Wartawan Kehormatan

2026.09.28

Membaca artikel ini dalam bahasa yang lain
  • 한국어
  • English
  • 日本語
  • 中文
  • العربية
  • Español
  • Français
  • Deutsch
  • Pусский
  • Tiếng Việt
  • Indonesian

Penulis: Wartawan Kehormatan Amanda Larasati dari Indonesia
Foto: Amanda Larasati

Korea-Indonesia Connection (KIC) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) menyelenggarakan seminar akademik berjudul Broadening Academic Engagement on Korea through Multidisciplinary Approaches in Indonesia pada tanggal 17 September 2026 di FISIP UI, Depok. Acara ini turut didukung oleh Korea Foundation (KF) Jakarta Office.

Panelis, moderator, perwakilan FISIP UI, dan perwakilan lembaga Korea berfoto bersama pada seminar akademik KIC FISIP UI tanggal 17 September 2026 di FISIP UI, Depok.

Panelis, moderator, perwakilan FISIP UI, dan perwakilan lembaga Korea berfoto bersama pada seminar akademik KIC FISIP UI tanggal 17 September 2026 di FISIP UI, Depok.


Kajian Korea di Indonesia dinilai masih berfokus pada bidang bahasa, budaya, dan diplomasi budaya Korea. Oleh karena itu, seminar ini mengajak para akademisi, peneliti, dan pemangku kepentingan untuk berdiskusi mengenai upaya memperluas kajian Korea di Indonesia.

Seminar ini berlangsung dalam format diskusi panel dan menghadirkan tiga panelis, yaitu Getar Hati selaku Direktur Program KIC FISIP UI, Suray Agung Nugroho selaku dosen Prodi Bahasa dan Kebudayaan Korea Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Presiden The International Association of Korean Studies in Indonesia (INAKOS), serta Mochamad Alvin Dwiana Qobulsyah selaku dosen di Prodi Hubungan Internasional Universitas Bina Nusantara (BINUS) dan peneliti di Korean Peninsula Research Cluster (KPRC).

Diskusi dipandu oleh Ratih Indraswari yang merupakan Asisten Profesor di Departemen Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan.

Potret panelis dan moderator dari kiri ke kanan: Getar Hati, Suray Agung Nugroho, Mochamad Alvin Dwiana Qobulsyah, dan Ratih Indraswari pada seminar akademik KIC FISIP UI tanggal 17 September 2026 di FISIP UI, Depok.

Potret panelis dan moderator dari kiri ke kanan: Getar Hati, Suray Agung Nugroho, Mochamad Alvin Dwiana Qobulsyah, dan Ratih Indraswari pada seminar akademik KIC FISIP UI tanggal 17 September 2026 di FISIP UI, Depok.


Acara dibuka dengan sambutan-sambutan dari perwakilan FISIP UI dan lembaga mitra.

Hendriyani selaku Wakil Dekan FISIP UI dalam sambutannya berharap diskusi tatap muka seperti ini dapat mendorong kolaborasi antara UI dan rekan-rekan universitas lainnya untuk mengembangkan kajian Korea di Indonesia.

Hendriyani selaku Wakil Dekan FISIP UI menyampaikan kata sambutan dalam pembukaan seminar akademik KIC FISIP UI tanggal 17 September 2026 di FISIP UI, Depok.

Hendriyani selaku Wakil Dekan FISIP UI menyampaikan kata sambutan dalam pembukaan seminar akademik KIC FISIP UI tanggal 17 September 2026 di FISIP UI, Depok.


Sementara itu, Lee Sanghoon selaku Direktur KF Jakarta Office menuturkan kajian Korea di Indonesia tidak hanya dapat dipelajari dari bidang bahasa, sastra, dan budaya.

Ia mengungkapkan meskipun bidang tersebut telah membangun landasan studi Korea di Indonesia selama bertahun-tahun, kajian Korea di Indonesia juga perlu diperluas ke aspek lainnya seperti ekonomi, politik, teknologi, transformasi digital, hingga perubahan demografi.

Lee Sanghoon selaku Direktur KF Jakarta Office menyampaikan kata sambutan dalam seminar akademik KIC FISIP UI tanggal 17 September 2026 di FISIP UI, Depok.

