Wartawan Kehormatan

2026.06.26

Membaca artikel ini dalam bahasa yang lain
  • 한국어
  • English
  • 日本語
  • 中文
  • العربية
  • Español
  • Français
  • Deutsch
  • Pусский
  • Tiếng Việt
  • Indonesian

Penulis: Wartawan Kehormatan Audrey Regina dari Indonesia
Foto: Audrey Regina

Jongno adalah salah satu distrik di Seoul yang dekat dengan beberapa destinasi wisata terkenal seperti Istana Gyeongbukgung, Pasar Gwangjang, dan Alun-alun Gwanghwamun.

Selain wisata budaya dan kuliner, Jongno juga memiliki pilihan untuk berwisata sambil mengenal sastra dan sejarah modern Korea.

Beberapa destinasi terkait adalah Rumah Lee Sang, Rumah Indekos Yoon Dong-ju, dan Ruang Pameran Majelis Konstituante.

Ketiga tempat itu adalah tempat bersejarah yang berkaitan dengan dunia sastra modern Korea serta sejarah konstitusi di Korea.

Pada tanggal 23 Juni 2026 penulis berkesempatan mengunjungi Jongno dan menjelajahi jejak sejarah sastra modern dan konstitusi di Korea. Destinasi pertama yang penulis kunjungi adalah Rumah Lee Sang.

Salah satu koleksi yang ada di Rumah Lee Sang berupa novel Lee Sang yang paling terkenal, berjudul The Wings.

Salah satu koleksi yang ada di Rumah Lee Sang berupa novel Lee Sang yang paling terkenal, berjudul The Wings.


Berdasarkan penjelasan dari pemandu yang ada di lokasi, Lee Sang adalah penulis Korea yang aktif berkarya pada zaman kolonialisme Jepang (1910-1945).

Selain terkenal dengan karya tulisannya, Lee juga dikenal memiliki bakat dalam melukis. Salah satu karya novelnya yang terkenal berjudul The Wings. Selain novel, karya puisi Lee Sang yang terkenal adalah "Ogamdo," puisi abstrak yang berisi deretan angka.

Di Rumah Lee Sang, pengunjung dapat mempelajari lebih lanjut mengenai kehidupan Lee dan juga karya-karyanya. Ia dikenal sebagai salah satu penulis muda yang jenius dari Korea.

Meski sudah meninggal pada tahun 1937, hingga saat ini karya-karya Lee masih sering diperbincangkan dan diteliti oleh para peneliti bidang sastra modern Korea.

Potret Rumah Indekos Yoon Dong-ju di Jongno yang pernah ditinggal penyair tersebut bersama dengan novelis Kim Song pada tahun 1941.

Potret Rumah Indekos Yoon Dong-ju di Jongno yang pernah ditinggal penyair tersebut bersama dengan novelis Kim Song pada tahun 1941.


Tak jauh dari Rumah Lee Sang, penulis berkunjung ke Rumah Indekos Yoon Dong-ju. Sama seperti Lee, Yoon Dong-ju adalah salah seorang penyair terkenal pada zaman kolonialisme Jepang.

Saat mengikuti kelas sejarah sastra modern Korea, penulis pernah mempelajari sejarah hidup Yoon. Ia lulus dari Yonhui College (sekarang menjadi Universitas Yonsei) dan pergi melanjutkan studi ke Jepang.

Saat melanjutkan studi ke Jepang, ia terpaksa mengubah namanya menjadi nama Jepang dengan nama Hiranuma. Perubahan nama tersebut membuat sang penyair merasa malu dan bersalah, dan semua perasaan itu dituangkan dalam puisinya.

Rumah Indekos Yoon Dong-ju tidak dibuka untuk umum dan hanya bisa dilihat dari luar. Tempat tinggalnya yang dekat dengan Gunung Inwangsan ini juga menjadi inspirasi dari beberapa puisinya.

Buku kumpulan puisi Yoon Dong-ju sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul Langit, Angin, Bintang, dan Puisi.

Salah satu puisinya yang memuat rasa malu dan bersalah akibat mengubah namanya ke nama Jepang tertuang dalam puisi yang berjudul "Sajak yang Mudah Digubah."

Potret pintu utama bangunan Ruang Pameran Majelis Konstituante yang dibangun dengan gaya tradisional.

Potret pintu utama bangunan Ruang Pameran Majelis Konstituante yang dibangun dengan gaya tradisional.


Jika menyeberang ke arah berlawanan dari Rumah Indekos Yoon Dong-ju dan masuk ke sebuah gang kecil, pengunjung dapat menemukan Ruang Pameran Majelis Konstituante.

Bangunan bergaya tradisional ini menyimpan sejarah tentang pemilu pertama Korea yang dilaksanakan pada 10 Mei 1948.

Berdasarkan informasi yang tersedia di lokasi, pemilu pertama tersebut bertujuan untuk membentuk Majelis Konstituante yang bertugas menyusun konstitusi negara setelah merdeka dari Jepang.

Hasil dari pemilu tersebut adalah terpilihnya 198 orang anggota majelis dan Syngman Rhee terpilih sebagai presiden pertama Korea.

Samgyetang adalah hidangan sup ayam ginseng khas Korea yang umumnya dimakan pada saat musim panas untuk mengembalikan stamina tubuh.

Samgyetang adalah hidangan sup ayam ginseng khas Korea yang umumnya dimakan pada saat musim panas untuk mengembalikan stamina tubuh.


Setelah berkeliling mempelajari jejak sejarah dan juga sastra modern Korea yang ada di Jongno, penulis menyempatkan diri untuk mencoba menu makanan sup ayam ginseng khas Korea, yaitu samgyetang.

Samgyetang menjadi salah satu menu makanan sehat yang cocok dinikmati di musim panas untuk mengembalikan stamina tubuh.

Umumnya, samgyetang disajikan dalam bentuk satu ekor ayam utuh yang di dalamnya diisi dengan beras ketan, ginseng, dan kurma Korea.

Jongno menjadi salah satu destinasi yang tepat untuk menikmati sejarah, sastra, budaya, dan kuliner Korea melalui berbagai pilihan destinasi.

Wisatawan bisa menyusuri mulai dari Istana Gyeongbukgung hingga mampir ke Rumah Lee Sang, Rumah Indekos Yoon Dong-ju, dan Ruang Pameran Majelis Konstituante.


margareth@korea.kr

*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Program Wartawan Kehormatan dijalankan oleh Korea.net di bawah Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata. Para anggotanya merupakan sukarelawan yang memperkenalkan berbagai hal tentang Korea kepada dunia dengan berperan sebagai jembatan budaya.

konten yang terkait