Wartawan Kehormatan

2026.10.07

Membaca artikel ini dalam bahasa yang lain
  • 한국어
  • English
  • 日本語
  • 中文
  • العربية
  • Español
  • Français
  • Deutsch
  • Pусский
  • Tiếng Việt
  • Indonesian

Penulis: Wartawan Kehormatan Maulia Resta Mardaningtias dari Indonesia

Pada hari Minggu (19/10/2025) penulis berkesempatan mengunjungi Museum Sistem Penulisan Dunia yang terletak di Yeonsu-gu, Kota Incheon. Museum yang mulai beroperasi pada bulan Juni 2023 tersebut menelusuri perjalanan panjang sistem tulisan dan peradaban manusia melalui pameran tetapnya.

Tampak luar Museum Sistem Penulisan Dunia memiliki desain arsitektur menyerupai gulungan kertas bertajuk Pages yang dipilih melalui kompetisi internasional pada tahun 2017. (Museum Sistem Penulisan Dunia)

Tampak luar Museum Sistem Penulisan Dunia memiliki desain arsitektur menyerupai gulungan kertas bertajuk "Pages" yang dipilih melalui kompetisi internasional pada tahun 2017. (Museum Sistem Penulisan Dunia)


Sebagai satu-satunya museum di Korea yang sepenuhnya didedikasikan untuk sistem tulisan, tempat ini menawarkan beragam pengalaman bagi pengunjung, mulai dari pameran tetap, pameran khusus, museum daring berbasis realitas virtual, hingga berbagai kegiatan edukatif lainnya.

Melalui artikel ini, penulis menyoroti hal-hal menarik yang dapat ditemukan di museum, khususnya pada pameran tetap yang dikunjungi pada Minggu (19/10/2025).

Potret penulis berkunjung ke Museum Sistem Penulisan Dunia yang terletak di Incheon, Korea, pada Minggu (19/10/2025). (Maulia Resta Mardaningtias)

Potret penulis berkunjung ke Museum Sistem Penulisan Dunia yang terletak di Incheon, Korea, pada Minggu (19/10/2025). (Maulia Resta Mardaningtias)


Bertajuk "Peradaban dan Tulisan: Sebuah Perjalanan Besar," pameran tetap Museum Sistem Penulisan Dunia di Korea menyoroti perjalanan panjang sistem tulisan dan peradaban manusia dengan menampilkan beragam sistem tulisan, budaya, dan peradaban dari sudut pandang perbandingan kebudayaan.

Pameran tetap dibagi menjadi empat bagian utama, yaitu "Prolog: Sebuah Penemuan Besar," "Bagian 1: Sistem Tulisan untuk Membangun Jalan," "Bagian 2: Sistem Tulisan untuk Menciptakan Budaya," dan "Epilog."

Lantai satu museum diisi oleh toko museum, galeri anak, serta ruang pameran spesial. Dari sana pengunjung harus menuruni tangga melingkar menuju ruang pameran tetap yang terletak di lantai bawah.

Di bawah tangga, pengunjung akan melihat tumpukan pengeras suara yang menjulang tinggi bila dilihat dari bawah, tetapi dari atas tampak menyerupai sebuah sumur.

Potret instalasi Speaker Tower of Babel yang penulis ambil saat kunjungan ke Museum Sistem Penulisan Dunia pada Minggu (19/10/2025). (Maulia Resta Mardaningtias)

Potret instalasi "Speaker Tower of Babel" yang penulis ambil saat kunjungan ke Museum Sistem Penulisan Dunia pada Minggu (19/10/2025). (Maulia Resta Mardaningtias)


Tumpukan pengeras suara yang tampil estetis itu menarik perhatian banyak pengunjung hingga mereka rela mengantre untuk berfoto di tengah menara.

Namun, instalasi berjudul "Speaker Tower of Babel" memiliki deskripsi yang tak kalah menarik dari wujud visualnya.

Karya ini memadukan bunyi, cahaya, dan bentuk, sekaligus menafsirkan ulang mitos Babel sebagai simbol komunikasi, kerinduan manusia untuk mendekat kepada Tuhan, serta kritik terhadap zaman modern yang dipenuhi kebisingan.

Potret Tablet of Round Ark yang penulis ambil saat kunjungan ke Museum Sistem Penulisan Dunia pada Minggu (19/10/2025). (Maulia Resta Mardaningtias)

Potret "Tablet of Round Ark" yang penulis ambil saat kunjungan ke Museum Sistem Penulisan Dunia pada Minggu (19/10/2025). (Maulia Resta Mardaningtias)


Berjalan ke bagian pameran bertajuk "Bagian 1: Sistem Tulisan untuk Membangun Jalan," penulis menemukan beragam perkembangan sistem tulisan dari berbagai belahan dunia, seperti aksara paku, hieroglif Mesir, hingga hangeul Korea.

Bagian ini menjelaskan secara singkat sejarah sistem tulisan dan perannya dalam membentuk peradaban manusia. Meski manusia tersebar di berbagai wilayah, masing-masing menciptakan atau mengadopsi sistem tulisan yang sesuai dengan lingkungan dan kebutuhan mereka.

Salah satu yang dipamerkan adalah "Tablet of Round Ark" yang berisi Epik Atrahasis dalam tulisan paku Akkadia, salah satu catatan tertua tentang cerita bencana banjir besar dan penyelamatan lewat kapal yang muncul di berbagai budaya kuno.