Lee Sanghoon selaku Direktur KF Jakarta Office menyampaikan kata sambutan dalam seminar akademik KIC FISIP UI tanggal 17 September 2026 di FISIP UI, Depok.


Senada dengan pernyataan Lee, Chung Hae Kwan selaku Minister Kedutaan Besar Republik Korea di Indonesia mengungkapkan perluasan kajian Korea di Indonesia ke berbagai bidang seperti ekonomi, bisnis, politik, sosial, dan teknologi dapat semakin mempererat hubungan bilateral antara Korea dan Indonesia.

Chung berharap di masa depan Indonesia dapat menjadi pusat utama studi Korea di Asia Tenggara.

Ia juga menyampaikan komitmen Kedutaan Besar Republik Korea di Indonesia untuk terus mendukung kolaborasi akademik bagi pengembangan studi Korea di Indonesia.

Chung Hae Kwan selaku Minister Kedutaan Besar Republik Korea di Indonesia menyampaikan kata sambutan dalam seminar akademik KIC FISIP UI tanggal 17 September 2026 di FISIP UI, Depok.

Chung Hae Kwan selaku Minister Kedutaan Besar Republik Korea di Indonesia menyampaikan kata sambutan dalam seminar akademik KIC FISIP UI tanggal 17 September 2026 di FISIP UI, Depok.


Sesi pertama adalah pemaparan dari Getar Hati. Getar dalam pemaparannya menyampaikan peran kemitraan antara KIC FISIP UI dan lembaga-lembaga terkait untuk mendorong kajian Korea di Indonesia.

Getar mengungkapkan bahwa KIC FISIP UI bertujuan untuk mewujudkan kolaborasi akademik dan budaya antara Korea dan Indonesia, membangun pengertian bersama, dan mendorong kerja sama yang berkelanjutan melalui dialog dan kemitraan inovatif.

Getar menyebutkan beberapa program kerja sama antara KIC FISIP UI dengan universitas dan lembaga mitra Korea, seperti konferensi akademik, kuliah umum, publikasi buku dan jurnal, karyawisata, serta pengabdian masyarakat.

Getar Hati menjelaskan beberapa program KIC FISIP UI pada seminar akademik KIC FISIP UI tanggal 17 September 2026 di FISIP UI, Depok.

Getar Hati menjelaskan beberapa program KIC FISIP UI pada seminar akademik KIC FISIP UI tanggal 17 September 2026 di FISIP UI, Depok.


"Melalui kegiatan-kegiatan seperti seminar akademik, program magang, mobilitas internasional yang diselenggarakan oleh KIC FISIP UI, mahasiswa dapat meningkatkan wawasan akademik dan budaya, jejaring internasional, serta kolaborasi antardisiplin ilmu," imbuh Getar.

Getar menambahkan KIC FISIP UI tidak hanya memperkuat jaringan akademik dan budaya antara Korea dan Indonesia melalui kegiatan formal tetapi juga nonformal. Sebagai contoh, beberapa waktu yang lalu KIC FISIP UI mengajak mahasiswa Korea untuk merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia dengan berbagai perlombaan dalam rangka proyek pengabdian masyarakat di sebuah rusunawa di Jakarta.

Getar mengungkapkan KIC FISIP UI memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada para akademisi, peneliti, dan mahasiswa untuk mengirimkan opini atau esai terkait isu-isu tentang Korea ke situs KIC FISIP UI sebagai upaya untuk mendukung publikasi karya tulis.

Suray Agung Nugroho menunjukkan proyek buku INAKOS tentang pengalaman para Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Korea pada seminar akademik KIC FISIP UI tanggal 17 September 2026 di FISIP UI, Depok.

Suray Agung Nugroho menunjukkan proyek buku INAKOS tentang pengalaman para Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Korea pada seminar akademik KIC FISIP UI tanggal 17 September 2026 di FISIP UI, Depok.


Sesi kedua dilanjutkan dengan pemaparan dari Suray Agung Nugroho. Suray membahas tentang perkembangan studi Korea di Indonesia serta peran INAKOS dalam memperkuat kajian Korea di Indonesia.

