Penulis: Wartawan Kehormatan Annisa Alifadhila dari Indonesia
Foto: Annisa Alifadhila
Sebagai salah satu cabang King Sejong Institute (KSI) di Indonesia, KSI Korean Cultural Center Indonesia (KSI KCCI) kembali menggelar Kompetisi Menulis Bahasa Korea KSI KCCI 2026. Kompetisi tersebut merupakan agenda tahunan yang diperuntukkan bagi para pemelajar bahasa Korea di KSI.
Berbeda dengan format tahun-tahun sebelumnya, kali ini KSI KCCI tidak mengadakan kompetisi berbicara. Sebanyak 15 orang terdaftar menjadi peserta lomba menulis yang diadakan pada 22 Mei 2026 di Multifunctional Hall, KCCI.
Layar proyektor yang menampilkan poster Kontes Menulis Bahasa Korea KSI KCCI 2026.
Kompetisi dimulai dengan ketentuan membuat naskah sepanjang 600–1.200 karakter dalam waktu 50 menit. Tema naskah ditentukan secara acak, antara "Bahasa Korea di Hidupku" atau "Alasanku Belajar Bahasa Korea."
Penulis yang pada hari itu juga hadir sebagai peserta lomba pun berkesempatan mewawancarai So Ran yang berhasil meraih juara pertama.
- Silakan perkenalkan diri Anda.
Nama saya So Ran. Saya merupakan penikmat musik pop Korea yang saat ini banyak melatih kemampuan bahasa Korea, menyanyi, dan menari. Sudah sekitar tiga setengah tahun saya belajar bahasa Korea dan saat ini saya merupakan murid kelas 4A di KSI KCCI.
- Bagaimana akhirnya Anda memutuskan untuk ikut Kompetisi Menulis Bahasa Korea KSI KCCI 2026?
Saya mengetahui informasi tentang kompetisi tersebut dari media sosial KCCI. Saya tertarik pada salah satu tema yang dilombakan, yaitu "Alasanku Belajar Bahasa Korea." Saya menyukai tema itu karena terasa dekat dengan saya. Saya pun memutuskan untuk ikut kompetisi untuk merealisasikan ide yang muncul di kepala saya ke dalam bentuk tulisan.
- Berapa lama waktu yang Anda butuhkan untuk persiapan?
Saya sudah menyiapkan naskah yang ingin saya lombakan sekitar 1–2 minggu sebelum hari kompetisi. Kemudian, naskah itu saya mantapkan kembali di satu hari sebelum lomba. Untuk strategi, hal yang paling penting bagi saya adalah menjaga mood untuk menulis agar apa yang ditulis bisa mengalir secara natural.
- Apa bagian tersulit saat menyusun tulisan dalam bahasa Korea?
Saya merasa masih punya kekurangan dalam menjaga alur tulisan agar tetap natural dalam bahasa Korea. Untuk mengatasi itu, saya berkali-kali mengecek dan merevisi naskah saya sampai saya merasa bahasa dan alurnya sudah nyaman untuk dibaca. Beruntung, tema yang sedari awal saya inginkan keluar sebagai hasil undian yang saya ambil. Saya juga berhasil menuliskan lebih dari 800 karakter dalam waktu 30 menit.
Salah satu tema lomba yang diundi, yaitu "Bahasa Korea di Hidupku."
- Bagaimana perasaan Anda saat diumumkan sebagai pemenang pertama?
Awalnya, saya merasa gugup. Terlebih lagi, isi naskah yang saya tulis adalah hal-hal yang saya anggap personal. Namun, ketika nama saya dipanggil sebagai pemenang pertama, saya merasa senang dan bangga. Rasanya seperti saya berhasil menyampaikan ketulusan dalam tulisan saya kepada orang lain (para juri.)
- Menurut Anda, faktor apa yang membuat tulisan Anda unggul?
Bagi saya, itu adalah ketulusan dalam cerita. Saya tidak menuliskan hal-hal teknis yang bisa ditulis oleh robot, tetapi saya membawa cerita yang bersifat dekat dengan saya.
So Ran (kiri) menerima papan penghargaan juara pertama yang diberikan oleh Direktur KCCI, Lee Sang Jun (kanan.)
- Apa pesan Anda untuk orang lain yang ingin mengikuti lomba menulis bahasa Korea ke depannya?
Bagi teman-teman yang ingin berpartisipasi dalam kompetisi serupa, saya sangat menyarankan agar banyak membaca. Bukan hanya membaca literatur bahasa Korea, tetapi juga literatur dalam bahasa lainnya. Karena selain kemampuan berbahasa Korea, kemampuan untuk menyampaikan cerita dengan natural benar-benar penting. Tujuannya adalah agar kita dapat menyusun cerita dengan pesan yang tersampaikan dengan baik, sekaligus membangun emosi dengan para penikmat tulisan kita.
margareth@korea.kr
*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Program Wartawan Kehormatan dijalankan oleh Korea.net di bawah Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata. Para anggotanya merupakan sukarelawan yang memperkenalkan berbagai hal tentang Korea kepada dunia dengan berperan sebagai jembatan budaya.