Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Ekonomi dan Keuangan, Koo Yun Cheol, terlihat sedang bertemu dengan para duta besar dari enam negara anggota GCC—Uni Emirat Arab (UEA), Arab Saudi, Qatar, Kuwait, Oman, dan Bahrain—di kediaman Duta Besar UEA di Seoul pada tanggal 3 April 2026. (Kementerian Ekonomi dan Keuangan)
Penulis: Kim Seon Ah
Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Ekonomi dan Keuangan, Koo Yun Cheol, membahas dampak ekonomi akibat memburuknya situasi di Timur Tengah serta langkah-langkah untuk menjaga stabilitas pasokan energi bersama para duta besar negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) di Korea.
Menurut Kementerian Ekonomi dan Keuangan pada tanggal 5 April 2026, Wakil PM Koo bertemu dengan para duta besar dari enam negara anggota GCC—Uni Emirat Arab (UEA), Arab Saudi, Qatar, Kuwait, Oman, dan Bahrain—di kediaman Duta Besar UEA di Seoul pada tanggal 3 April 2026.
Dalam pertemuan tersebut, mereka meninjau dampak berkepanjangannya konflik di Timur Tengah, termasuk kenaikan harga minyak global, meningkatnya volatilitas pasar keuangan, serta ketidakstabilan rantai pasok global.
Kedua pihak menyatakan kekhawatiran bahwa meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz dapat memengaruhi pasokan minyak mentah dan LNG, serta harga barang-barang sehingga memicu perlambatan ekonomi global. Wakil PM Koo mengatakan bahwa sekitar 70% impor minyak Korea bergantung pada Timur Tengah dan sebagian besar melewati selat tersebut sehingga ada potensi guncangan ekonomi.
Kedua pihak sepakat untuk kerja sama guna memastikan pasokan stabil minyak mentah dan LNG serta menjaga stabilitas pasokan barang penting berdasarkan "kemitraan yang tidak tergoyahkan." Pihak GCC juga mengungkapkan akan menjalin komunikasi erat dengan Korea sebagai mitra utama.
Wakil PM Koo memaparkan rencana pemerintah Korea untuk meredam dampak ekonomi, termasuk langkah stabilisasi harga produk minyak, pemotongan pajak bahan bakar, perluasan pembiayaan kebijakan, serta pelaksanaan anggaran tambahan.
Kedua pihak juga sepakat untuk memperkuat kerja sama di sektor masa depan termasuk kecerdasan buatan (AI) dan industri pertahanan.
sofiakim218@korea.kr