Ia mengemukakan bahwa salah satu tantangan terbesar bagi studi Korea di Indonesia adalah kurangnya sumber daya manusia (SDM) pengajar dan peneliti studi Korea di Indonesia.

"Meskipun sudah banyak lulusan studi Korea dari UI, UGM, UPI, UNAS ataupun jurusan lain seperti hubungan internasional, jumlah ini masih belum sebanding dengan kebutuhan tenaga kerja. Kebanyakan dari lulusan tersebut juga lebih tertarik untuk langsung bekerja setelah lulus daripada melanjutkan studi untuk menjadi akademisi," ujar Suray.

Selain itu, menurut Suray jumlah program studi Korea di Indonesia masih kalah dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya seperti Thailand dan Vietnam. Di Indonesia sendiri, program studi Korea baru ada di UI, UGM, UPI, dan UNAS.

Suray mengungkapkan INAKOS adalah salah satu langkah untuk memperkuat studi Korea di Indonesia dengan mengakomodasi akademisi dan peneliti kajian Korea dari berbagai minat yang berbeda.

Sama seperti KIC FISIP UI, Suray mengatakan program-program INAKOS meliputi konferensi internasional, seminar akademik, penelitian, publikasi ilmiah, dan kolaborasi akademik.

Salah satu hal yang menarik perhatian penulis adalah INAKOS mengajak para Pekerja Migran Indonesia (PMI) untuk berkontribusi menuliskan perjalanan dan pengalaman mereka bekerja di Korea. Kisah-kisah ini diterbitkan oleh INAKOS menjadi sebuah buku.

Selain kebutuhan SDM untuk memperkuat studi Korea di Indonesia, Suray juga menekankan pentingnya membuka paradigma para akademisi dan peneliti untuk memperluas kajian Korea ke ranah lain misalnya geopolitik, demografi, hingga transformasi digital.

Mochamad Alvin Dwiana Qobulsyah menyampaikan pengaruh media terhadap hubungan Korea dan Indonesia pada seminar akademik KIC FISIP UI tanggal 17 September 2026 di FISIP UI, Depok.

Mochamad Alvin Dwiana Qobulsyah menyampaikan pengaruh media terhadap hubungan Korea dan Indonesia pada seminar akademik KIC FISIP UI tanggal 17 September 2026 di FISIP UI, Depok.


Di sesi terakhir, Mochamad Alvin Dwiana Qobulsyah memaparkan tentang peran media untuk mendorong hubungan Korea dan Indonesia.

Mochamad menyarankan tiga aspek untuk memperkuat kerja sama media antara Korea dan Indonesia.

Aspek pertama adalah pelaporan timbal balik yaitu media Korea melaporkan tentang isu-isu di Indonesia, dan sebaliknya media Indonesia melaporkan tentang isu-isu di Korea. Menurut Mochamad, hal ini penting agar kedua negara dapat saling bertukar informasi secara berimbang.

Aspek kedua adalah pemeriksaan dan koreksi. Mochamad menghimbau para jurnalis dapat bekerja sama untuk memverifikasi informasi yang diterima seperti memeriksa terjemahan ataupun sumber informasi guna mencegah penyebaran berita palsu.

Aspek terakhir adalah evaluasi pemahaman publik terhadap isi berita yang disampaikan dan prasangka. Menurut Mochamad, media juga perlu memastikan masyarakat yang mengonsumsi berita tersebut benar-benar memahami konten berita secara akurat dan dapat menghindari stereotipe terhadap negara yang diberitakan.

Suasana seminar semakin interaktif dengan partisipasi dari para peserta. Antusiasme peserta terhadap topik terlihat dari banyaknya pertanyaan dan tanggapan yang diajukan kepada narasumber. Diskusi ini memberikan kesempatan kepada peserta dari berbagai latar belakang untuk berpikir kritis.


margareth@korea.kr

*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Program Wartawan Kehormatan dijalankan oleh Korea.net di bawah Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata. Para anggotanya merupakan sukarelawan yang memperkenalkan berbagai hal tentang Korea kepada dunia dengan berperan sebagai jembatan budaya.

konten yang terkait