Kebudayaan

2026.04.10

Di tengah krisis jurang demografis yang semakin mengakar, terdeteksi sinyal harapan yang kecil namun jelas. Jumlah kelahiran pada tahun 2025 berhasil kembali meningkat dengan kenaikan 6,8% dibandingkan tahun 2024. Korea.net akan menyoroti secara mendalam, dalam tiga bagian, kebijakan pemerintah terkini yang mendorong perubahan berarti dalam tren angka kelahiran ultra-rendah, serta budaya kelahiran khas Korea.


Pada tanggal 7 April 2026 sebuah keluarga wisatawan asing mengamati perkembangan gendongan bayi dari masa lalu hingga kini dalam pameran khusus Happy Birthday yang digelar di Museum Nasional Rakyat Korea di Jongno-gu, Seoul. Secara tradisional, Korea mengembangkan budaya eobuba, yakni menggendong bayi di punggung menggunakan podaegi—kain berlapis tebal dengan tali panjang. Berbeda dengan praktik di Barat yang umumnya menggendong bayi di bagian depan, metode pengasuhan tradisional Korea ini memiliki karakteristik unik yang memperkuat kedekatan antara ibu dan anak.

Pada tanggal 7 April 2026 sebuah keluarga wisatawan asing mengamati perkembangan gendongan bayi dari masa lalu hingga kini dalam pameran khusus Happy Birthday yang digelar di Museum Nasional Rakyat Korea di Jongno-gu, Seoul. Secara tradisional, Korea mengembangkan budaya eobuba, yakni menggendong bayi di punggung menggunakan podaegi—kain berlapis tebal dengan tali panjang. Berbeda dengan praktik di Barat yang umumnya menggendong bayi di bagian depan, metode pengasuhan tradisional Korea ini memiliki karakteristik unik yang memperkuat kedekatan antara ibu dan anak.



Penulis: Hong Angie
Foto: Park Daejin

Saat lebih dari 250.000 bayi lahir setiap tahun dan tangisan kehidupan baru kembali menghidupkan masyarakat, pameran khusus bertajuk Happy Birthday yang digelar di Museum Nasional Rakyat Korea menghadirkan makna yang kian mendalam.

Pameran ini mengajukan pertanyaan tentang makna hakiki kehidupan yang perlu kita pulihkan hari ini, dengan menelusuri kearifan leluhur yang memandang kelahiran bukan sekadar peristiwa keluarga, melainkan perayaan komunitas. Berbagai artefak yang ditampilkan di seluruh ruang pameran memperlihatkan secara utuh budaya kelahiran khas Korea beserta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Tradisi memasang tali jerami (geumjul) di gerbang rumah, menyiapkan sup rumput laut (miyeokguk) bagi ibu setelah melahirkan, hingga ketulusan mendalam yang tercermin dalam penulisan "Cheonin Cheonjamun" oleh seribu orang—semua itu menunjukkan besarnya makna kelahiran dalam masyarakat. Nilai-nilai tersebut kini berlanjut dalam bentuk baru, seperti pusat perawatan pascapersalinan dan komunitas pengasuhan anak.

Pada tanggal 7 April 2026, geumjul—tradisi kelahiran tradisional Korea—dipamerkan dalam pameran khusus Kelahiran, Happy Birthday yang digelar di Museum Nasional Rakyat Korea di Jongno-gu, Seoul.

Pada tanggal 7 April 2026, geumjul—tradisi kelahiran tradisional Korea—dipamerkan dalam pameran khusus Kelahiran, Happy Birthday yang digelar di Museum Nasional Rakyat Korea di Jongno-gu, Seoul.



Cabai Merah dan Arang Hitam: "Geumjul", Tanda Batas Sakral

Saat seorang anak lahir, masyarakat Korea memasang geumjul di pintu gerbang rumah. Tali jerami ini dihiasi cabai merah untuk anak laki-laki dan arang hitam untuk anak perempuan, lalu digantung selama 21 hari guna membatasi secara ketat akses orang luar.

Lebih dari sekadar penanda kelahiran, geumjul berfungsi sebagai batas sakral yang dipercaya menangkal energi negatif dari luar. Tradisi ini juga mencerminkan kearifan leluhur yang secara praktis melindungi ibu dan bayi yang masih rentan secara imunologis.

Berbeda dengan shimenawa di Jepang atau pita di pintu dalam budaya Barat yang umumnya bermakna perayaan, geumjul di Korea merepresentasikan "larangan" sebagai mekanisme sosial—sebuah komitmen komunitas untuk melindungi kehidupan baru.

