Penulis: Wartawan Kehormatan Maulia Resta Mardaningtias dari Indonesia
Foto: Maulia Resta Mardaningtias
Simbol hewan dalam foklor Korea merupakan salah satu aspek budaya yang kaya makna dan terus menarik perhatian hingga kini. Salah satunya melalui karakter hewan harimau dan burung murai yang ditampilkan dalam film animasi KPop Demon Hunters. Kemunculan karakter tersebut terinspirasi dari lukisan rakyat Korea berjudul Hojakdo.
Pada Senin (30/03/2026), Korean Cultural Center Indonesia (KCCI) menyelenggarakan Korean Culture Day (KCD) dengan tema "Simbol Hewan dalam Foklor Korea." Acara ini menghadirkan Kim Seok-Ju sebagai pembicara.
Kim menjelaskan bahwa terdapat enam simbol hewan yang paling sering muncul dalam budaya Korea. Kehadiran hewan tersebut tidak hanya menjadi hiasan dalam cerita rakyat, lukisan rakyat, maupun peribahasa, melainkan memiliki makna yang mencerminkan nilai-nilai kehidupan masyarakat Korea.
Pembicara menguraikan makna simbol harimau yang populer ditemukan dalam berbagai cerita, lukisan, dan peribahasa Korea.
Simbol pertama adalah harimau. Dalam tradisi Korea, harimau dikenal sebagai 'raja gunung'. Ia melambangkan kekuatan, keberanian, kewibawaan, perlindungan, serta penolak bala. Harimau juga dianggap sebagai makhluk yang mengandung energi gunung dan menjadi pendamping roh gunung.
Harimau sering dijadikan simbol humor rakyat untuk menyindir otoritas. Kehadirannya dapat ditemukan dalam cerita rakyat Sang Matahari dan Sang Bulan sebagai sosok yang ditakuti maupun dalam lukisan rakyat Hojakdo sebagai pelindung.
Simbol berikutnya adalah Haetae atau Haechi, yaitu makhluk mitologis yang divisualisasikan menyerupai singa atau harimau dengan tanduk di kepala. Haetae digambarkan dengan tubuh kokoh dan ekspresi tegas.
Haetae mudah ditemukan di ruang publik, seperti di depan istana, kantor pemerintahan, atau tempat penting lainnya. Penempatan tersebut didasari oleh makna Haetae sebagai simbol keadilan, perlindungan, ketertiban, dan kesakralan.
Potret sapu tangan bermotif burung bangau yang menjadi simbol umur panjang dalam budaya Korea. Motif burung bangau pada masa Dinasti Joseon (1392-1910) dapat ditemukan pada pakaian resmi cendekiawan dan pejabat sebagai simbol integritas.
Naga juga menjadi simbol penting dalam budaya Korea. Berbeda dengan gambaran naga di Barat yang sering dianggap sebagai makhluk perusak, naga Korea dipandang sebagai sosok yang membawa hujan, menghubungkan langit dan bumi, serta memperkuat martabat negara dan kekuasaan raja.
Dalam cerita rakyat Shimcheong, naga digambarkan berdiam di kolam, sungai, atau lautan. Dalam drama Korea, naga kerap digambarkan sebagai makhluk yang dapat naik ke langit. Sementara itu, dalam lingkungan istana, motif naga banyak digunakan dalam arsitektur maupun pakaian raja sebagai lambang kekuasaan.
Burung murai adalah simbol yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Burung ini sering dijumpai di sekitar pemukiman masyarakat dan menjadi pasangan harimau dalam lukisan Hojakdo. Jika harimau melambangkan perlindungan, burung murai membawa kabar baik dan kebahagiaan kecil yang hadir di sekitar manusia.
Sesi kuis di penghujung materi memberikan kesempatan kepada beberapa peserta untuk mendapatkan suvenir Museum Nasional Korea.
Rubah menjadi simbol yang penuh ambiguitas. Dalam cerita rakyat The Fox Sister maupun dalam drama Korea, rubah digambarkan sebagai makhluk siluman yang mampu berubah wujud. Ia melambangkan kecerdikan, keindahan yang berbahaya, sekaligus peringatan agar manusia tidak mudah terpesona oleh penampilan luar semata.
Simbol terakhir adalah ular. Meski sering dianggap menakutkan, ular dalam budaya Korea juga melambangkan kebijaksanaan, misteri, daya kehidupan, dan pembaruan. Kompleksitas makna ini menunjukkan bagaimana masyarakat Korea melihat hewan bukan hanya dari sisi fisiknya, tetapi juga dari nilai filosofis yang terkandung.
Aktivitas sederhana membuat pin dan mewarnai berbagai simbol Korea dapat diikuti oleh para peserta seusai acara.
Melalui acara ini, penulis memahami bahwa hewan-hewan dalam foklor Korea tidak hanya dipandang sebagai makhluk nyata, tetapi juga sebagai simbol yang memuat pikiran dan perasaan masyarakat. Nilai-nilai seperti harmoni antara manusia dan alam, kedisiplinan, kedamaian, perlindungan, serta kebijaksanaan tercermin dalam simbol-simbol tersebut.
margareth@korea.kr
*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Wartawan Kehormatan merupakan komunitas masyarakat dunia yang menyukai Korea dan membagikan minat mereka terhadap Korea dalam bentuk tulisan.