Wartawan Kehormatan

2026.06.15

Membaca artikel ini dalam bahasa yang lain
  • 한국어
  • English
  • 日本語
  • 中文
  • العربية
  • Español
  • Français
  • Deutsch
  • Pусский
  • Tiếng Việt
  • Indonesian

Penulis: Wartawan Kehormatan Maulia Resta Mardaningtias dari Indonesia
Foto: Maulia Resta Mardaningtias

Ketika mengunjungi Museum Nasional Gyeongju pada tanggal 8 November 2023 dan Museum Nasional Korea pada tanggal 16 Oktober 2025, penulis turut mendatangi toko suvenir museum dengan beragam produk unik yang mencerminkan unsur dan nilai budaya Korea.

Kreativitas Korea dalam mengintegrasikan budayanya ke dalam suvenir yang fungsional, berdesain indah, dan merepresentasikan identitas budaya, membuat suvenir museum menjadi salah satu cara unik untuk memperkenalkan warisan budaya Korea kepada masyarakat lokal dan dunia.

Menurut artikel Korea.net berjudul "Suvenir Museum Nasional Korea Buka Era Baru Produk Warisan Budaya," merek suvenir Museum Nasional Korea yang bernama MU:DS merupakan hasil dari penggunaan produk budaya tradisional di era modern. Omzet MU:DS pada tahun 2025 bahkan berhasil memecahkan rekor dengan melampaui angka 40 miliar won.

Melalui artikel ini, penulis ingin menyoroti berbagai unsur budaya Korea yang hadir dalam produk suvenir yang menjadi koleksi pribadi penulis.

Potret gantungan kunci dengan desain dancheong yang juga dapat digunakan sebagai tatakan ponsel.

Potret gantungan kunci dengan desain dancheong yang juga dapat digunakan sebagai tatakan ponsel.


Gantungan kunci bermotif dancheong menjadi salah satu suvenir yang memiliki nilai estetis sekaligus fungsi unik bagi penulis. Dancheong merupakan seni lukis tradisional Korea yang menghiasi bangunan berarsitektur kayu dengan spektrum lima warna khas Korea, yaitu merah, biru, kuning, putih, dan hitam.

Dalam kehidupan sehari-hari, dancheong dapat ditemukan pada bangunan tradisional seperti kuil dan istana. Sedangkan dalam penerapannya, seni dancheong memiliki empat tingkatan berbeda sesuai dengan tingkat kerumitan dan kemegahan bangunan.

Penanda dokumen, pulpen, map dokumen, dan buku catatan dengan desain dan ilustrasi kerajinan keramik hijau khas Kerajaan Goryeo (918–1392 M) dan keramik putih khas Dinasti Joseon (1392-1910 M).

Penanda dokumen, pulpen, map dokumen, dan buku catatan dengan desain dan ilustrasi kerajinan keramik hijau khas Kerajaan Goryeo (918–1392 M) dan keramik putih khas Dinasti Joseon (1392-1910 M).


Desain lain yang banyak diadaptasi ke dalam berbagai bentuk suvenir adalah desain keramik tradisional Korea.

Saat berkunjung ke Museum Nasional Gyeongju dan Museum Nasional Korea, penulis menyadari bahwa salah satu peninggalan budaya era kerajaan yang banyak ditemukan di tanah Korea adalah kerajinan tanah liat, mulai dari tembikar sederhana hingga seladon dan keramik yang memiliki nilai seni tinggi.

Kedua museum nasional tersebut menyimpan banyak peninggalan kerajinan tanah liat dari era Tiga Kerajaan (57 SM s/d 668 M) hingga Dinasti Joseon (1392-1910 M) menunjukkan bahwa Korea memiliki tradisi tembikar yang sangat panjang.

Lukisan tradisional rakyat Korea banyak diadaptasi ke dalam berbagai suvenir museum Korea.

Lukisan tradisional rakyat Korea banyak diadaptasi ke dalam berbagai suvenir museum Korea.


