Wartawan Kehormatan

2026.07.01

Membaca artikel ini dalam bahasa yang lain
  • 한국어
  • English
  • 日本語
  • 中文
  • العربية
  • Español
  • Français
  • Deutsch
  • Pусский
  • Tiếng Việt
  • Indonesian

Penulis: Wartawan Kehormatan Fergi Nadira Bachruddin dari Indonesia
Foto: Fergi Nadira Bachruddin

Potret Desa Budaya Gamcheon dari ketinggian yang diambil saat penulis mengunjungi lokasi tersebut pada tanggal 15 Juni 2026.

Potret Desa Budaya Gamcheon dari ketinggian yang diambil saat penulis mengunjungi lokasi tersebut pada tanggal 15 Juni 2026.


Kota Busan selalu identik dengan Pantai Haeundae atau Pasar Ikan Jagalchi. Namun, penulis merekomendasikan Desa Budaya Gamcheon jika ingin melihat sisi lain dari Busan. Desa ini merupakan desa seni yang berdiri di lereng bukit dan dipenuhi rumah-rumah berwarna pastel.

Penulis datang ke Gamcheon pada hari Senin (15/06/2026). Awalnya penulis mengira suasananya akan sepi karena bukan akhir pekan. Ternyata dugaan itu meleset.

Sejak memasuki kawasan, penulis sudah bertemu rombongan wisatawan dari berbagai negara. Jalan-jalan kecil dipenuhi pelancong yang sibuk mengambil foto, menikmati kopi di kafe, hingga berburu suvenir khas Busan. Suasananya benar-benar hidup.

Dari kawasan Jangsan, penulis menempuh perjalanan sekitar satu setengah jam menggunakan bus kota. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan menggunakan bus kecil yang khusus melayani jalan-jalan menanjak menuju kawasan Gamcheon.

Melihat sopir bermanuver melewati tanjakan dan tikungan sempit membuat perjalanan terasa seperti atraksi tersendiri. Saat pulang, pun menaiki bus kecil tersebut menuruni bukit menuju Stasiun Toseong.

Sesampainya di atas, pemandangan rumah-rumah warna-warni yang bertumpuk mengikuti kontur bukit langsung menyambut setiap orang yang hadir di sana. Dari beberapa titik observasi, wisatawan juga bisa menikmati panorama Pelabuhan Busan dan laut yang membentang di kejauhan.

Dari atas Gamcheon, pelancong dapat melihat pelabuhan Busan, bukit dan rumah-rumah yang terjejer rapi di kawasan bukit. Foto ini diambil penulis saat berkunjung pada Senin (15/6/2026).

Dari atas Gamcheon, pelancong dapat melihat pelabuhan Busan, bukit dan rumah-rumah yang terjejer rapi di kawasan bukit. Foto ini diambil penulis saat berkunjung pada Senin (15/6/2026).


Yang membuat penulis semakin terkejut adalah banyaknya sebutan penggemar grup BTS yang berada di kawasan tersebut. Kebetulan penulis datang bertepatan dengan BTS FESTA dan konser BTS "ARIRANG" di Busan. Tak butuh waktu lama untuk mengetahui alasan banyaknya turis internasional datang ke Gamcheon.

Beberapa menit berjalan, ternyata terdapat mural dua anggota BTS asal Busan, Jimin dan Jung Kook. Di lokasi lain tepat di depan mural tersebut juga terdapat mural ketujuh anggota BTS yang menjadi spot favorit pengunjung untuk berfoto.

Mural duo Busan Jimin dan Jungkook BTS di Desa Budaya Gamcheon menjadi salah satu spot foto favorit pengunjung, dan diabadikan penulis saat berkunjung pada Senin (15/6/2026).

Mural duo Busan Jimin dan Jungkook BTS di Desa Budaya Gamcheon menjadi salah satu spot foto favorit pengunjung, dan diabadikan penulis saat berkunjung pada Senin (15/6/2026).


Mural tersebut menjadi salah satu bukti bagaimana budaya populer Korea ikut memperkaya pengalaman wisata di Busan. Banyak pengunjung yang awalnya datang untuk melihat kampung warna-warni ini sekaligus menyempatkan diri mengunjungi berbagai spot bertema BTS.

Namun, tidak banyak wisatawan yang mengetahui bahwa kawasan ini memiliki sejarah panjang. Setelah Perang Korea, Gamcheon menjadi tempat tinggal para pengungsi yang membangun rumah sederhana di lereng bukit. Selama bertahun-tahun kawasan ini berkembang sebagai permukiman padat.

Pada tahun 2009, pemerintah bersama seniman dan masyarakat setempat menjalankan proyek revitalisasi kota melalui program Dreaming of Busan's Machu Picchu.

Alih-alih menggusur permukiman lama, rumah-rumah tetap dipertahankan lalu dipercantik dengan mural, galeri seni, instalasi, dan ruang kreatif. Pendekatan inilah yang membuat Gamcheon kini dikenal sebagai salah satu contoh sukses regenerasi kota berbasis komunitas di Korea.

Desa Budaya Gamcheon bukan hanya destinasi wisata. Kisah transformasinya menjadi contoh revitalisasi kota yang bahkan masuk buku pelajaran dan soal ujian masuk perguruan tinggi di Korea.

Desa Budaya Gamcheon bukan hanya destinasi wisata. Kisah transformasinya menjadi contoh revitalisasi kota yang bahkan masuk buku pelajaran dan soal ujian masuk perguruan tinggi di Korea.


Saat berjalan menyusuri gang-gangnya, penulis merasakan bahwa Gamcheon bukan sekadar objek wisata buatan. Penduduk masih tinggal di sana. Di sela rumah-rumah warna-warni masih terlihat kehidupan sehari-hari warga yang berjalan berdampingan dengan aktivitas wisata.

Sepanjang perjalanan terdapat toko suvenir, galeri seni, restoran, hingga kafe dengan pemandangan kota dari atas bukit. Salah satu kafe yang cukup terkenal bahkan pernah dikunjungi Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo, saat berkunjung ke Busan.

Ramainya wisatawan membuat usaha-usaha kecil tersebut terus bergerak. Bukan hanya wisatawan mandiri, banyak pula rombongan tur yang datang silih berganti sepanjang hari. Penulis melihat pengunjung membeli kerajinan tangan, menikmati makanan lokal, hingga mengabadikan momen di berbagai titik foto ikonik.

Salah satu toko suvenir di Desa Budaya Gamcheon difoto oleh penulis saat berkunjung pada Senin (15/6/2026).

Salah satu toko suvenir di Desa Budaya Gamcheon difoto oleh penulis saat berkunjung pada Senin (15/6/2026).


Bagi penulis, Gamcheon menunjukkan bagaimana sebuah kawasan bersejarah dapat berkembang menjadi destinasi wisata tanpa kehilangan identitasnya sebagai permukiman warga. Seni, budaya, sejarah, dan kehidupan masyarakat berpadu dalam satu ruang yang sama.


margareth@korea.kr

*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Program Wartawan Kehormatan dijalankan oleh Korea.net di bawah Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata. Para anggotanya merupakan sukarelawan yang memperkenalkan berbagai hal tentang Korea kepada dunia dengan berperan sebagai jembatan budaya.

konten yang terkait