Perlengkapan yang digunakan dalam persalinan tradisional ini dipamerkan dalam pameran Happy Birthday di Museum Nasional Rakyat Korea, Seoul. Di sisi kiri terlihat samshinsang—hidangan berisi nasi dan miyeokguk (sup rumput laut) yang dipersembahkan kepada Samshin, dewa kelahiran—serta alas jerami untuk bayi dan alat tradisional yang digunakan untuk memotong tali pusar.

Perlengkapan yang digunakan dalam persalinan tradisional ini dipamerkan dalam pameran Happy Birthday di Museum Nasional Rakyat Korea, Seoul. Di sisi kiri terlihat samshinsang—hidangan berisi nasi dan miyeokguk (sup rumput laut) yang dipersembahkan kepada Samshin, dewa kelahiran—serta alas jerami untuk bayi dan alat tradisional yang digunakan untuk memotong tali pusar.



Mengapa Orang Korea Mengonsumsi Sup Rumput Laut Setelah Melahirkan?

Hidangan sup rumput laut sederhana di salah satu sudut ruang pameran menjadi simbol perawatan pascapersalinan di Korea. Konon, tradisi ini bermula dari pengamatan terhadap paus yang memakan rumput laut untuk memulihkan luka setelah melahirkan. Dari sinilah rumput laut kemudian diberikan kepada ibu yang baru melahirkan.

Rumput laut kaya akan yodium dan kalsium, yang secara medis terbukti membantu kontraksi rahim serta pemurnian darah. Di negara-negara Barat, asupan seperti steak atau sayuran kerap dianjurkan untuk pemulihan nutrisi. Namun di Korea, tradisi "hangat" tetap dipertahankan melalui hidangan berkuah untuk pemulihan tubuh. Praktik ini mencerminkan nilai khas Korea, yakni jeong, dalam merawat ibu setelah melahirkan dengan penuh ketulusan.

Baegil jeogori yang dipamerkan dalam pameran khusus Happy Birthday di Museum Nasional Rakyat Korea.

Baegil jeogori yang dipamerkan dalam pameran khusus Happy Birthday di Museum Nasional Rakyat Korea.



Harapan Panjang Umur dan Kesehatan dalam "Baegil Jeogori"

Baegil jeogori—pakaian yang dikenakan bayi saat berusia 100 hari—dibuat tanpa kerah dan penutup depan, dengan jahitan seminimal mungkin. Hal ini mencerminkan harapan orang tua agar jalan hidup sang anak kelak berjalan tanpa hambatan.

Secara khusus, baenaet jeogori (pakaian pertama bayi saat lahir) yang dipamerkan menyimpan jejak sentuhan tangan, seolah merekam doa dan harapan tulus keluarga bagi keberlangsungan hidup sang anak.

Tradisi ini terus berlanjut dan tetap dicintai sebagai hadiah kelahiran yang bermakna.

Jejak Solidaritas Keibuan yang Melampaui Zaman

Solidaritas antarperempuan yang mengubah ketakutan dalam menyambut kehidupan baru menjadi keberanian telah diwariskan lintas generasi. Pada awal 1900-an, surat-surat pudar dari seorang ibu kepada putrinya yang telah menikah berisi nasihat berdasarkan pengalaman serta kasih sayang yang mendalam. Memasuki era buku panduan pengasuhan pada 2000-an, hingga kini, bagian akhir pameran dihiasi oleh komunitas ibu dan ruang obrolan grup di dalam ponsel pintar. Curahan kegelisahan dalam mengasuh anak, serta pesan-pesan saling membantu, menjadi "buku panduan hidup" versi modern sekaligus "surat seorang ibu" di era digital.

Pada tanggal 7 April 2026 para pengunjung asing terlihat sedang melihat-lihat pameran perlengkapan pengasuhan modern dalam pameran Happy Birthday di Museum Nasional Rakyat Korea, Jongno-gu, Seoul.

Pada tanggal 7 April 2026 para pengunjung asing terlihat sedang melihat-lihat pameran perlengkapan pengasuhan modern dalam pameran Happy Birthday di Museum Nasional Rakyat Korea, Jongno-gu, Seoul.



Pameran tersebut mengangkat kelahiran bukan sekadar angka, melainkan momen lahirnya kehidupan. Pameran ini akan berlangsung hingga tanggal 10 Mei 2026. Informasi lebih lanjut mengenai pameran dapat diakses melalui laman resmi Museum Nasional Rakyat Korea.

shong9412@korea.kr

konten yang terkait