Kebudayaan

2026.07.31

Denny Taegeukgi dapat dilihat di Galeri Kekaisaran Korea, National Museum of Korea, yang baru saja ditata ulang. Bendera tersebut merupakan Taegeukgi tertua sekaligus terbesar yang masih tersimpan di Korea. (Charles Audouin)

Denny Taegeukgi dapat dilihat di Galeri Kekaisaran Korea, Museum Nasional Korea, yang baru saja ditata ulang. Bendera tersebut merupakan Taegeukgi tertua sekaligus terbesar yang masih tersimpan di Korea. (Charles Audouin)



Penulis: Oh Jung Eun dan Charles Audouin

Pada akhirnya, Kekaisaran Korea memang mengalami kejatuhan. Namun, bukan berarti perjuangan yang dilakukan selama proses tersebut sama sekali tidak bermakna.

Galeri Kekaisaran Korea di Museum Nasional Korea kembali dibuka untuk umum pada tanggal 30 Juli 2026 setelah menjalani pembaruan. Pameran yang telah ditata ulang ini menyoroti dari berbagai perspektif upaya Kekaisaran Korea untuk mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatannya di tengah tekanan kuat kekuatan imperialis, sekaligus aspirasinya untuk melakukan modernisasi.

Raja Gojong, raja ke-26 Dinasti Joseon, memproklamasikan berdirinya Kekaisaran Korea pada tanggal 13 Oktober 1897. Namun, pada tahun 1910, Kekaisaran Korea kehilangan kedaulatannya kepada Jepang dan berakhir hanya 13 tahun setelah didirikan.

Pameran kali ini berfokus pada berbagai upaya Kekaisaran Korea untuk membangun negara yang merdeka dan berdaulat.

(Dari kiri ke kanan, searah jarum jam) pedang seremonial untuk pakaian resmi bergaya Barat, potret Kaisar Gojong, dan eobo (segel kekaisaran) Kekaisaran Korea. (National Museum of Korea)

(Dari kiri ke kanan, searah jarum jam) pedang seremonial untuk pakaian resmi bergaya Barat, potret Kaisar Gojong, dan eobo (segel kekaisaran) Kekaisaran Korea. (Museum Nasional Korea)



Meski menempati ruang yang relatif kecil, Galeri Kekaisaran Korea yang terletak di lantai satu Museum Nasional Korea ditata secara efektif dengan sajian yang kaya. Begitu memasuki ruang pameran, pengunjung disambut tayangan berbasis kecerdasan buatan (AI) yang memenuhi dinding, menampilkan kerumunan orang mengenakan setelan dan pakaian bergaya Barat, trem yang melintasi pusat kota, serta pemandangan Hanseong (kini Seoul) yang dengan cepat bertransformasi menjadi kota modern. Adegan pergulatan diplomatik yang sengit pada masa itu menghadirkan kesan seolah-olah pengunjung tengah berdiri di tengah pusaran sejarah lebih dari 120 tahun silam.

Artefak pertama yang menarik perhatian di pintu masuk ruang pameran adalah eosae, atau segel kekaisaran yang digunakan untuk mengesahkan titah kaisar. Segel tersebut secara jelas menunjukkan status Kekaisaran Korea. Berbeda dengan segel kerajaan pada masa Dinasti Joseon yang pegangannya berbentuk kura-kura, pegangan segel kekaisaran ini diukir berbentuk naga, simbol kaisar. Detail tersebut mencerminkan tekad Raja Gojong untuk menegaskan status Kekaisaran Korea sebagai sebuah kekaisaran.

Sebuah lempeng perak yang ditemukan di bawah batu fondasi saat pembongkaran Gedung Pemerintahan Jenderal Jepang di Korea. (National Museum of korea)

Sebuah lempeng perak yang ditemukan di bawah batu fondasi saat pembongkaran Gedung Pemerintahan Jenderal Jepang di Korea. (Museum Nasional Korea)



Sejarah perlawanan terhadap agresi Jepang juga menjadi bagian penting dalam pameran ini. Denny Taegeukgi merupakan Taegeukgi yang dianugerahkan oleh Raja Gojong kepada Owen N. Denny, seorang warga Amerika Serikat yang pernah menjabat sebagai penasihat diplomatik Gojong. Bendera tersebut merupakan Taegeukgi tertua sekaligus terbesar yang masih tersimpan di Korea. Taegeukgi semakin dikenal luas oleh masyarakat setelah ditetapkan sebagai bendera nasional resmi pada masa Kekaisaran Korea. Bendera itu kemudian digunakan sebagai simbol perjuangan dalam gerakan kemerdekaan selama masa penjajahan Jepang dan akhirnya menjadi lambang patriotisme.

Untuk pertama kalinya, pameran ini juga menampilkan sebuah lempeng perak yang ditemukan di bawah batu fondasi saat pembongkaran Gedung Pemerintahan Jenderal Jepang di Korea, yang pernah menjadi pusat pemerintahan kolonial Jepang.

Kurator Museum Nasional Korea, Lim Hyekyung, dalam acara pratinjau media pada tanggal 30 Juli 2026 mengatakan, "Kami memamerkannya dengan harapan agar sejarah kelam pada masa penjajahan Jepang tidak dilupakan."

Direktur Jenderal Museum Nasional Korea, You Hong June, mengatakan, "Karena Kekaisaran Korea berakhir dengan hilangnya kedaulatan negara, selama ini kita cenderung kurang mengapresiasi Kekaisaran Korea."

Ia menegaskan, "Mengingat upaya Kekaisaran Korea dalam mempersiapkan diri menghadapi perubahan zaman atas inisiatifnya sendiri merupakan proses penting untuk memahami dengan tepat awal sejarah modern Korea."

Pemandangan interior Galeri Kekaisaran Korea. (National Museum of Korea)

Pemandangan interior Galeri Kekaisaran Korea. (Museum Nasional Korea)


cloveroh@korea.kr



konten yang terkait