Wartawan Kehormatan

2026.06.02

Membaca artikel ini dalam bahasa yang lain
  • 한국어
  • English
  • 日本語
  • 中文
  • العربية
  • Español
  • Français
  • Deutsch
  • Pусский
  • Tiếng Việt
  • Indonesian

Penulis: Wartawan Kehormatan Vivin Mujanah dari Indonesia

Lembaga-lembaga Korea yang dibuka di berbagai kota besar di Indonesia menyediakan pelatihan terkait budaya, bahasa, maupun seni bela diri.

Hwarang Korean Arts Academy (HKAA) berkolaborasi dengan King Sejong Institute (KSI) Surabaya menggelar Kunjungan Kelas Budaya Korea pada tanggal 20 Mei 2026 di Akademi HKAA, Surabaya.

Para peserta kelas tersebut dapat mempelajari cara penulisan kaligrafi hangeul di atas kipas sekaligus mencoba taekwondo langsung dari pakarnya.

Kegiatan penulisan kaligrafi hangeul dipandu oleh guru bahasa Korea KSI Surabaya, Asri Julianti, sedangkan sesi kelas taekwondo dipandu oleh Direktur HKAA, Hans Susanto.

Seluruh peserta dan guru berfoto bersama dengan kipas bertuliskan hangeul dalam Kunjungan Kelas Budaya Korea yang digelar pada tanggal 20 Mei 2026 di Akademi HKAA, Surabaya. (Humas HKAA)

Seluruh peserta dan guru berfoto bersama dengan kipas bertuliskan hangeul dalam Kunjungan Kelas Budaya Korea yang digelar pada tanggal 20 Mei 2026 di Akademi HKAA, Surabaya. (Humas HKAA)


Kelas dimulai dengan pengenalan singkat mengenai sejarah Korea, sejarah terciptanya hangeul, serta berbagai jenis huruf hangeul.

Peserta kemudian diberi bahan dan alat untuk membuat kaligrafi di atas kipas kertas tradisional khas Korea menggunakan spidol khusus dan menghiasnya dengan spidol warna-warni lain.

Selain itu, peserta juga mendapatkan kertas warna-warni untuk mencetak huruf Hangeul dan ditempel di kartu ucapan yang telah disediakan.

Peserta juga diberi contoh kata-kata yang bisa ditulis di atas kipas dan di tempel di atas kertas tersebut. Namun, bagi peserta pun diizinkan untuk berkreasi dengan kata-kata pilihan mereka sendiri.

Dalam sesi ini penulis juga hadir sebagai peserta untuk berkreasi menggunakan kalimat "Mari Berbahagia Setiap Hari" di atas kipas dan "Mari Terus Bersemangat" di atas kartu ucapan.

Foto penulis saat berkreasi membuat kartu ucapan bertuliskan hangeul dalam Kunjungan Kelas Budaya Korea pada tanggal 20 Mei 2026 di Akademi HKAA, Surabaya. (Humas HKAA)

Foto penulis saat berkreasi membuat kartu ucapan bertuliskan hangeul dalam Kunjungan Kelas Budaya Korea pada tanggal 20 Mei 2026 di Akademi HKAA, Surabaya. (Humas HKAA)


Dalam sesi wawancara usai kelas tersebut, Asri menjelaskan bahwa kunci utama belajar bahasa Korea adalah membiasakan diri langsung dengan hangeul, bukan bergantung pada ejaan huruf Korea menggunakan huruf Alfabet.

Untuk pembelajaran bahasa Korea sendiri, Asri pun mengungkapkan bahwa mimpi dan tujuan pembelajaran sangat penting agar motivasi belajar tidak hilang.

Hasil karya kaligrafi hangeul di atas kipas yang penulis buat dalam Kunjungan Kelas Budaya Korea pada tanggal 20 Mei 2026 di Akademi HKAA, Surabaya. (Vivin Mujanah)

Hasil karya kaligrafi hangeul di atas kipas yang penulis buat dalam Kunjungan Kelas Budaya Korea pada tanggal 20 Mei 2026 di Akademi HKAA, Surabaya. (Vivin Mujanah)


Dalam pengalamannya selama ini mengajar bahasa Korea, Asri mengungkapkan bahwa tantangannya terletak pada kurangnya latihan para pemelajar bahasa Korea karena mereka hanya belajar di kelas.

