Wartawan Kehormatan

2026.09.22

Membaca artikel ini dalam bahasa yang lain
  • 한국어
  • English
  • 日本語
  • 中文
  • العربية
  • Español
  • Français
  • Deutsch
  • Pусский
  • Tiếng Việt
  • Indonesian

Penulis: Wartawan Kehormatan Maulia Resta Mardaningtias dari Indonesia
Foto: Maulia Resta Mardaningtias

Di Indonesia, budaya Korea tidak lagi hanya sebatas musik ataupun drama, tetapi juga mencakup literatur. Di toko buku Indonesia kini dapat ditemukan beragam novel Korea dalam berbagai genre yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, salah satunya Dallergut: Toko Penjual Mimpi karya Lee Miye.

Dengan mengusung genre healing fiction, buku ini bercerita tentang sebuah desa yang hanya bisa dikunjungi dalam tidur. Tempat paling populer di desa itu adalah Dallergut, sebuah toko ajaib yang mengumpulkan dan menjual segala macam mimpi.

Pada hari Jumat (18/09/2026), penulis berkesempatan hadir dalam acara bertajuk Diskusi Buku: Mimpi, Harapan, dan Kehidupan di Dallergut yang diselenggarakan oleh Korean Cultural Center Indonesia (KCCI) di Aula Multifungsi KCCI.

Melalui acara ini, KCCI menghadirkan Karima Hasna Shofia selaku editor fiksi Penerbit BACA, serta Meita Eryanti selaku penanggung jawab kemitraan dan komunitas Buibu Baca Buku (BBB) sebagai narasumber.

Korean Cultural Center Indonesia (KCCI) mengadakan Diskusi Buku: Mimpi, Harapan, dan Kehidupan di Dallergut pada Jumat (18/09/2026) di Aula Multifungsi KCCI.

Korean Cultural Center Indonesia (KCCI) mengadakan Diskusi Buku: Mimpi, Harapan, dan Kehidupan di Dallergut pada Jumat (18/09/2026) di Aula Multifungsi KCCI.


Acara diskusi dibuka dengan sesi perkenalan narasumber. Dari sekian banyak buku Korea yang telah dialihbahasakan ke dalam Bahasa Indonesia, Penerbit Bentang Aksara Cahaya (BACA) tercatat telah menerbitkan 20 judul, termasuk Dallergut: Toko Penjual Mimpi serta sejumlah karya Han Kang, penulis Korea yang meraih Penghargaan Nobel Sastra tahun 2024.

Sementara itu, komunitas Buibu Baca Buku (BBB) hadir sebagai representasi pembaca. Komunitas ini bertujuan memberdayakan perempuan Indonesia, khususnya para ibu, melalui literasi dan keterampilan berpikir kritis dalam jejaring komunitas yang suportif.

Pada tahun 2025 BBB bahkan berkolaborasi dengan Literature Translation Institute of Korea (LTI Korea) untuk mengadakan Korean Literature Review Competition and Discussion Series 2025.

Penerbit Bentang Aksara Cahaya (BACA) menjelaskan perjalanannya yang telah menerbitkan sebanyak 20 judul buku Korea sejak pendiriannya pada tahun 2016.

Penerbit Bentang Aksara Cahaya (BACA) menjelaskan perjalanannya yang telah menerbitkan sebanyak 20 judul buku Korea sejak pendiriannya pada tahun 2016.


Setelah perkenalan, acara berlanjut ke sesi bincang yang dipandu moderator. Diskusi ini mengulik sudut pandang penerbit maupun pembaca yang penulis rangkum melalui obrolan mengenai buku Dallergut: Toko Penjual Mimpi.

T: Mengapa Penerbit BACA tertarik menerbitkan Dallergut: Toko Penjual Mimpi di Indonesia?

Sejak berdiri pada 2016, BACA aktif mencari karya sastra Korea untuk diterbitkan. Ketika menemukan Dallergut: Toko Penjual Mimpi, BACA melihat sisi lain dari sastra Korea dari sebuah cerita dengan premis unik tentang toko penjual mimpi. Berbeda dengan karya Han Kang yang intens dan emosional, cerita tentang toko yang memperjualbelikan mimpi menawarkan kisah hangat, imajinatif, dan menenangkan.