Potret replika dokumen Jangnyeol Wanghu Gukjangdogam Uigwe yang penulis abadikan melalui kunjungan ke Museum Sistem Penulisan Dunia pada Minggu (19/10/2025). (Maulia Resta Mardaningtias)

Potret replika dokumen Jangnyeol Wanghu Gukjangdogam Uigwe yang penulis abadikan melalui kunjungan ke Museum Sistem Penulisan Dunia pada Minggu (19/10/2025). (Maulia Resta Mardaningtias)


Dari berbagai sistem penulisan dunia yang ditampilkan di museum, hangeul menempati posisi istimewa sebagai aksara Korea yang lahir relatif baru dalam sejarah. Pengunjung dapat menelusuri sejarah perkembangan hangeul, satu-satunya sistem tulisan di dunia yang tujuan dan prinsip penciptaannya tercatat dengan jelas.

Hangeul diciptakan oleh Maharaja Sejong pada tahun 1443 dengan nama Hunminjeongeum, yang secara harfiah berarti "bunyi yang tepat untuk pengajaran rakyat." Penciptaan hangeul menjadi solusi atas kesulitan masyarakat Korea yang sebelumnya bergantung pada sistem penulisan asing, seperti hanja.

Salah satu dokumen yang dipamerkan adalah Jangnyeol Wanghu Gukjangdogam Uigwe, yaitu dokumen resmi dari Dinasti Joseon yang mencatat secara rinci proses pemakaman kenegaraan Ratu Jangnyeol, istri kedua Raja Injo.

Potret cetak logam Worin Cheongang Jigok yang penulis abadikan melalui kunjungan ke Museum Sistem Penulisan Dunia pada Minggu (19/10/2025). (Maulia Resta Mardaningtias)

Potret cetak logam Worin Cheongang Jigok yang penulis abadikan melalui kunjungan ke Museum Sistem Penulisan Dunia pada Minggu (19/10/2025). (Maulia Resta Mardaningtias)


Bagian pameran tetap berikutnya yang penulis kunjungi bertajuk "Bagian 2: Sistem Tulisan untuk Menciptakan Budaya" yang menyoroti bagaimana tulisan dan teknologi cetak mengubah masyarakat.

Saat memasuki ruang pameran, pengunjung disambut dengan replika alat cetak besar yang terbuat dari kayu dan terlihat antik bernama Gutenberg Press lengkap dengan penjelasan mengenai cara penggunaannya.

Hal menarik lain yang ditampilkan adalah cetak logam Worin Cheongang Jigok sebuah karya dari era Dinasti Joseon yang digunakan untuk mencetak lagu pujian Buddhis yang digubah Maharaja Sejong setelah hangeul diciptakan.

Potret buku kumpulan puisi Langit, Angin, Bintang, and Puisi karya penyair Yun Dong-ju, yang diterbitkan ulang untuk memperingati 70 tahun edisi pertamanya (1955) oleh Museum Buku dan Percetakan. (Maulia Resta Mardaningtias)

Potret buku kumpulan puisi Langit, Angin, Bintang, and Puisi karya penyair Yun Dong-ju, yang diterbitkan ulang untuk memperingati 70 tahun edisi pertamanya (1955) oleh Museum Buku dan Percetakan. (Maulia Resta Mardaningtias)


Penulis sendiri merasa terkesan dengan estetika cetak logam hangeul yang indah. Walau metode cetak logam kini dianggap sebagai tantangan besar, masih ada beberapa buku yang secara khusus dicetak dengan metode tersebut, seperti buku kumpulan puisi Langit, Angin, Bintang, and Puisi karya penyair Yun Dong-ju yang diterbitkan ulang untuk memperingati 70 tahun edisi pertamanya (1955) oleh Museum Buku dan Percetakan.

Potret instalasi pameran yang menampilkan beragam media yang menjadi wadah sistem penulisan dunia. Foto ini penulis abadikan melalui kunjungan ke Museum Sistem Penulisan Dunia pada Minggu (19/10/2025). (Maulia Resta Mardaningtias)

Potret instalasi pameran yang menampilkan beragam media yang menjadi wadah sistem penulisan dunia. Foto ini penulis abadikan melalui kunjungan ke Museum Sistem Penulisan Dunia pada Minggu (19/10/2025). (Maulia Resta Mardaningtias)


Menuju akhir pameran tetap, pengunjung dapat melihat beragam media tulis yang digunakan masyarakat dunia serta bagaimana media tersebut berkembang dari masa ke masa.

Dari seluruh media tulis yang ditampilkan, kertas berbahan tumbuhan menjadi medium paling umum dan masih digunakan hingga kini.

Terdapat salah satu keterangan yang menuliskan bahwa di era digital sekarang ketika buku kertas semakin digantikan oleh perangkat elektronik, ukuran pengetahuan tidak lagi ditentukan oleh tebalnya sebuah buku, melainkan oleh volume data yang tersimpan.

Potret karya berjudul From Alpha to Hieut karya seniman Ahn Sang-soo yang penulis abadikan melalui kunjungan ke Museum Sistem Penulisan Dunia pada Minggu (19/10/2025). (Maulia Resta Mardaningtias)

Potret karya berjudul "From Alpha to Hieut" karya seniman Ahn Sang-soo yang penulis abadikan melalui kunjungan ke Museum Sistem Penulisan Dunia pada Minggu (19/10/2025). (Maulia Resta Mardaningtias)


Di penghujung pameran tetap, pengunjung dapat melihat sebuah karya seni buatan seniman Ahn Sang-soo berjudul "From Alpha to Hieut." Karya ini menggambarkan perjalanan sistem penulisan dunia, dari alfa sebagai huruf Latin tertua hingga hieut sebagai huruf hangeul, aksara termuda di dunia.


margareth@korea.kr

*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Program Wartawan Kehormatan dijalankan oleh Korea.net di bawah Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata. Para anggotanya merupakan sukarelawan yang memperkenalkan berbagai hal tentang Korea kepada dunia dengan berperan sebagai jembatan budaya.

konten yang terkait