Penulis: Wartawan Kehormatan Maulia Resta Mardaningtias dari Indonesia
Foto: Maulia Resta Mardaningtias
Pada hari Senin (25/05/2026) penulis berkesempatan menghadiri Korean Culture Day (KCD) yang kembali digelar oleh Korean Cultural Center Indonesia (KCCI).
Kali ini acara mengusung tema "Dari Folklor ke Konten," sebuah gagasan yang menghubungkan unsur budaya tradisional dengan karya budaya populer saat ini.
Korean Culture Day sendiri merupakan salah satu upaya Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Korea untuk memperkenalkan budaya Korea kepada masyarakat dunia.
Melalui acara yang berlangsung di Aula Multifungsi KCCI, para peserta diajak membahas bagaimana drama dan webtun Korea menampilkan karakter-karakter dari folklor Korea.
Pemaparan mengenai berbagai karakter folklor Korea dalam berbagai konten modern dipandu oleh staf KCCI.
Acara dibuka dengan pemaparan singkat dari staf KCCI yang menjelaskan mengenai folklor Korea serta adaptasinya dalam berbagai drama, webtun, bahkan gim.
Konten modern seperti drama Korea memang kerap memasukkan unsur budaya tradisional, termasuk karakter folklor, ke dalam cerita dengan beragam genre seperti fantasi, romansa, hingga aksi.
Salah satu karakter yang paling sering muncul adalah gumiho, yaitu siluman rubah berekor sembilan. Umumnya gumiho digambarkan sebagai sosok perempuan cantik, tetapi dalam beberapa drama juga ditampilkan sebagai laki-laki dengan kekuatan gaib.
Selain itu, ada pula dokkaebi, yaitu makhluk mitologi yang dipercaya membawa keberuntungan dan identik dengan alat pentung khasnya.
Tak hanya itu, karakter folklor seperti dewa naga, dewa air, makhluk abadi, dan lainnya juga banyak yang diadaptasi ke dalam drama Korea.
Sebagai penikmat drama fantasi, kehadiran karakter folklor umumnya akan menambah intrik cerita. Tidak hanya menghadirkan kekuatan supernatural, tetapi juga memperkenalkan penonton pada unsur budaya Korea yang kaya akan makna.
Hal tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat drama Korea menjadi salah satu konten modern yang sangat baik untuk menjadi sarana pendidikan yang mengenalkan budaya Korea kepada masyarakat.
Potret salah satu peserta acara mengikuti aktivitas mewarnai karakter naga, salah satu karakter folklor Korea yang sering diadaptasi ke dalam konten drama Korea.
Setelah sesi pemaparan, acara dilanjutkan dengan aktivitas kreatif berupa mewarnai dan membuat gantungan kunci berbentuk karakter serta simbol Korea. Kegiatan ini menjadi pengalaman unik karena peserta diajak berkreasi menggunakan shrink paper, sejenis kertas khusus yang akan menyusut dan mengeras ketika dipanaskan.
Ketika memulai aktivitas, peserta terlebih dahulu memilih gambar karakter yang disediakan, kemudian menyalinnya ke shrink paper transparan. Lalu, dengan spidol akrilik atau pensil warna, mereka bebas mewarnai sesuai selera.
Setelah selesai, gambar digunting mengikuti bentuk karakter, lalu dipanaskan menggunakan alat khusus dengan bantuan staf KCCI. Proses pemanasan membuat kertas menyusut hingga seukuran gantungan kunci.
Untuk menjaga warna agar tetap awet, peserta juga menambahkan sedikit resin pada hasil karya mereka. Hasil dari kerajinan membuat gantungan kunci tersebut dapat dibawa pulang oleh para peserta.
Gumiho, siluman rubah berekor sembilan, menjadi salah satu karakter folklor Korea yang populer untuk dijadikan gantungan kunci oleh para peserta saat acara.
Rangkaian aktivitas ini tidak hanya menarik, tetapi juga mampu memperkaya wawasan peserta mengenai makhluk mitologi dalam budaya tradisional Korea.
Dengan cara yang interaktif, KCCI berhasil menghadirkan pengalaman belajar budaya yang lebih hidup sekaligus menunjukkan bagaimana folklor tetap relevan ketika diadaptasi ke dalam konten modern.
margareth@korea.kr
*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Program Wartawan Kehormatan dijalankan oleh Korea.net di bawah Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata. Para anggotanya merupakan sukarelawan yang memperkenalkan berbagai hal tentang Korea kepada dunia dengan berperan sebagai jembatan budaya.