Wartawan Kehormatan

2026.05.15

Membaca artikel ini dalam bahasa yang lain
  • 한국어
  • English
  • 日本語
  • 中文
  • العربية
  • Español
  • Français
  • Deutsch
  • Pусский
  • Tiếng Việt
  • Indonesian

Penulis: Wartawan Kehormatan Annisa Alifadhila dari Indonesia
Foto: Annisa Alifadhila

Saat mendengar nama Pulau Jeju, ada berbagai keindahan alam dan memori sejarah yang bisa langsung terlintas di pikiran. Mulai dari pegunungan vulkaniknya, hamparan lautan yang memukau, sampai kehidupan masyarakatnya yang kaya akan budaya.

Namun, di balik semua keindahan natural dan kekayaan sejarah itu, Pulau Jeju memiliki wajah lain yang juga ingin diperkenalkan ke seluruh dunia. Dua di antaranya adalah Peristiwa Jeju 4.3 (Insiden Pemberontakan Jeju pada tanggal 3 April 1948).

Arsip mengenai peristiwa tersebut pada April 2025 telah diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Ingatan Dunia. Selain itu, haenyeo (penyelam wanita) pun sudah sepuluh tahun ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO.

Secara singkat, Jeju 4.3 adalah tragedi pemberontakan bersenjata dan pembantaian massal warga sipil di Pulau Jeju yang terjadi antara tahun 1947 hingga 1954. Nama 4.3 sendiri merujuk pada tanggal 3 April 1948 yang menjadi puncak pecahnya pemberontakan bersenjata di pulau itu.

Sedangkan haenyeo adalah sebutan untuk para wanita penyelam tradisional yang menyelam untuk mencari hasil laut (ikan, kerang, gurita) tanpa menggunakan alat bantu pernafasan hingga ke kedalaman 10-20 meter.

Yang Seong-hong sedang membagikan kisah Jeju 4.3 yang ia lalui kepada pendengar di Main Atrium KOREA 360, Jakarta.

Yang Seong-hong sedang membagikan kisah Jeju 4.3 yang ia lalui kepada pendengar di Main Atrium KOREA 360, Jakarta.


Dengan tujuan yang sama untuk memperkenalkan sisi lain Jeju, Pemerintah Provinsi Jeju bersama Korean Cultural Center Indonesia (KCCI) menyelenggarakan sebuah temu wicara bersama Yang Seong-hong sebagai Wakil Ketua Komite Pelaksana Jeju 4.3 dan Moon Young-wol selaku Ketua Haenyeo Desa Nelayan Bukchon untuk membagikan pengalaman mereka kepada para pendengar di Indonesia.

Acara tersebut digelar pada Selasa (12/05/2026) di Main Atrium KOREA 360 Jakarta dan dihadiri oleh lebih dari 50 orang peserta.

Temu wicara diawali dengan kisah Yang. Ia lahir pada tahun 1947 dan mengalami sendiri bagaimana mencekamnya suasana saat Peristiwa Jeju 4.3. Ia menyebutkan bahwa keadaan di Jeju benar-benar kacau hingga ia dan keluarganya harus mengungsi ke atas Gunung Hallasan.

Keterbatasan informasi membuat ia dan keluarganya terlambat mengetahui berbagai hal, termasuk nasib tragis ayah dan kakeknya yang meninggal di penjara. Setelah mendapat kabar bahwa jenazah kakeknya berada di Penjara Gwangju, mereka ingin segera mengambilnya. Namun, akibat adanya Perang Korea (1950–1953), jenazah tersebut baru dapat dipulangkan pada 1994.

Dalam sesi tanya jawab, penulis sempat menanyakan bagaimana Yang bisa melewati hari-hari yang berat tersebut, juga bagaimana perasaannya saat ia mendengar kabar tentang ayah dan kakeknya.

Ia menjawab bahwa keterbatasan di saat itu membuatnya harus merelakan keluarga yang telah tiada. Sampai saat ini pun, ia belum berhasil menemukan sisa peninggalan ayahnya yang pada saat itu dikabarkan dibawa ke penjara di daerah Daejeon.

Dengan kehilangan keluarga di usianya yang begitu muda, Yang tidak memiliki banyak memori tentang ayah dan kakeknya. Setiap kali Yang bertanya tentang ayah dan kakeknya, ibunya hanya bisa menjawab, "Lihat saja ke cermin karena wajahmu mirip dengan ayah dan kakekmu."

Arsip Peristiwa Jeju 4.3 yang ditampilkan dalam pameran Jeju: Pulau Kenangan, Lautan Kehidupan.

Arsip Peristiwa Jeju 4.3 yang ditampilkan dalam pameran Jeju: Pulau Kenangan, Lautan Kehidupan.


Selanjutnya, Moon membagikan ceritanya kepada pada pendengar. Moon lahir pada tahun 1954 dan mulai belajar menyelam di usia 13. Pada saat itu, anak laki-laki lebih diutamakan untuk bisa bersekolah setinggi-tingginya sehingga ibu Moon memintanya menjadi haenyeo setelah ia menamatkan pendidikan di sekolah dasar.

Setelah puluhan tahun menjadi seorang haenyeo, Moon menganggap profesi tersebut sangat mulia dan memuaskan. Dari pekerjaannya, ia berhasil membesarkan dan menyekolahkan satu anak laki-laki dan dua anak perempuan.

Pada sesi tanya jawab, Moon turut menceritakan beberapa kesulitan yang dihadapi sebagai seorang haenyeo. Dahulu, para haenyeo harus menyelam dengan menggunakan pakaian katun tipis yang menyerupai pakaian mereka sehari-hari.

Dengan pakaian tersebut, mereka hanya mampu menyelam sekitar satu jam demi keselamatan mereka sendiri. Terlebih lagi, kegiatan menyelam akan makin sulit jika cuaca mulai memasuki musim dingin.

Beruntung, baju renang haenyeo sudah mengalami evolusi signifikan yang memungkinkan mereka menggunakan baju renang khusus berbahan neoprena. Bahan sintesis tersebut dapat memberikan insulasi hangat sehingga para haenyeo dapat menyelam 3-4 jam lebih lama dari biasanya.

Baju menyelam haenyeo lama (kiri) dan baru (kanan) yang ditampilkan dalam pameran Jeju: Pulau Kenangan, Lautan Kehidupan.

Baju menyelam haenyeo lama (kiri) dan baru (kanan) yang ditampilkan dalam pameran Jeju: Pulau Kenangan, Lautan Kehidupan.


Selain temu wicara, terdapat pula pameran mengenai Jeju 4.3 dan haenyeo yang turut diresmikan setelah kegiatan temu wicara berlangsung.

Pameran bertajuk Jeju: Pulau Kenangan, Lautan Kehidupan diselenggarakan dengan tujuan agar para pengunjung bisa memahami Jeju dalam bentuk sejatinya secara lebih komprehensif. Pameran tersebut berlangsung pada tanggal 12-18 Mei 2026 di Main Atrium KOREA 360, Jakarta.

Para pejabat melakukan prosesi pemotongan pita untuk meresmikan pameran Jeju: Pulau Kenangan, Lautan Kehidupan.

Para pejabat melakukan prosesi pemotongan pita untuk meresmikan pameran Jeju: Pulau Kenangan, Lautan Kehidupan.



margareth@korea.kr

*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Program Wartawan Kehormatan dijalankan oleh Korea.net di bawah Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata. Para anggotanya merupakan sukarelawan yang memperkenalkan berbagai hal tentang Korea kepada dunia dengan berperan sebagai jembatan budaya.

konten yang terkait