Sci/Tekno

2026.03.23


Kementerian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Informasi mengumumkan pada tanggal 22 Maret 2026 bahwa tujuh peneliti Korea terpilih dalam program riset kolaborasi internasional di bidang ilmu hayati, Human Frontier Science Program (HFSP). (iClick Art) *Reproduksi dan pendistribusian ulang foto di atas secara tidak sah dilarang berdasarkan undang-undang hak cipta.

Kementerian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Informasi mengumumkan pada tanggal 22 Maret 2026 bahwa tujuh peneliti Korea terpilih dalam program riset kolaborasi internasional di bidang ilmu hayati, Human Frontier Science Program (HFSP). (iClick Art) *Reproduksi dan pendistribusian ulang foto di atas secara tidak sah dilarang berdasarkan undang-undang hak cipta.



Penulis: Kim Hyelin

Kementerian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Informasi mengumumkan pada tanggal 22 Maret 2026 bahwa tujuh peneliti Korea terpilih dalam program riset kolaborasi internasional di bidang ilmu hayati, Human Frontier Science Program (HFSP).

Didirikan pada tahun 1989, HFSP merupakan program pendanaan riset ilmu hayati bergengsi dunia yang telah melahirkan 31 peraih Hadiah Nobel. Tahun 2026, tiga peneliti Korea terpilih dalam program hibah (grant) dan masing-masing akan menerima dana penelitian sekitar 300.000 hingga 400.000 dolar per tahun selama tiga tahun. Selain itu, dua peneliti terpilih dalam kategori accelerator dan dua lainnya dalam program dukungan pelatihan.

Dalam kategori hibah, para peneliti akan memimpin riset kolaborasi internasional di berbagai bidang, mulai dari neurosains hingga ekologi dan paleontologi.

Kim Jinhyun, peneliti utama di Korea Institute of Science and Technology (KIST), akan bekerja sama dengan RIKEN Jepang dan Stanford University AS untuk mengembangkan teknologi generasi berikutnya dalam pengaturan sirkuit saraf yang mampu menekan sinaps aktif secara selektif.

Seo Tae-won, profesor di Hanyang University, akan melakukan penelitian ekologi bawah tanah berbasis robotika terhadap tikus tanah bersama Tel Aviv University di Israel.

Sementara itu, Lee Gil-ju, profesor di Pusan National University, akan berkolaborasi dengan University of Oxford di Inggris untuk mengungkap prinsip optik pada struktur mata trilobit guna mengembangkan teknologi pencitraan berbasis biomimetik.

Dalam kategori accelerator, Kim Jae-Kyung dari KAIST dan Yoon Hye-Jin dari UNIST terpilih untuk bergabung dalam tim riset yang sudah ada. Kim akan meneliti model matematika penyebaran virus melalui kutu dalam kondisi perubahan iklim, sedangkan Yoon akan mengkaji jalur biokimia pembentukan sinyal ketakutan melalui pendekatan metabolomik.

Sementara itu, dalam program dukungan pelatihan, Tae Hyunhyuk dan Han Dae Hee terpilih untuk menjalani riset lanjutan di bidang ilmu hayati di Yale University dan University of California, San Diego, AS.

kimhyelin211@korea.kr

konten yang terkait