang di Desa Rakyat Korea di Provinsi Gyeonggi yang dibalut kain berwarna-warni, menggantung di setiap akar pohon. (Maulia Resta Mardaningtias)


Salah satu daya tarik utama adalah kawasan desa era Joseon, yang menampilkan rumah-rumah asli yang dipindahkan atau direstorasi dari berbagai daerah di Korea.

Penulis bersama rombongan King Sejong Outstanding Learners Invitation Program tahun 2025 dipandu menyusuri desa yang dipenuhi pepohonan. Beberapa pohon yang dibalut kain berwarna-warni disebut pohon seonangdang, yaitu tempat suci dalam tradisi syamanisme Korea yang didedikasikan untuk Seonangshin, dewa pelindung desa.

Potret lentera berbentuk bulan purnama yang mengapung di atas permukaan Sungai Jigokcheon yang berada di Desa Rakyat Korea, Kota Yongin, Provinsi Gyeonggi. (Maulia Resta Mardaningtias)

Potret lentera berbentuk bulan purnama yang mengapung di atas permukaan Sungai Jigokcheon yang berada di Desa Rakyat Korea, Kota Yongin, Provinsi Gyeonggi. (Maulia Resta Mardaningtias)


Hal lain yang menambah kesan hidup pada desa ini adalah aliran sungai kecil bernama Jigokcheon.

Di bagian sungai yang tenang, terdapat lentera berbentuk bulan purnama yang mengapung di atas permukaan air. Walau dilihat di siang hari, lentera yang mengapung tersebut menyuguhkan pemandangan yang sangat indah berpadu dengan alam asri yang mengelilinginya.

Potret penulis bersama teman satu kelompok saat berfoto di jembatan kayu tradisional Jejumokgyo di Desa Rakyat Korea, Kota Yongin, Provinsi Gyeonggi. (King Sejong Institute Foundation)

Potret penulis bersama teman satu kelompok saat berfoto di jembatan kayu tradisional Jejumokgyo di Desa Rakyat Korea, Kota Yongin, Provinsi Gyeonggi. (King Sejong Institute Foundation)


Di sekitar sungai terdapat pula jembatan kayu tradisional bernama Jejumokgyo. Jembatan ini dihiasi lentera tradisional cheongsachorong dan menjadi salah satu spot foto favorit pengunjung.

Dengan latar pepohonan yang berubah sesuai musim, Jejumokgyo menghadirkan suasana tenang sekaligus romantis. Momen berdiri di atas jembatan bersama teman-teman, yang diabadikan melalui foto dari balik dedaunan, menjadi kenangan istimewa yang layak disimpan.

Potret pengunjung Desa Rakyat Korea di Provinsi Gyeonggi yang sedang bermain permainan ayunan tradisional Korea, geunettwigi. (Maulia Resta Mardaningtias)

Potret pengunjung Desa Rakyat Korea di Provinsi Gyeonggi yang sedang bermain permainan ayunan tradisional Korea, geunettwigi. (Maulia Resta Mardaningtias)


Setelah menyeberangi jembatan, terdapat area permainan tradisional Korea. Di sana pengunjung dapat mencoba berbagai permainan seperti geunettwigi, yaitu ayunan tradisional Korea, dan tuho, permainan melempar panah ke dalam wadah.

Permainan geunettwigi menjadi salah satu yang paling menarik perhatian pengunjung di Desa Rakyat Korea. Berbeda dengan ayunan biasa yang dimainkan sambil duduk, secara tradisional geunettwigi dimainkan dengan berdiri di atas pijakan, lalu mengayunkan tubuh ke depan dan ke belakang untuk melompat lebih tinggi.

Potret rumah tradisional Korea dari wilayah selatan yang dahulu ditinggali rakyat biasa dan kini dapat ditemukan di Desa Rakyat Korea, Kota Yongin, Provinsi Gyeonggi. (Maulia Resta Mardaningtias)

Potret rumah tradisional Korea dari wilayah selatan yang dahulu ditinggali rakyat biasa dan kini dapat ditemukan di Desa Rakyat Korea, Kota Yongin, Provinsi Gyeonggi. (Maulia Resta Mardaningtias)


Perjalanan berlanjut ke area rumah tradisional yang pada pintu masuknya terdapat keterangan berupa rumah rakyat biasa dari wilayah selatan Korea, seperti Provinsi Jeolla dan Gyeongsang.