T: Bagaimana komunitas pembaca melihat karya Lee Miye ini?

Pembaca dalam komunitas BBB merasa kisah dalam buku tersebut mudah membuat pembaca merasa terhubung, terutama bagi masyarakat kota. Cerita para pelanggan toko mimpi mencerminkan permasalahan sehari-hari yang dekat dengan kehidupan pembaca.

T: Apakah penerbit sempat kaget dengan perbedaan nuansa dibanding karya Han Kang?

Justru saat itu genre healing fiction belum banyak dikenal di Indonesia sehingga BACA melihat kesempatan untuk memperkenalkannya melalui Dallergut: Toko Penjual Mimpi.

T: Adakah tantangan dalam proses penerbitan?

Karima menyebut peran penerjemah sangat krusial. Membawa budaya Korea ke pembaca Indonesia membutuhkan jembatan bahasa yang mampu menjaga nuansa asli sekaligus terasa natural. Meski dunia fantasi dalam buku ini sangat imajinatif, tema mimpi tetap universal sehingga bisa diterima lintas budaya.

Dari kiri ke kanan: Meita Eryanti, penanggung jawab kemitraan dan komunitas Buibu Baca Buku (BBB); Karima Hasna Shofia, editor fiksi Penerbit BACA; dan staf KCCI selaku moderator dalam acara Diskusi Buku: Mimpi, Harapan, dan Kehidupan di Dallergut (18/09/2026) di KCCI.

Dari kiri ke kanan: Meita Eryanti, penanggung jawab kemitraan dan komunitas Buibu Baca Buku (BBB); Karima Hasna Shofia, editor fiksi Penerbit BACA; dan staf KCCI selaku moderator dalam acara Diskusi Buku: Mimpi, Harapan, dan Kehidupan di Dallergut (18/09/2026) di KCCI.


T: BBB pernah mengangkat buku Dallergut: Toko Penjual Mimpi dalam diskusi bertajuk Beyond Fangirling! From K-Pop to Impact! Bagaimana awal mula ide tersebut muncul?

Meita menjelaskan bahwa ide ini muncul karena banyak relawan BBB yang berasal dari generasi Z dan aktif dalam fandom K-pop. Ketika sebuah idola menyebut membaca Dallergut: Toko Penjual Mimpi, rasa penasaran pun muncul dan akhirnya buku ini dijadikan bahan diskusi yang tidak hanya diperuntukkan membahas buku, tetapi juga menyoroti bagaimana K-pop dapat membawa dampak positif lebih luas dalam kehidupan penggemarnya.

T: Bagaimana penerbit memastikan nuansa dunia Dallergut: Toko Penjual Mimpi tetap terjaga dalam terjemahan?

Karima menekankan bahwa gaya penceritaan sastra Korea memiliki pola khas. Dengan bantuan penerjemah berpengalaman, BACA berusaha menjaga agar terjemahan tetap terasa Korea, tetapi tetap natural bagi pembaca Indonesia.

T: Bagaimana antusiasme pembaca Indonesia terhadap novel Dallergut?

Karima menyebut bahwa sejak diterbitkan pada 2021, novel seri pertama Dallergut: Toko Penjual Mimpi sudah mencapai cetakan kesembilan hingga kesepuluh pada tahun 2025. Respon pembaca sangat positif, terutama karena genre healing fiction memberi ruang untuk beristirahat sejenak dari kerasnya realita.

T: Bagaimana komunitas BBB menanggapi tema mimpi dan harapan dalam buku ini?

Meita menuturkan bahwa anggota BBB, baik ibu-ibu maupun generasi muda, menyukai kisah fantasi yang bisa membuat mereka merasa terhubung. Kisah-kisah di dalamnya terasa dekat dengan kehidupan masyarakat perkotaan, sehingga pembaca bisa menemukan refleksi diri di dalamnya.


margareth@korea.kr

*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Program Wartawan Kehormatan dijalankan oleh Korea.net di bawah Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata. Para anggotanya merupakan sukarelawan yang memperkenalkan berbagai hal tentang Korea kepada dunia dengan berperan sebagai jembatan budaya.

konten yang terkait