Ia pun berpesan bahwa dalam mempelajari bahasa Korea tidak boleh merasa cepat puas kalau sudah bisa karena bahasa itu adalah ilmu yang tidak akan berhenti.

Dua orang instruktur taekwondo dari HKAA memberikan contoh gerakan tendangan dalam sesi kelas taekwondo di Kunjungan Kelas Budaya Korea yang digelar pada tanggal 20 Mei 2026 di Akademi HKAA, Surabaya. (Humas HKAA)

Dua orang instruktur taekwondo dari HKAA memberikan contoh gerakan tendangan dalam sesi kelas taekwondo di Kunjungan Kelas Budaya Korea yang digelar pada tanggal 20 Mei 2026 di Akademi HKAA, Surabaya. (Humas HKAA)


Dalam sesi taekwondo, kelas dipandu oleh Hans Susanto didampingi dua instruktur lainnya yakni Alfa Maulana Ibrahim dan Darta. Mereka mengenalkan konsep dasar seni bela diri taekwondo kepada peserta dimulai dari cara berdiri hingga distribusi keseimbangan tubuh.

Kelas diawali dengan pemanasan dan peregangan tubuh, kemudian belajar cara pasang kuda-kuda dan belajar menendang secara bertahap.

Menurut para instruktur, inti dari bela diri bukan sekadar tendangan atau pukulan, melainkan cara seseorang mampu mengontrol gerak tubuhnya sendiri. Mereka juga menekankan bahwa siapa pun dapat mulai belajar taekwondo tanpa batas usia tertentu.

Hal ini secara tidak langsung menjadi penyemangat bagi peserta untuk tidak takut dalam memulai belajar seni bela diri seperti taekwondo.

Hans Susanto saat sesi wawancara dengan penulis usai Kunjungan Kelas Budaya Korea yang digelar pada tanggal 20 Mei 2026 di Akademi HKAA, Surabaya. (Vivin Mujanah)

Hans Susanto saat sesi wawancara dengan penulis usai Kunjungan Kelas Budaya Korea yang digelar pada tanggal 20 Mei 2026 di Akademi HKAA, Surabaya. (Vivin Mujanah)


Hans mengungkapkan bahwa kegiatan kunjungan kelas budaya Korea yang diadakan HKAA ini bertujuan untuk memperluas dukungan HKAA sebagai Korean Center di Surabaya. Ia pun menambahkan bahwa HKAA dibentuk melalui dedikasi terhadap taekwondo dan hapkido.

"Dojang kami berada di bawah naungan Vincentius Yoyok Suryadi, pendiri Hapkido Indonesia. Kami berafiliasi dengan organisasi taekwondo dan hapkido nasional maupun internasional," lanjut Hans.

Ia menambahkan antusiasme peserta menjadi energi positif selama acara berlangsung. “Setiap peserta, bahkan pelatih-pelatih kami pun sangat senang,” tambah Hans.

Rany Ineke (Kanan) dan Revano Ahmad Briansyah (kiri) memberikan kesan dan pesan mereka usai Kunjungan Kelas Budaya Korea yang digelar pada tanggal 20 Mei 2026 di Akademi HKAA, Surabaya. (Vivin Mujanah)

Rany Ineke (Kanan) dan Revano Ahmad Briansyah (kiri) memberikan kesan dan pesan mereka usai Kunjungan Kelas Budaya Korea yang digelar pada tanggal 20 Mei 2026 di Akademi HKAA, Surabaya. (Vivin Mujanah)


Suksesnya acara ini terlihat dari antusiasme peserta yang terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Salah satunya adalah Rany Ineke yang mengaku tertarik mengikuti kegiatan karena menyukai drama Korea.

Dalam kegiatan ini, Rany mengaku paling menyukai sesi menulis hangeul di atas kipas karena memberinya pengalaman baru mengenal budaya Korea secara langsung. Sementara itu, Revano Ahmad Briansyah, justru lebih tertarik pada sesi kelas taekwondo.

Antusiasme ini tak terlihat hanya dari peserta, para guru, panitia, dan pelatih juga merasakan suasana berbeda dalam kegiatan kolaboratif tersebut.


margareth@korea.kr

*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Program Wartawan Kehormatan dijalankan oleh Korea.net di bawah Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata. Para anggotanya merupakan sukarelawan yang memperkenalkan berbagai hal tentang Korea kepada dunia dengan berperan sebagai jembatan budaya.

konten yang terkait