Ciri khas wilayah selatan Korea yang memiliki iklim yang lebih hangat, membuat rumah-rumah di wiliayah tersebut dirancang dengan teras dan balkon kayu yang luas untuk memperlancar sirkulasi udara.

Potret penulis berfoto di jalur dengan kain sutra berwarna-warni yang digantung di pepohonan di Desa Rakyat Korea, Kota Yongin, Provinsi Gyeonggi. (Maulia Resta Mardaningtias)

Potret penulis berfoto di jalur dengan kain sutra berwarna-warni yang digantung di pepohonan di Desa Rakyat Korea, Kota Yongin, Provinsi Gyeonggi. (Maulia Resta Mardaningtias)


Lalu tak jauh dari area itu, terdapat jalan dengan kain sutra berwarna-warni yang digantung dan menjuntai indah di antara pepohonan. Jalan ini menjadi salah satu ikon foto populer bagi pengunjung karena menghadirkan suasana elegan sekaligus penuh warna.

Potret apotek tradisional Korea yang juga berfungsi sebagai kafe dan menawarkan minuman tradisional kepada pengunjung di Desa Rakyat Korea, Kota Yongin, Provinsi Gyeonggi. (Maulia Resta Mardaningtias)

Potret apotek tradisional Korea yang juga berfungsi sebagai kafe dan menawarkan minuman tradisional kepada pengunjung di Desa Rakyat Korea, Kota Yongin, Provinsi Gyeonggi. (Maulia Resta Mardaningtias)


Area apotek tradisional Korea tampak hanya menampilkan bentuk apotek era Joseon lengkap dengan tanaman herbal yang ditanam di sekitarnya. Namun, area tersebut ternyata juga berfungsi sebagai kafe tempat pengunjung dapat membeli dan mencicipi minuman tradisional Korea.

Potret seorang pengunjung yang kalah dalam permainan dan sedang dihukum oleh staf berkostum hantu khas Korea di Desa Rakyat Korea, Kota Yongin, Provinsi Gyeonggi. (Maulia Resta Mardaningtias)

Potret seorang pengunjung yang kalah dalam permainan dan sedang dihukum oleh staf berkostum hantu khas Korea di Desa Rakyat Korea, Kota Yongin, Provinsi Gyeonggi. (Maulia Resta Mardaningtias)


Tidak hanya menampilkan rumah atau bangunan tradisional, Desa Rakyat Korea juga menghadirkan berbagai pertunjukan, atraksi, pameran interaktif, dan festival untuk memperkaya pengalaman wisatawan.

Saat kunjungan pada bulan Oktober, tengah berlangsung festival musim gugur bertema horor. Penulis menyaksikan salah satu permainan saat peserta harus menyelesaikan misi dengan membunyikan bel utama yang berada di dalam area penuh rintangan yang dihiasi bel-bel kecil yang akan berbunyi jika tersentuh.

Kala itu staf mengenakan kostum hantu khas Korea sangat menarik perhatian pengunjung, sementara salah seorang pengunjung yang gagal dalam permainan mendapat hukuman kecil sehingga suasana permainan terasa semakin seru.

Potret berbagai kerajinan bambu, termasuk layang-layang tradisional Korea yang dipamerkan di salah satu area di Desa Rakyat Korea, Kota Yongin, Provinsi Gyeonggi. (Maulia Resta Mardaningtias)

Potret berbagai kerajinan bambu, termasuk layang-layang tradisional Korea yang dipamerkan di salah satu area di Desa Rakyat Korea, Kota Yongin, Provinsi Gyeonggi. (Maulia Resta Mardaningtias)


Bagian terakhir yang penulis kunjungi adalah rumah tradisional yang menampilkan kerajinan bambu. Di sini pengunjung dapat melihat berbagai karya, termasuk layang-layang khas Korea dengan desain dan warna tradisional.

Bagi masyarakat Indonesia yang berencana berkunjung ke Desa Rakyat Korea, sebaiknya menyisihkan waktu satu hari penuh agar dapat menikmati keindahan desa tradisional ini dengan lebih puas.


margareth@korea.kr

*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Program Wartawan Kehormatan dijalankan oleh Korea.net di bawah Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata. Para anggotanya merupakan sukarelawan yang memperkenalkan berbagai hal tentang Korea kepada dunia dengan berperan sebagai jembatan budaya.

konten yang terkait