Museum lain di Korea seperti Museum Nasional Maritim Korea juga memiliki produk suvenir unik, seperti pembatas buku yang desainnya terinspirasi dari lukisan "Haehak Bando" pada layar lipat tradisional yang mengilustrasikan laut, burung bangau, dan buah persik yang dipakai di istana sebagai bentuk harapan kemakmuran dan panjang umur.

Selain itu, ragam lukisan tradisional Korea lainnya juga diadaptasi ke dalam bentuk suvenir, mulai dari alat tulis dan perlengkapan kantor, peralatan makan dan minum, hingga produk fesyen.

Salah satu yang paling menonjol adalah lukisan "Irworobongdo" yang dahulu ditempatkan di balik singgasana raja. Lukisan ini tidak hanya berfungsi sebagai hiasan estetis, tetapi juga memiliki makna mendalam dalam sejarah Korea.

Dalam lukisan tersebut, matahari dan bulan digambarkan sebagai simbol raja dan permaisuri, sementara lima puncak gunung melambangkan harapan akan kestabilan serta kesejahteraan negara.

Di samping itu, lukisan rakyat Korea seperti "Hojakdo" yang menampilkan sosok harimau dan burung murai juga sering diadaptasi menjadi suvenir museum.

Suvenir museum berbentuk catatan kecil dan peralatan makan berukiran ilustrasi Garye Dogam Uigwe.

Suvenir museum berbentuk catatan kecil dan peralatan makan berukiran ilustrasi "Garye Dogam Uigwe."


Selain lukisan tradisional, pengunjung museum juga dapat menemukan ilustrasi "Garye Dogam Uigwe," sebuah catatan resmi negara pada masa Dinasti Joseon yang mendokumentasikan secara rinci upacara pernikahan Raja Yeongjo dan Permaisuri Jeongsun.

Catatan tersebut merekam seluruh proses persiapan pernikahan, mulai dari pemilihan calon permaisuri hingga pelaksanaan upacara resmi, dalam bentuk teks dan ilustrasi. Gambar-gambar tersebut menampilkan suasana pernikahan, termasuk busana tamu, bendera upacara, kuda, serta bentuk dan posisi tandu.

Ilustrasi "Garye Dogam Uigwe" diadaptasi ke dalam berbagai produk suvenir seperti peralatan makan, catatan kecil, dan juga payung.

Potret sampul paspor berilustrasikan topeng tradisional Korea dan potongan naskah puisi Yoon Dongju yang diadaptasi ke dalam berbagai bentuk suvenir.

Potret sampul paspor berilustrasikan topeng tradisional Korea dan potongan naskah puisi Yoon Dongju yang diadaptasi ke dalam berbagai bentuk suvenir.


Suvenir museum tidak hanya menjadi medium untuk mengenalkan budaya Korea, tetapi juga merepresentasikan identitas budaya dari setiap kota di Korea. Di Gyeongju, misalnya, terdapat tas kecil dengan desain peninggalan Kerajaan Silla yang banyak ditemukan di kota tersebut.

Selain mengadaptasi budaya tradisional era kerajaan, suvenir museum Korea juga mengangkat nilai budaya dari masa perjuangan, seperti suvenir dengan desain puisi Yoon Dongju, penyair yang dikenal melalui karya-karya perjuangan untuk kemerdekaan Korea.

Ada pula suvenir bertema hangeul, aksara Korea ciptaan Maharaja Sejong, yang menjadi simbol penting literasi dan kebanggaan bangsa.

Melalui ragam suvenir ini, Korea menunjukkan bagaimana sesuatu yang mungkin dianggap kuno dapat diolah menjadi karya modern yang indah dan bermanfaat.


margareth@korea.kr

*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Program Wartawan Kehormatan dijalankan oleh Korea.net di bawah Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata. Para anggotanya merupakan sukarelawan yang memperkenalkan berbagai hal tentang Korea kepada dunia dengan berperan sebagai jembatan budaya.

konten yang terkait